HPTN LAKUKAN ADVOKASI DEMI KEMAKMURAN PETANI NUSANTARA

30642 medium whatsapp image 2018 08 17 at 10.19.43
Kediri, 17 Agustus 2018
Detik-detik proklamasi yang berkumandang pada hari Jumat 17 Agustus 2018 seakan menjadi saat yang heroik bagi Himpunan Petani Tebu Nusantara untuk mendeklarasikan diri sebagai organ perjuangan guna mewujudkan Kesejahteraan bagi petani tebu di seluruh Nusantara. Ulang Tahun kemerdekaan ke 73 memang waktu yang telah dipilih dan disepakti oleh seluruh petani di kabupaten Kediri dan sekitarnya untuk mendeklarasikan diri. momen ini tepat karena menjadi momen untuk sekaligus memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. dimulai dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya sebanyak kurang lebih 60-70 petani terdiri dari perwakilan petani se kediri raya menandatangi pernyataan Deklarasi disebuah area persawahan di kecamatan Nggurah kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur.
Dalam Sambutanya Irawan Nusantara menyampaikan point peting diantaranya
" Pertama, Petani Tebu harus membuat sebuah wadah atau saluran yang bertujuan untuk memperjuangkan kesejahteraan. Forum ini alat untuk memulai gerakan advokasi oleh Petani terhadap seluruh kebijakan tentang pertanian tebu serta tatakelola perniagaan tebu dan gula yang selama ini telah merugikan petani. kedua, wadah yang telah dibentuk ini bersifat netral dan hanya satu tujuan yaitu memperjuankan kepentingan Petani " tegas pria yang pernah memperoleh penghargaan dari Kemenristek ini. deklarasi HPTN ini didasarkan pada kondisi dimana semakin lama petani yang ada di seluruh Nusantara khusunya di Kabupaten kediri terus mengalami kerugian. hal ini disebabkan diantaranya adalah adanya kebijakan dari pemerintah pusat terkait dengan impor gula yang kuotanya tidak disesuaikan dengan kebutuhan. sistem tata niaga gula tebu yang banyak diwarnai oleh banyak fihak yang menciptakan sistem monopoli harga sehingga petani menjadi fihak yang paling dirugikan. menurut Agus salah satu peserta deklarasi dari Desa Pagu kecamatan Wates " biaya tanam petani tebu mulai dari menanam sampai dengan panen sebesar kurang lebih 6-6,5 Juta untuk setiap cengkal seratus atau 60-70 RU sementara itu hasil dari penjualan tebu dengan kisaran perkwintal 40-50 ribu hanya berkisar sekitar 6-6,3 Juta, bisa dibanyangka petani dalam waktu setahun bekerja tidak memperoleh hasil " tegas Agus di sela-sela acara. keluh kesah soal susahnya menjadi petani tebu juga disampaikan oleh salah satu peserta dari kecamatan Gurah yang sangat mengharapkan kehadiran pemerintah untuk mensejahterkan petani " pejabat di Indonesia kui sepati karo mobil e Kinclong kinclong, tapi nek petani tebu nek Indonesia kui sing kinclong geger e " pejabat di Indonesia itu yang mengkilat sepatu dan mobilnya sementara itu kalau petani tebu di Indonesia yang mengkilat adalah punggungnya. pernyataan ini tentu belum cukup menggambarkan betapa terjadinya disparitas antara pejabat dan Petani di negeri ini tetapi cukup untuk membedakan kondisi kesejahterkaan pada lapisan masyarakat di Indonesia.
HPTN sendiri beberapa waktu yang lalu telah mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo, isi dari surat tersebut adalah supaya presiden dapat merespon kondisi penderitaan petani tebu nusantara di khususnya di kabupaten Kediri raya, dimana notabenya kediri merupakan penghasil Tebu dan Gula terbesar kedua di Jawa Timur sesudah kabupaten malang dengan total produksi sekitar 254.000 ton pada tahun 2014-2015 dengan jumlah ini tentu layak diperhitungkan karena petani tebu di Kediri ikut menjadi tulang punggung dari sistem ketahanan pangan nasional. jika produktifitas petani tebu menurun maka dipastikan akan mengancam ketersedian pangan di tanah air. tidak itu saja dengan jumlah petani sekitar 72 ribu orang di Kediri maka betul betul penting pemerintah untuk memikirkan kesehteraan petani terutama di Kediri Raya.
HPTN mendesak Pemerintah untuk menetapkan haraga beli tebu tahun ini sebesar Rp 70.000, harga ini dianggap realistis dimana Pabrik sebagai penyedia jasa olah gula dan para pedagang tebu sudah dapat untung. sementara itu petani dengan harga beli diatas 50 ribu dapat menghasilkan keuntungan meskipun tidak terlalu besar tetapi jauh lebih baik dari pada harga saat ini dimana harga saat ini di petani hanya kisaran 40 ribu, bahkan ada petani yang merelakan dibeli dengan harga 30 ribu karena kebutuhan yang mendesak.
selanjutnya Irawan Nusantara menyampaikan selain sebagai wahana untuk memperjuangkan petani dari kebijakan yang tidak berfihak Nantinya HPTN akan menjadi tempat untuk para petani bertukar informasi dan pengetahuan tentang bagaimana mengelola pertanian yang baik.
Karya Remaja
Sudah dilihat 140 kali

Komentar