GENERASI PEMAKMUR MASJID

42380 medium post 49430 f13ba92e 44ab 40df 9982 e962ae33d74b 2018 12 12t01 44 34.349 08 00

(Mengenal lebih dekat TPQ Al-Ittihad Perina)

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs. At-Taubah : 18)
Ayat diatas tidak asing bagi sebagian besar orang Islam. Memakmurkan Masjid, itulah salah satu tujuan besar didirikannya TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) Al-Ittihad Perina pada delapan belas tahun lalu. Lembaga pendidikan non formal ini kegiatannya dipusatkan di Masjid Al-Ittihad desa Perina Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah. Masjid Al-Ittihad ini adalah masjid kebanggan masyarakat desa Perina yang berdiri megah ditengah-tengah desa. Masjid yang dibangun dengan swadaya masyarakat itu, pernah meraih predikat terbaik satu pada lomba masjid tingkat provinsi tahun 1999, keberhasilan itu cukup menjadi penyeka peluh segenap masyarakat yang telah berjuang selama lima tahun membangun masjid itu, yakni peletakan batu pertama pondasinya pada tahun 1993 dan tuntas pada tahun 1998.
Atas dasar itulah pada rapat remaja masjid, tokoh agama dan tokoh masyarakat desa Perina bertekad untuk memanfaatkan keberadaan masjid kebanggaan masyarakat itu dengan bersama-sama memakmurkannya sebagaimana petunjuk Al-Qur’an.
Mendirikan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an menjadi kesepakatan bersama selain dari pengadaan pengajian-pengajian rutin lainnya. Adanya Taman Pendidikan Al-Qur’an pada waktu itu mendapat sambutan yang baik dari masyarakat, terbukti pada awal berdirinya di tahun 2000 itu, jumlah santri yang tertampung sebanyak 226 orang yang terdiri dari santri TPQ (Taman Pendidikan Qur’an), TKQ (Taman Kanak-kanak Qur’an) dan TQA (ta’limul Qur’an Lil-aulad). Jumlah santri yang banyak dikarenakan kegiatan TPQ ini pada waktu sore hari, dalam artian tidak mengganggu jam belajar di sekolah formal. Ratusan santri ini terbagi dalam tiga rombongan belajar, santri usia TK masuk di Rombel TKQ, usia SD berada di rombel TPQ dan usia SMP menjadi santri TQA. Ketiga rombel itu diasuh oleh 12 orang pengasuh atau Ustaz/ustazah yang merupakan putra/putri desa Perina.
Jumlah santri yang cukup banyak itu masih tidak berkurang dalam beberapa tahun awal, demikian juga prestasi para santri, cukup membanggakan. Pada setiap kegiatan gebyar anak sholeh, baik ditingkat kabupaten maupun provinsi, tidak sedikit dari mereka membawa pulang piagam penghargaan dari berbagai mata lomba seperti pidato bahasa arab, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, juga pada bidang Hifzil qur’an, Cerdas Cermat qur’an (CCQ) juga pada bidang sosiodrama. Ini sebagai bukti bahwa keberadaan mereka memang cukup membanggakan. Untuk itulah para santri TPQ Al-Ittihad perina selalu mendapat undangan ketika ada acara wisuda khatamul Qur’an di tingkat kabupaten. Acara yang diadakan oleh LPTQ Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an), bekerjasama dengan Kementerian Agama itu, adalah kegiatan yang bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada anak-anak yang telah berhasil dalam belajar Al-Qur’an.
Pada tahun 2007, TPQ Al-Ittihad Perina berhasil mendapatkan Nomor Unit TPQ yang diberikan oleh LPTQ Lombok Tengah. Nomor ini adalah semacam bukti legalitas, tak ubahnya system akreditasi yang ada di lembaga pendidikan formal. Hal ini juga cukup membanggakan, mengingat pada waktu itu, TPQ Al-Ittihad Perina menjadi satu-satunya TPQ yang mempunyai nomor Unit di kecamatan Jonggat.
Waktu terus berjalan, siang malam datang silih berganti dan musimpun berubah juga. Begitulah perjalanan waktu. Perjalanan TPQ Al-Ittihad Perinapun demikian adanya, mendaki dan terus mendaki hingga kepuncak, namun adakalanya juga menuruni lembah.
Jumlah santri tidak seramai dulu. Lima tahun pertama jumlahnya masih ratusan, lima tahun kedua tinggal setengah dari jumlah awal dan lima tahun ketiga tidak berbilang ratusan lagi melainkan berbilang puluhan, dan kinipun begitu, tak pernah seramai dulu. Puluhan santri yang ada jarang bisa mengikuti kegiatan-kegiatan diluar. Hal ini dikarenakan jumlah para pengasuh yang sudah jauh berkurang, yang dulu berjumlah belasan orang, kini hanya tinggal dua tiga orang saja. Para pengasuh sepertinya lebih memilih untuk mendirikan TPQ rumahan, dalam artian, banyak guru ngaji yang memberika bimbingan dirumahnya sendiri (baca: kegiatan belajar tidak dipusatkan di Masjid/TPQ) seperti dulu. Sungguh tidak ada yang salah dengan hal itu, karena syari’at belajar itu tidak hanya di masjid saja. Namun ada yang mengganjal, ketika ingatan mundur ke belasan tahun lalu, ketika tetua masyarakat kumpul membulatkan niat untuk memakmurkan rumah Allah itu, setelah berpeluh selama limatahun dengan pengorbanan materi yang tidak sedikit. Lebih dari setengah Milyar (bukan jumlah yang kecil pada tahun 1993) di infakkan oleh masyarakat desa Perina untuk sebuah tempat Ibadah yang merupakan wajah keislaman dan ketaqwaan ummat.
Namun sepertinya tak adil kalau kita hanya membahas perjalanan TPQ Al-Ittihad yang sedang menuruni lembah itu. Marilah kita tengok sejenak, ada senyum cerah dari limapuluhan anak yang masih aktif menghabiskan waktu sorenya disana. Semangat tinggi jelas masih terlihat di wajahnya, lima puluhan santri yang kehadirannya tidak selalu nihil itu terus berikhtiar memakmurkan rumah Allah. Mereka selalu bersemangat membenahi bacaan Al-Qur’annya, telaten menghafal hadits dan aktif menekuni kitab fiqihnya. Tak terlihat surut semangat mereka, ketika hujan mereka datang dengan payung kecilnya, ketika musibah gempa yang rutin menyambangi pulau Lombok beberapa bulan terakhir inipun, mereka datang untuk melanjutkan belajarnya, sungguh ghirah thalabul ilmi (baca: semangat menuntut ilmu) masih jelas dimatanya. Seorang pengasuh disana (memang hanya satu orang yang tersisa) pernah meneteskan air mata, ketika suatu hari tidak bisa hadir menemani mereka belajar dan tidak memberi kabar sebelumnya, ternyata mereka menunggu di masjid sampai jam pulang, mereka berharap gurunya akan datang walau mungkin terlambat. Ketika ditanya kenapa mereka tidak lekas pulang, mereka menjawab, “tidak apa-apa sekalian I’tiqaf”. Sungguh itu gambaran bahwa keberadaan mereka benar-benar mewakili ikhtiar kita untuk memakmurkan rumah Allah itu. Sekali lagi sungguh terlihat indah, ketika kaki tangan mungil itu, rukuk dan sujud menunaikan sholat tahiyyatul masjid ketika baru datang. Luar biasa bukan ?, anak-anak yang identik dengan tingkah bermainnya, dimanapun dan kapanpun, namun begitu masuk ke masjid, mereka menangguhkan dulu acara mainnya, melainkan mendahulukan dua rakaat sebagai penghormatan kepada Rumah allah itu.
Akhir kata, semoga kedepannya dari TPQ Al-Ittihad Perina, atau dari tempat-tempat menimba ilmu yang lain, akan lahir generasi-generasi rabbani yang cinta ilmu dan suka memakmurkan masjid, sehingga Baldatun Toyyibatun Warabbun Ghafur dapat terwujud diseluruh penjuru Nusantara ini. Aamiin…

Sudah dilihat 36 kali

Komentar