Eks Tambang Pasir di Lebak Menghawatirkan

59868 medium a %281%29
Bekas galian pasir di wilayah Desa Citereras, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak dikeluhkan warga. Sebab, ditinggalkan oknum pengusaha tanpa pengurugan atau reklamasi. Lubang besar bekas galian pun kini hanya terlihat seperti suangi.

Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Citeras Sahrowi mengaku prihatin dengan kondisi areal lahan galian pasir di Citeras. “Lihat saja, eks tambang pasir kwarsa di Citeras ini, hanya menjadikan hamparan lahan seperti danau cukup dalam dan curam. Kami khawatir, ini justru membahayakan nyawa bukan saja manusia, tapi hewan ternak pun seperti kerbau yang kerap menjadikan lahan sekitar sebagai tempat pangonan,” kata Sahrowi, Minggu (28/04).

Menurutnya, sebelum perizinan dimohonkan ke dinas terkait, terdapat aturan yakni pengusaha wajib membuat kesanggupan mereklamasi lahan tambang pasir. Jika kewajiban tidak disanggupi pengusaha, pemerintah menolak permohonan izin tambang tersebut.

Sepengetahuan Sahrowi, tidak sedikit pengusaha menyimpan dana jaminan reklamasi di kas daerah. Apalagi sebelumnya kewenangan izin tambang masih menjadi kewenangan Dinas pertambangan (Distamben) Lebak.

“Intinya harus ada perusahaan yang bertangung jawab, jika reklamasi pasca tambang tak dilakukan. Karena itu, kami mendesak pemerintah baik Kabupaten maupun Provinsi untuk pro aktif dan tidak abai dengan rusaknya lingkungan di Citeras saat ini,” tandasnya.

Anggota DPRD Lebak, Rudi Kurniawan, mengaku prihatin dengan kondisi lahan pasca tambang di Citeras tersebut. Menurutnya, setiap pengusaha penambangan wajib untuk mereklamasi kembali lahan eks tambang yang akan mereka tinggalkan.

“Masa iya sih, mereka hanya berpikir untungnya saja. Sementara warga sekitar dibiarkan dalam bahaya, kami harapkan Pemkab dan Pemprov tegas menyurati para pengusaha terkait, karena semua kan ada sangsinya, jika reklamasi pasca tambang itu benar-benar tak dilaksanakan,” ujarnya.

Sudah dilihat 33 kali

Komentar