Edisi Ramadhan : 5 Muslimah Inspiratif

61808 medium ilustrasi muslimah
Halo hola..

Edisi Ramadhan #AtmaGo kali ini akan berbagi kisah 5 muslimah inspiratif. Mereka adalah wanita di atas rata-rata yang memiliki semangat juang untuk bermanfaat tuk dunia. Para muslimah ini bahkan tak gentar mengorbankan keselamatan dan keamanan mereka untuk kebahagiaan orang lain. Semoga bisa jadi inspirasi untuk para pembaca setia #AtmaGo yah. Siapa saja mereka, check these out…

1) Bashaer Othman
Bashaer Othman adalah seorang remaja muslimah yang berumur 15 tahun. Hal menarik dan luar biasa dari muslimah ini adalah kepercayaan dirinya. Di usianya yang masih belia, ia menantang Walikota Allar, Palestina untuk memberikannya kesempatan menjabat sebagai Walikota selama satu minggu. Dan di luar dugaan tantangan itu diterima oleh Walikota Allar, Sufian Shadid, bahkan ia memberi kesempatan hingga dua bulan lamanya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Bashear. Dengan penuh kepercayaan diri, ia mengerjakan segala tugas layaknya sebagai Walikota. Selama menjabat, ia berhasil mewujudkan tiga proyek kerjasama dengan investor, sehingga dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakatnya. Setelah diberi kesempatan menjadi Walikota, Bashaer dengan semangat berkata, “suatu hari nanti aku akan kembali ke kantor dan menjadi walikota lagi.”

2) Shamsia Hussein
Shamsia Hussein adalah seorang anak gadis yang memiliki semangat untuk bersekolah. Setiap hari ia selalu rajin ke sekolah. Mungkin tidak ada hal menarik jika kita bandingan dengan para siswa yang bersekolah di Indonesia dengan akses pendidiakan yang dibuka seluas-luasnya, tanpa memandang etnis, ras, agama dan gender. Namun, berbeda halnya dengan sekolah-sekolah di Afganistan. Tepatnya di Sekolah Marawis tempat Shamsia bersekolah. Permasalahannya bukan pada sekolahnya, tapi masyarakat khususunya Taliban yang tidak menyukai jika ada anak perempuan yang bersekolah. Bagi mereka, pendidikan akan merusak pikiran anak-anak perempuan dan menciderai norma yang mereka bangun di masyarakat. Tragedi brutal menimpa Shamsia bersama puluhan siswi lainnya yang bersekolah di Marawis. Penyemprotan cairan asam yang dilakukan oleh beberapa pemuda yang di duga adalah dari Taliban. Mereka menyemprot cairan itu tanpa belas kasih langsung ke wajah siswi yang bersekolah disana. Shamsia menderita luka paling parah. Bekas luka itu menyisahkan noda cacat di kelopak mata dan sebagian besar pipi kiri Shamsia. Ia mengalami kesulitan membaca, karena penglihatannya kabur. Namun tragedi mengerikan itu tak membuat Shamsia patah semangat untuk bersekolah. Bahkan ibunya berpesan, “Tetaplah ke sekolah, meski kamu mati terbunuh.” Shamsia dan siswi lainnya tetap berjuang dan melanjutkan sekolah, meski tak ada yang menjamin keselamatan mereka. Karena bagi mereka, berjuang untuk menuntut ilmu juga adalah bagian dari jihad.

3) Ratu Iffat Al-Thunayan
Ratu Iffat adalah istri dari Raja Faisal Arab Saudi. Berbeda dengan karakter Ratu yang kita kenal dengan berbagai kemewahan dan kenyamanan dalam istana, Ratu Iffat tidak betah jika hanya berdiam diri dengan berbagai fasilitas tersebut. Ia membangun sebuah sekolah khusus perempuan. Karena baginya, pada saat itu kaum hawa hanya terkurung di rumah dan tidak bisa memperoleh pendidikan ataupun keterampilan untuk mengasah potensinya. Meskipun merupakan seorang ratu, pembuatan sekolah untuk perempuan tersebut tak berjalan mulus. Masyarakat melakukan aksi demonstrasi besar-besaran karena dibukanya sekolah khusus perempuan yang menurut mereka menjadi ancaman untuk kaum adam. Namun Ratu Iffah tak patah semangat. Ia berusah meyakinkan dan memberi pemahaman secara perlahan. Hingga akhirnya sekolah yang memiliki sedikit siswi itu lambat-laun makin berkembang dan mencapai ratusan ribu siswi yang bersekolah dari tingkat sekolah dasar hingga perrguruan tinggi.

4) Lauren Booth
Lauren Booth adalah wanita muallaf yang berasal dari Inggris. Menarikya ia adalah ipar dari seorang mantan Perdana Mentri Inggris yang memiliki prasangka buruk terhadap islam. Cahaya islam datang ke hati Lauren saat ia pergi ke Tepi Barat, Palestina untuk melakukan peliputan. Ia sempat berpikir bahwa akan bertemu dengan muslim yang identik dengan radikalisme, fanatik, kawin paksa dan teroris. Namun semua itu berubah saat seorang wanita tua menariknya masuk ke dalam rumah ketika ia dalam kondisi kedinginan. Ia sempat ketakutan karena wanita tua itu tidak berkata apa-apa dan tiba-tiba langsung menariknya. Pikirannya berubah saat wanita itu memakaikannya mantel, topi dan syal dari lemari sang putri. Setelah dilengkapi dengan busana penghangat tubuh, Lauren diantar kembali ke jalan dan diberi pelukan hangat. Kejadian indah itulah yang mampu menyentuh hati dan mengubah semua pikiran negatif Lauren tentang islam. Akhirnya ia memutuskan untuk memeluk islam. Kabar tersebut lebih dahulu ia beri tahu kepada dua putrinya lewat percakapan menarik berikut ini; Anaknya bertanya, “Apakah ibu akan minum alkohol lagi?” Lauren menjawab “Tidak!”, “Apakah ibu masih merokok?”, Lauren berkata, “Tidak!”. Hingga dipertanyaan terakhir, “Apaka ibu tetap memamerkan keseksian di depan umum lagi?” Lauren menjawab, “Kini aku seorang muslim. Aku tidak akan pernah lagi pamer di depan publik.” Sontak anak-anak gadisnya berseru, “Kalau begitu kami cinta islam.”

Meskipun Lauren tahu bahwa akan ada banyak pro dan kontra ketika ia memeluk islam apalagi dengan statusnya sebagai seorang ipar dari mantan PM Inggris. Namun hal itu tak menyulutkan tekad Lauren. Ia berharap masuknya dirinya ke dalam islam dapat membantu mengubah cara pandang Blair, mantan PM Inggris tentang islam selama ini.

5) Halima Bashir
“Aku merasa inilah pekerjaanku. Menyampaikan pesan pada dunia tentang kisah piluku.”
Seperti itulah pesan yang disampikan oleh Halima. Ia lahir dan besar di Darfur, Arfika. Halima menempuh studi sebagai seorang dokter dan kembali ke kampung halamannya sebagai dokter pertama dari sukunya Zaghawa. Perang sering terjadi di daerahnya. Dengan penuh kasih ia membantu para korban dengan membuka klinik di Darfur. Ia juga getol menyuarakan ketidakadilan yang terjadi dalam perang, khususnya masalah pemerkosaan yang dilakukan oleh para tentara perang ke PBB.

Namun ternyata, keberanian Halima membawa petaka untuk dirinya sendiri. Sejak pelaporan tersebut ia di culik dan naasnya harus mengalami hal yang sama seperti para wanita korban perang. Pelecehan yang dialaminya tak menyuruti semangannya. Ia berhasil kabur dari para tentara tersebut. Hingga akhirnya ia bertemu seorang pemuda yang baik hatinya ingin menikahinya. Namun keperihan hidup Halima masih terus berlanjut. Sang suami yang juga aktif menentang pemerintahan diktator harus ke Inggris karena mendapat suaka. Ayah tercinta meninggal dunia saat membela kampungnya dari serangan pasukan perang. Ia terpisah dengan ibu juga saudarinya yang terdampar di kamp pengungsian. Semantara saudara laki-lakinya, ia tak tahu nasibnya.

Halima terus bertahan dan berjuang hingga akhirnya berkumpul kembali dengan suaminya di Inggris. Dari sanalah ia mulai sibuk menjadi duta kemanusiaan. Menceritakan peperangan dan perkosaan horror yang terjadi di Darfur. Ia ingin dunia mengetahui semua itu. Sehingga dapat menggalang dukungan kemanusiaan dari masyarakat dunia, agar peperangan dan kekejian yang terjadi pada dirinya dan wanita-wanita korban perang tidak lagi dirasakan oleh wanita lain.

Itulah beberapa kisah inspiratif dari para muslimah. Semoga bisa menjadi penyemangat kita menghadapi godaan di bulan Ramadhan. Mereka saja bahkan hingga rela mengorbankan jiwa mereka untuk membantu orang lain, masa kita hanya cukup berjuang menahan lapar, dahaga, dan panca indra dari kemaksiatan saja tidak mampu. Semoga bisa jadi inspirasi dan pengingat untuk kita semua yah. Apalagi Rmaadhan sudah di pertengahan bulan nih. Yuk maksimalkan untuk ibadah. Semangat…semangat…

Referensi : Be an Inspiring Muslimah
Sudah dilihat 68 kali

Komentar