Hari Kebebasan Pers Sedunia

25004 medium 1525413128180
Hello Atmaguys, mungkin banyak dari kalian yang belum tahu ya kalau ternyata hari bersejarah di bulan Mei bukan hanya Hari Buruh dan Hari Pendidikan nasional saja. Pada 3 Mei kemarin, para wartawan di Indonesia dan seluruh dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia.

Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Hari Kebebasan Pers Sedunia bermula pada tahun 1993, ketika Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa menetapkan 3 Mei sebagai hari untuk memperingati prinsip dasar kemerdekaan pers, demi mengukur kebebasan pers di seluruh dunia.

Sejak saat itu, 3 Mei selalu diperingati demi mempertahankan kebebasan media dari serangan berbagai pihak dan memberikan penghormatan kepada para jurnalis yang meninggal dalam menjalankan profesinya.

Namun di Indonesia sendiri, kebebasan pers baru diawali pada tanggal 23 September 1999, ketika Presiden Indonesia BJ Habibie mengesahkan UU No. 4 Tahun 1999 tentang Pers, yang mencabut wewenang pemerintah dalam menyensor dan membredel pers.

Pada peringatannya tahun ini, para wartawan memfokuskan pada permasalahan kekerasan yang sering dialami para jurnalis saat bekerja.

Melansir dari CNN Indonesia yang menuliskan bahwa Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyebut pelaku terbanyak kasus kekerasan terhadap jurnalis pada 2018 adalah kepolisian. Sumber ancaman terhadap kebebasan pers lainnya adalah intimidasi ormas dan pemilik media.

"Polisi kan merupakan aparat penegak hukum institusi yg diberi mandat untuk melindungi publik, bukan malah menjadi pelaku kekerasan yg melanggar UU. Melakukan kekerasan terhadap wartawan itu jelas pelanggaran nyata terhadap UU pers," kata Ketua AJI Abdul Manan, di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (3/5).

Bidang Advokasi AJI memaparkan bahwa setidaknya dari bulan Mei 2017 hingga Mei 2018 terdapat kasus yang totalnya mencapai 75 kasus kekerasan. Sebanyak 24 kasus diantaranya berupa kekerasan fisik. Sementara sisanya merupakan kasus pengusiran. Kepolisian, lanjutnya, berkontribusi dalam 24 kasus. Pejabat pemerintah atau eksekutif menyusul dengan 16 kasus.

"Kekerasan beragam; mulai dari penyeretan, pemukulan, baik dengan tangan maupun dengan benda tajam atau tumpul, hingga pengeroyokan oleh oknum. Kasus kekerasan kedua terbanyak adalah pengusiran. Pengusiran dilakukan baik oleh aparatur negara ataupun anggota security atau satpam," tuturnya.

Selain ancaman fisik, Abdul juga mengungkap adanya ancaman dari regulasi terhadap kebebasan pers. Diantaranya, rancangan Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Belum lagi pemilik media yang terjun ke politik sehingga mengekang independensi media," ujar Abdul.

Indonesia saat ini berada di peringkat 128 di Indeks Kemerdekaan Pers Dunia versi Reporters Without Borders (RSF) 2018. Peringkat Indonesia tak mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Padahal, Indonesia sempat menembus peringkat 101 pada tahun 2008.

Referensi :
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180503140337-20-295386/hari-kebebasan-pers-jurnalis-masih-rentan-jadi-korban-aparat
http://www.tribunnews.com/nasional/2017/05/04/hari-kebebasan-pers-sedunia-mulai-dari-asal-usul-hingga-melawan-berita-hoax
http://wpfd.aji.or.id/2015/

Komentar