GARA-GARA PILPRES, SAYA JADI MALAS MENULIS!

50275 medium post 56698 e7b5066f 4096 403b 8980 eb53a60d35a9 2019 02 15t22 56 46.106 08 00
Indonesia adalah negara yang majemuk. Menampung pelbagai identitas, terkecuali adanya larangan ideoligis yang diterapkan dalam menyelenggarakan negara. Hampir satu abad lamanya, hadiah kemerdekaan dinikmati oleh ratusan juta manusia yang hidup di Bumi Nusantara. Saling melengkapi; saling menghargai dan tentu saling mendukung. Hal ini dibuktikan dengan adanya sistem atau aturan main dalam sistem demokrasi.

Jika kita ingin menjentik substansi akan penting demokrasi, maka perlunya dipahami bahwa hakikat berdemokrasi adalah menerima perbedaan tanpa mencela atau merendahkan rencana-rencana orang lain dalam mewujudkan impiannya untuk membangun peradaban dimasa depan yang lebih baik. Tentunya semua yang digagas oleh para politikus tua maupun muda adalah suatu hal yang bernilai positif. Sejauh ini kita belum menyaksikan gagasan yang memuat mimpi buruk untuk bangsa Indonesia. Semua masih memuat gagasan perubahan. Apabila sudah bernilai negatif, itu tandanya ada kepentingan pribadi atau kelompok kecil yang ingin diuntungkan.

Hal yang perlu saya sampaikan: saya bukanlah seorang ahli dalam dunia perpolitikan. Apalagi jika mengulik latar belakang pendidikan: saya hanyalah seseorang yang nantinya hanya melayani masyarakat dibidang farmasi. Ini tentu tidak telak menjadi acuan maupun referensi yang baik. Namun seyogyanya bisa menjadi ukuran bahwa kesuksesan demokrasi di Indonesia telah meningkat. Sebab, bagi saya, sebuah keharusan opini ini disampaikan ke hadapan publik melalui pelbagai media termasuk media sosial yang sedang Anda gunakan.

Dalam sebuah kontestasi yang dilaksanakan lima tahun sekali, sebagai warga negara yang baik, kita semua berkewajiban untuk menjaga berlangsung demokrasi yang adil dan jujur. Selain itu, untuk menciptakan suasana yang harmonis, dimana ini adalah cita-cita atas cinta tanah air yang telah mengalir dalam pikiran kita bahwa: perdamaian adalah hal yang utama untuk dilakukan. Dalam sebuah upaya demokratisasi: tak ada larangan untuk tidak menerima perbedaan. Pada situasi yang cukup hangat menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden Indonesia kedelapan, ini adalah bukti bahwa pasca reformasi, Indonesia telah menjalankan amanat reformasi dengan sebaik-baiknya. Apabila keharmonisan warga negara telah tergerus hanya karena empat orang saja yang sedang berkontestasi, maka bagi saya ini sangatlah miris. Padahal perbedaan pilihan itu adalah hal yang wajar. Tak perlu sesulit mengupas kulit durian menggunakan sebilah parang tumpul. Kita hanya butuh senyum dan tawa bersama merayakan pesta rakyat yang dilaksanakan setiap setengah dekade.

Setiap warga negara, pasca kemerdekaan, telah diberikan pendidikan yang baik guna menalar realitas sosial, ekonomi dan politik yang berkembang dan berevolusi tanpa meninggalkan substansi dan tujuannya. Seyogyanya, memilih pemimpin harus dengan alasan yang jelas dan tidak hanya sekadar ikut-ikutan semata.

Kriteria pemimpin yang baik untuk bangsa Indonesia:
1. Memiliki sifat shidiq (jujur dalam pikir, berkata dan bersikap.
2. Amanah (menjaga integritas, diantaranya: tidak egois, tidak serakah, tidak curang, dan membela kepentingan banyak orang.
3. Memiliki sifat tabligh (potensi menyampaikan dan menjalankan amanah dengan penuh rasa tanggungjawab.
4. Memiliki sifat fathonah (cerdas, kreatif dan bijaksana).

Gagasan jitu adalah senjata untuk melakukan manuver politik dari masing-masing tim yang bertugas mendampingi dan membawa kandidat hingga ke depan pintu gerbang kemenangan. Semuanya memuat berbagai macam ide yang menarik untuk dinikmati. Termasuk menegakkan hukum seadil-adilnya dan membuka luas lapangan kerja. Ini adalah poin yang paling utama untuk dikonsumsi rakyat Indonesia.

Setiap kali membaca komentar yang menyiyir pilihan orang lain, kerap kali terjadi perdebatan pada kolom komentar facebook, instagram, twitter dan youtube yang sangat panjang hingga saya sendiri jadi bosan untuk membacanya. Padahal itu hasilnya: mereka tidak berpindah dukungan. Yang terjadi hanyalah kalimat dan kata kasar yang mewarnai perdebatan.

Selama masih ada keyakinan bahwa negara ini akan baik-baik saja dibawah kepemimpinan calon presiden yang sedang bertarung, maka sebaiknya jangan terlalu berlebihan dalam meluncurkan serangan yang tidak berfaedah untuk perkembangan bangsa. Masyarakat kita hanya disuguhkan argumentasi (komentar) yang tidak menyehatkan diskursus publik tentang politik. Ingat, kita harus menghargai pilihan orang lain. Sebab setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Meskipun saya sudah pernah secara terang-terangan mendukung pasangan calon, namun sampai hari ini saya masih tetap menghargai hasil nalar orang lain yang berbeda pilihan. Harapannya: sebaliknya, apa yang saat ini menjadi pilihan saya, dapat dihargai oleh pendukung yang berbeda.

Mari bersama kita ciptakan keharmonisan berwarga negara. Tugas kita adalah menjaga proses ini berjalan dengan baik tanpa ada hal-hal yang tidak diinginkan termasuk halangan-halangan yang dapat menghambat lahirnya presiden dan wakil presiden kedelapan untuk Indonesia yang kita cintai. Salah satu indikator bahwa seseorang itu mencintai tanah air: ia dapat menghargai pendapat dan gagasan saudaranya, meskipun bukan saudara serahim.

Sekian,
Salam.

—Bhair Samatan
Sudah dilihat 65 kali

Komentar