Dicky, Generasi Penggebrak Dari Notoyudan

66481 medium post 71029 e39fa5d1 cdcf 4143 8445 4bfe14cc756c 2019 07 12t13 14 49.523 07 00 66482 medium post 71029 ed7ac567 f574 46f1 b41b bda246bad6d4 2019 07 12t13 14 50.790 07 00
Dicky, salah satu pemuda asal Notoyudan yang saat ini aktif menggunakan atmaGo untuk berbagi informasi mengenai tempat tinggalnya. Dikesehariannya, Dicky juga merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, salah satu pemuda asal Notoyudan yang berhasil menembus masuk ke gerbang Universitas Gajah Mada dengan jalur Bea Siswa.

Menurutnya, bersekolah di masa ini bukan hal yang sulit lagi. Akses sekolah yang mudah dan berbagai program pemerintah untuk sekolah yang juga mudah di akses mengharuskan semua orang dapat bersekolah, khususnya di tingkat SD/SMP/SMA.

Kurang lebih ditahun-tahun 2010 hingga hingga 2017, angka putus sekolah di Notoyudan masih terbilang banyak. Penyebapnya juga beragam, mulai faktor ekonomi, keinginan untuk bekerja lebih dini, hingga pada motivasi bersekolah yang masih sangat kurang.

Kurangnya informasi mengenai program beasiswa untuk PTN dan PTS yang kurang menjamah Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan juga menjadi salah satu faktor kurangnya antusiasme pemuda seusia dia untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hingga akhirnya, banyak diantara para lulusan SMK memilih untuk bekerja. Selain akses informasi, faktor kerumitan pengurusan beasiswa juga turut mendukung untuk tidak teraksesnya beasiswa tersebut.

Ketersediaan akses internet di ruang publik yang tidak dibarengi dengan penggunaan secara bijaksana adalah salah satu faktor pendukung merosotnya kwalitas belajar anak usia sekolah. Akses internet yang seharusnya digunakan untuk menunjang pembelajar, justru digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat semisal bermain game online, atau mengakses website yang tidak perlu. Harapan dengan adanya internet di ruang publik agar Anak usia sekolah yang seharusnya menggunakan waktu berkwalitasnya dengan internet untuk mengakses informasi mengenai pendidikan ternyata tidak berujung pada cita-citanya. Olehnya, perlu ada pendampingan khusus atau pengelolaan khusus untuk menyelesaikan problem tersebut.

Dari sekian banyak faktor penyebap putus sekolah, Dicky terbilang berhasil melewati semuanya. Digenerasinya (usia seangkatan sekolah) hampir 100% kawan-kawannya menyelesaikan study hingga tamat SMA/SMK, bahkan mayoritas diantaranya melanjutkan hingga ke Perguruan tinggi, termasuk Dicky. Menurutnya, faktor paling penting untuk bersekolah adalah Motivasi. Semua kendala dan halangan untuk bersekolah akan mudah dilalui apabila memiliki motivasi bersekolah. Olehnya, untuk terus membangun dan membangkitkan motivasi semangat bersekolah di Notoyudan, Dicky bercita-cita menyelesaikan studynya hingga sarjana, dan menjadi figur contoh pemuda di Notoyudan.
Sudah dilihat 57 kali

Komentar