Hujan Es Batu Landa Desa di Sigi Sulteng, Ini Penjelasan BMKG

2 0 195
Gambar untuk Hujan Es Batu Landa Desa di Sigi Sulteng, Ini Penjelasan BMKG
Desa Ranteleda, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) diguyur hujan es batu yang disertai angin kencang hari ini. BMKG pun memberikan penjelasan. 

Hujan es batu mengguyur sekitar pukul 15.30 Wita, Sabtu (7/9/2019). Salah seorang warga Desa Ranteleda, Oma Nante mengatakan bahwa hujan es batu diawali dengan hujan biasa, namun disertai dengan angin kencang.

"Pokoknya pas atap rumah bunyi seperti dilempar, kita keluar rumah semua ternyata ada butiran es batu yang jatuh," tutur Oma Nante.

Oma Nante mengatakan, sebagian warga pun khawatir rumahnya rusak akibat derasnya hujan es batu itu. Namun, kata dia, sebagian warga lainnya berharap hujan es batu akan membawa berkah.

"Kalau anak anak sih, bermain dengan butiran es batu, tapi kalau orang tua jelas ada merasa ketakutan rusak atap rumah, tapi Alhamdulilah sampai saat ini tidak ada kerusakan material," tuturnya.

BMKG kemudian penjelasan. BMKG menjelaskan hujan es batu terjadi akibat adanya pembentukkan awan konvektif di wilayah Paolo tersebut. Berdasarkan pengamatan citra satelit BMKG, suhu di atmosfer yang diduga awan konvektif yaitu sebesar -41°C s/d 48°C.

"Proses pembentukkan awan Konvektif ini terjadi mulai pada lapisan permukaan sampai pada ketinggian 10.519 Meter yang terbaca pada pengamatan Radiosonde pada Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis- Al Jufri Palu tanggal 7 September 2019 Pukul 08.00 Wita," ujar Tim Unit Analisa dan Pengolahan Data Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis-Al Jufri Palu, Affan Nugraha Diharsya.

Lebih lanjut, Affan menjelaskan bahwa pembentukkan awan pada wilayah tersebut diduga melewati tahap seposisi yang sangat dingin yaitu proses perubahan fasa air menjadi fasa es melewati temperatur suhu hingga -40°C. Sehingga, butiran Air yang seharusnya turun sebagai Hujan berubah menjadi butiran es.

"Proses pembentukan butiran Es ini didukung juga oleh kecepatan angin yang tidak terlalu kencang hingga lapisan 5.806 Meter berkisar 3-10 Knot. Kecepatan angin yang tidak terlalu kencang semakin mempermudah butiran air berubah menjadi butiran es dikarenakan oleh waktu tempuh butiran air menuju ke permukaaan tanah semakin lama sehingga butiran air tersebut mengalami proses pembekuan di dalam awan sehingga menurunkan butiran es," tuturnya.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Pray For Indonesia Januari 2021

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Klaten Utara, Klaten  |  17 Jan 2021
  2. Pray For Indonesia From Tangerang

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Cisauk, Tangerang Kabupaten  |  19 Jan 2021
  3. Terpilihnya Dhiyaur Ridho, Begini Harapan dan pendapat teman-teman IKAMALA Sidoarjo

    Zuria Qurrotul Aini  di  Brondong, Lamongan  |  21 Jan 2021

Komentar Terbanyak

  1. 2
    Komentar

    Pembukaan Beasiswa Banyuwangi Cerdas 2021

    Wisnu Artedjo  di  Banyuwangi  |  21 Jan 2021
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar

    Terpilihnya Dhiyaur Ridho, Begini Harapan dan pendapat teman-teman IKAMALA Sidoarjo

    Zuria Qurrotul Aini  di  Brondong, Lamongan  |  21 Jan 2021
  4. 2
    Komentar

    FGD Prioritasi Advokasi Dana Kelurahan Kota Surakarta

    Tina Dewi S  di  Surakarta Kota  |  15 Jan 2021