GILIRAN GUNUNGKIDUL TUAN RUMAH FESTIVAL BREGADA RAKYAT 2018

37854 medium post 45706 037ae3bb bfea 423e 9ee9 774a485d4fcf 2018 11 03t19 51 50.021 07 00
*GILIRAN GUNUNGKIDUL TUAN RUMAH FESTIVAL BREGADA RAKYAT 2018*
Ditulis oleh: Retnoningsih
Event tahunan Festival Bregada Rakyat yang mempertemukan komunitas pelestari seni keprajuritan rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta akan digelar Minggu 4 November 2018. Tahun ini bertindak selaku tuan rumah adalah kabupaten Gunungkidul. Event serupa sebelumnya bergilir dilaksanakan di kota Yogyakarta, Sleman, Bantul dan Kulonprogo dan selalu menyedot ribuan penonton masyarakat.
Festival Bregada Rakyat 2018 yang difasilitasi Dinas Kebudayaan DIY bakal diikuti 18 komunitas bregada rakyat dari masing-masing kecamatan se Gunungkidul. Sejauh ini bregada rakyat Gunungkidul jumlahnya relatif lebih sedikit dari daerah lain. Kegiatan festival bregada rakyat diharapkan dapat menggairahkan semangat para pelaku pelestari seni keprajuritan rakyat di Gunungkidul.
Festival Bregada Rakyat mengambil lokasi start dari pendapa bangsal Sewokoprojo, Jl. Brigjen Katamso, Jl. Sumarwi, Jl. Ksatriyan, Jl. Taman Bhakti, Jl. Satria, Jl. Brigjen Katamso dan finish kembali ke bangsal Sewokoprojo. Jarak tempuh sekitar 2 kilometer.
Berikut nama-nama peserta yang akan tampil dalam Festival Bregada Rakyat 2018 :
1. Giri Manggolo (Girisubo)
2. Darma Agung (Purwosari)
3. Hargo Manunggal (Gedangsari)
4. Jayeng Sudiro (Panggang)
5. Guntur Rumekso (Rongkop)
6. Klono Ciptowening (Patuk)
7. Pasopati (Semin)
8. Jaga Wana (Ngawen)
9. Wiro Manggolo (Saptosari)
10. Yudo Manggolo (Tanjungsari)
11. Sureng Pati (Paliyan)
12. Jogoboyo (Tepus)
13. Bekel Wongso Dikromo (Nglipar)
14. Joyo Laksono (Ponjong)
15. Wira Sanjaya (Karangmojo)
16. Kyai Djong Katong (Semanu)
17. Wiro Joyo (Playen)
18. Puspo Wilogo (Wonosari)
Total penampil 1.000 orang.
Seni keprajuritan bregada rakyat memiliki kontribusi dalam pembangunan kebudayaan. Pertama sebagai ajang mempererat kekompakan dan kebersamaan (golong gilig) diantara warga masyarakat. Proses rekruiting anggota, pembuatan kreasi kostum, penciptaan tata musik bregada dan proses latihan menjadi momen-momen penting dalam merawat kohesivitas sosial warga.
Kedua menjadi duta seni budaya dan pariwisata dari masing-masing wilayah. Seringkali bregada rakyat diminta tampil di luar daerah bahkan luar kota. Sejumlah event internasionalpun beberapa kali mengundang partisipasi bregada rakyat. Hal ini kiranya jadi kesempatan melakukan promosi daerah.
Ketiga keberadaannya turut menggerakkan perekonomian pengrajin busana adat dan alat musik seperti batik, blangkon, lurik, surjan, lontong, kamus, celana panji serta asesoris bregada seperti keris, pedang, tombak, panah, senapan, suling, tambur dan lainnya.
Panitia membebaskan tiap bregada rakyat untuk mengkreasikan tata busana dan tata musik bregada sesuai kharakter budaya masyarakat setempat. Sebagai contoh karena di Gunungkidul dominasinya kultur pertanian maka dimungkinkan bregada tidak harus mengenakan topi mancungan atau blangkon melainkan bisa saja caping. Tidak membawa tombak namun memanggul alat pertanian pacul. Asesoris busanapun dapat dikombinasikan dengan kreasi olahan daun tanaman yang tumbuh disekitar.
Selama pelaksanaan Festival Bregada Rakyat panitia melarang keras penggunaan semua jenis atribut dan alat peraga kampanye yang bermuatan politik.
"Panitia mengundang masyarakat luas hadir menyaksikan gelaran spesial ini " imbuh Widihasto Wasana Putra selaku Ketua Panitia.(*)
Sudah dilihat 85 kali

Komentar