GOEROE SOEDIRMAN BERPAMITAN

40659 medium images %283%29
Bapak Guru itu datang, kemudian berdiri didepan kelas sembari berucap.
" Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nipon"......ujar seorang pria di depan kelas. Pria berpeci hitam, berkemeja putih kusam, dan celana krem panjang sedikit di bawah lutut itu melanjutkan kalimatnya.

“Saya minta pangestu, semoga berhasil. Anak-anak yang sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara.”

Itu adalah kalimat pamitannya atau salam perpisahan sang “ kajine” atau nanti di masa perjuangan lebih di kenal sebagai Panglima Besar Jendral Soedirman, pada murid muridnya di sebuah kelas di Sekolah Rakyat Kepatihan, Cilacap, Jawa Tengah.
Dialah Soedirman, Panglima Besar TNI yang juga pengajar. Beragam metode dikeluarga dalam pengajaranya, hingga tak heran pada masanya banyak murid tertarik belajar bersamanya.
Lelaki yang berpamitan itu mentamatkan pendidikannya di HIK. Berlanjut kemudian sekembalinya ke cilacap Soedirman bertemu R. Mohammad Kholil, tokoh Muhammadiyah Cilacap. Selanjutnya iya menjadikan tokoh Muhammadiyah tersebut menjadi guru pribadinya, dari pembelajaran bersama guru pribadinya tersebut, diangkatlah Soedirman jadi guru sekolah dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap.
Sardiman, dosen sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, dalam bukunya Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman (2008), menuturkan bahwa Soedirman berhasil menarik perhatian murid-muridnya saat mengajar.
Marsidik, salah satu murid HIS Muhammadiyah yang diwawancarai Sardiman pada 1997, menuturkan cara mengajar Soedirman tak monoton, terkadang sambil bercanda dan acap diselingi pesan agama dan nasionalisme.
"Soedirman juga sering mengambil kisah-kisah pewayangan" kata Sardiman kepada Tempo pada Ahad lalu.
Soedirman Berhenti Mengajar Demi Berjuang.....
Soedirman di mata para pejuang kemerdekaan tidak hanya sekadar panglima. Dia juga simbol untuk terus melawan penjajah.
Dalam edisi khusus tentang Soedirman di majalah TEMPO, Senin, 12 November 2012, tergambarkan keputusan Soedirman membangkitkan semangat para muridnya.
Dua lelaki tegap memasuki sebuah kelas di Sekolah Rakyat Kepatihan, Cilacap, Jawa Tengah. Pelajaran aljabar di dalam kelas langsung berhenti. Kalender saat itu menunjuk akhir 1943. Bersama wali kelas Sukarno, keduanya berdiri di depan 30-an murid kelas lima.
Seorang di antaranya maju mendekati meja paling depan. Sosok itu kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas, mengucap salam, lalu memperkenalkan diri. “Saya Soedirman dan ini Pak Isdiman".

Seorang murid yang duduk di bagian belakang kelas, Soedirman Taufik, setengah kaget. Namanya sama dengan pria di depan kelas itu. Seperti teman-temannya, bocah sepuluh tahun itu hanya tertegun.

“Saya mau pamit akan berjuang bersama Dai Nipon,” ujar pria di depan kelas. Pria berpeci hitam, berkemeja putih kusam, dan celana krem panjang sedikit di bawah lutut itu melanjutkan kalimatnya.

“Saya minta pangestu, semoga berhasil. Anak-anak yang sudah besar nanti juga harus berjuang. Membela negara".

Serentak murid-murid menjawab, “Nggih, Pak!”

Kunjungan berakhir, Soedirman menyalami para murid sebelum meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangan. Isdiman, yang tak berujar sepatah kata pun, mengikuti di belakangnya.

Berselang 69 tahun, Taufik–Juni lalu genap 79 tahun–masih ingat betapa gaduh kelasnya ketika dia bersama kawan-kawan memekikkan salam perpisahan sekaligus doa.

“Selamat berjuang, Pak! Semoga berhasil!”

katanya kepada Tempo, Ahad lalu. Beberapa tahun setelah kejadian itu, nama kedua pria yang berpamitan tadi muncul sebagai tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Soedirman kelak menjadi jenderal, Panglima Besar TNI, diangkat pada Juni 1947. Adapun Letnan Kolonel Isdiman gugur sebagai Komandan Resimen 16/II Purwokerto, dua tahun sebelumnya, dalam pertempuran melawan tentara sekutu di Ambarawa, Jawa Tengah.

Dari cerita kawan seangkatannya, Taufik, yang kini menjadi Dewan Penasihat Organisasi Angkatan ’45 Cilacap, mengetahui bahwa Soedirman dan Isdiman juga berpamitan ke beberapa sekolah lainnya sebelum bergabung dengan tentara sukarela bentukan Jepang, Pembela Tanah Air (Peta). “Pak Dirman memang guru,” katanya.

Dalam menyambut hari guru 25 November, saya jadi ingat tentang Para Pahlawan nasional yang jatidiri sebenarnya adalah guru….

(sumber : wawancara Tempo dengan anak Bungsu Panglima besar Soedriman)
tulisan ini sudah di pos sebelumnya oleh Beny Rusman di aqun fb nya:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10213243688077347&id=1550883964
Sudah dilihat 36 kali

Komentar