In-House Training Save Our River

66740 medium post 71224 ade83390 e2e8 4e70 8f29 dacc3f3a0ba7 2019 07 14t23 47 06.575 07 00 66741 medium post 71224 820d3d02 4590 4830 8b72 8761dfa14ffb 2019 07 14t23 47 07.385 07 00
14 Jul
Merawat Sungai, Menjaga Bumi Tetap Lestari, dan Melanjutkan Peradaban Air adalah elemen penting yang tidak bisa dilepaskan dari setiap sendi-sendi kehidupan di muka bumi ini. Menjaga ketersediaan dan kelayakan air adalah tugas manusia untuk menjaga keberlangsungan hidupnya dan seluruh makhluk hidup lain. Air yang bersih adalah indikator masyarakat yang sehat, dan indikator air konsumsi rumahan adalah kualitas air di sungai. Sejarah telah mencatat bahwa banyak kerajaan dan peradaban maju dimulai dari daerah bantaran sungai. Mesir kuno misalnya. Peradaban Mesir kuno menggantungkan hidupnya dari sungai Nil, salah satu sungai terpanjang di dunia. Sungai Nil memiliki peranan penting dalam peradaban, kehidupan, dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satu sumbangsih sungai Nil adalah kemampuannya dalam menghasilkan tanah subur sebagai hasil sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) –nya. Tanah yang subur ini memungkinkan penduduk Mesir mengembangkan pertanian dan peradaban sejak ribuan tahun lalu. Sebagai gambaran bahwa suatu daerah aliran sungai dapat dikatakan masih baik apabila : - Debit sungai konstan dari tahun ke tahun - Kualitas air baik dari tahun ke tahun - Fluktuasi anara debit maksimum dan minimum kecil - Ketinggian muka air tanah konstan dari tahun ke tahun Sungai Beji yang terdapat di desa Siraman saat ini masuk dalam kategori tercemar atas banyaknya limbah pabrik yang dibuang dan atau dialirkan secara langsung ke sungai. Hal ini tentunya menimbulkan pelbagai macam problematika kompleks bagi seluruh makhluk hidup yang berada di sungai,bantaran sungai, dan daerah sekitar sungai. Dari mulai aroma busuk yang ditimbulkan oleh limbah yang bercampur dengan sampah, Semakin berkurangnya ragam biota sungai yang tentunya merugikan sebagian masyarakat yang menjadikan ikan sungai sebagai bahan konsumsi harian, hingga tercemarnya sumur resapan penduduk di sekitar sungai. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan baru bagi penduduk di sekitar sungai Beji Siraman, Adakah hal ini berlangsung terus-menerus tanpa sanggup kita rubah dan hentikan? Pada hari Sabtu dan Minggu, 13-14 Juli 2019, Rumah Belajar Rakyat (RBR) bersama dengan Atma Go, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Water Forum, Forum Komunikasi Winongo Asri, Pemuda Pancasila, Karang Taruna Siraman dan para tokoh masyarakat mengadakan in-house training sebagai pemantik dan pemicu awal untuk mengkampanyekan sungai bersih untuk kehidupan yang lebih lestari. Kegiatan ini diawali materi tentang pengelolaan DAS di Yogyakarta oleh Forum Komunikasi Winongo Asri. “Upaya yang dilakukan untuk melestarikan sungai yaitu konservasi, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya air. Pentingnya menata pemukiman daerah pinggiran sungai juga merupakan hal yang penting sehingga dapat dipergunakan sebagai pengoptimalan ruang gerak jika suatu saat ada keadaan urgent.” Endang Rohjiani – Forum Komunikasi Winongo Asri Kegiatan lalu berlanjut dengan pemaparan materi Biotilik sebagai cara untuk menentukan tingkat kesehatan lingkungan sungai. Metode ini menggunakan biota sungai sebagai indikasi sungai tersebut masih sehat atau sudah tercemar. Materi yang disampaikan oleh Wahidatul dari Water Forum ini menegaskan bahwa Biotilik dapat dilakukan oleh siapa pun bahkan dengan mata telanjang. Meniliki kualitas air sungai bahkan dapat dilihat dari warna air sungai tanpa harus menggunakan peralatan khusus. Agenda selanjutnya yaitu membentuk suatu forum sebagai wadah aspirasi dan wahana bertukar pikiran tentang upaya yang akan dilakukan sebagai bentuk keberpedulian masyarakat sekitar dalam hal mengembalikan sungai menjadi asri dan sehat, seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu. FOKASSI, Forum Komunikasi Sungai Siraman terbentuk dengan tujuan untuk mengembalikan fungsi dan keadaan sungai menjadi seperti sedia kala. Forum ini terbentuk atas inisiasi pelbagai organisasi dan tokoh masyarakat sekitar. Setelah melalui runtutan agenda selama dua hari, diharapkan dengan adanya FOKASSI, masyarakat dapat menikmati fungsi dan kebaikan alam, dalam hal ini sungai, sebagai sumber segala kehidupan di muka bumi ini. Panjang umur bumi Siraman! Panjang umur peradaban! Tetap membumi dan selalu lestari!
14 Jul 02:46 AM to

Detail Acara

Merawat Sungai, Menjaga Bumi Tetap Lestari, dan Melanjutkan Peradaban

Air adalah elemen penting yang tidak bisa dilepaskan dari setiap sendi-sendi kehidupan di muka bumi ini. Menjaga ketersediaan dan kelayakan air adalah tugas manusia untuk menjaga keberlangsungan hidupnya dan seluruh makhluk hidup lain. Air yang bersih adalah indikator masyarakat yang sehat, dan indikator air konsumsi rumahan adalah kualitas air di sungai. Sejarah telah mencatat bahwa banyak kerajaan dan peradaban maju dimulai dari daerah bantaran sungai. Mesir kuno misalnya. Peradaban Mesir kuno menggantungkan hidupnya dari sungai Nil, salah satu sungai terpanjang di dunia. Sungai Nil memiliki peranan penting dalam peradaban, kehidupan, dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satu sumbangsih sungai Nil adalah kemampuannya dalam menghasilkan tanah subur sebagai hasil sedimentasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) –nya. Tanah yang subur ini memungkinkan penduduk Mesir mengembangkan pertanian dan peradaban sejak ribuan tahun lalu. Sebagai gambaran bahwa suatu daerah aliran sungai dapat dikatakan masih baik apabila :
- Debit sungai konstan dari tahun ke tahun
- Kualitas air baik dari tahun ke tahun
- Fluktuasi anara debit maksimum dan minimum kecil
- Ketinggian muka air tanah konstan dari tahun ke tahun
Sungai Beji yang terdapat di desa Siraman saat ini masuk dalam kategori tercemar atas banyaknya limbah pabrik yang dibuang dan atau dialirkan secara langsung ke sungai. Hal ini tentunya menimbulkan pelbagai macam problematika kompleks bagi seluruh makhluk hidup yang berada di sungai,bantaran sungai, dan daerah sekitar sungai. Dari mulai aroma busuk yang ditimbulkan oleh limbah yang bercampur dengan sampah, Semakin berkurangnya ragam biota sungai yang tentunya merugikan sebagian masyarakat yang menjadikan ikan sungai sebagai bahan konsumsi harian, hingga tercemarnya sumur resapan penduduk di sekitar sungai. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan baru bagi penduduk di sekitar sungai Beji Siraman, Adakah hal ini berlangsung terus-menerus tanpa sanggup kita rubah dan hentikan?
Pada hari Sabtu dan Minggu, 13-14 Juli 2019, Rumah Belajar Rakyat (RBR) bersama dengan Atma Go, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Water Forum, Forum Komunikasi Winongo Asri, Pemuda Pancasila, Karang Taruna Siraman dan para tokoh masyarakat mengadakan in-house training sebagai pemantik dan pemicu awal untuk mengkampanyekan sungai bersih untuk kehidupan yang lebih lestari. Kegiatan ini diawali materi tentang pengelolaan DAS di Yogyakarta oleh Forum Komunikasi Winongo Asri.

“Upaya yang dilakukan untuk melestarikan sungai yaitu konservasi, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya air. Pentingnya menata pemukiman daerah pinggiran sungai juga merupakan hal yang penting sehingga dapat dipergunakan sebagai pengoptimalan ruang gerak jika suatu saat ada keadaan urgent.”
Endang Rohjiani – Forum Komunikasi Winongo Asri

Kegiatan lalu berlanjut dengan pemaparan materi Biotilik sebagai cara untuk menentukan tingkat kesehatan lingkungan sungai. Metode ini menggunakan biota sungai sebagai indikasi sungai tersebut masih sehat atau sudah tercemar. Materi yang disampaikan oleh Wahidatul dari Water Forum ini menegaskan bahwa Biotilik dapat dilakukan oleh siapa pun bahkan dengan mata telanjang. Meniliki kualitas air sungai bahkan dapat dilihat dari warna air sungai tanpa harus menggunakan peralatan khusus. Agenda selanjutnya yaitu membentuk suatu forum sebagai wadah aspirasi dan wahana bertukar pikiran tentang upaya yang akan dilakukan sebagai bentuk keberpedulian masyarakat sekitar dalam hal mengembalikan sungai menjadi asri dan sehat, seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu. FOKASSI, Forum Komunikasi Sungai Siraman terbentuk dengan tujuan untuk mengembalikan fungsi dan keadaan sungai menjadi seperti sedia kala. Forum ini terbentuk atas inisiasi pelbagai organisasi dan tokoh masyarakat sekitar. Setelah melalui runtutan agenda selama dua hari, diharapkan dengan adanya FOKASSI, masyarakat dapat menikmati fungsi dan kebaikan alam, dalam hal ini sungai, sebagai sumber segala kehidupan di muka bumi ini.

Panjang umur bumi Siraman!
Panjang umur peradaban!
Tetap membumi dan selalu lestari!
Sudah dilihat 19 kali

Komentar