Diberi Waktu Dua Hari Kosongkan Huntara, Warga: Kami Mau Tinggal di Mana Lagi?

67537 medium huntara jl asam iii
TRIBUNPALU.COM, PALU - Tampak wajah kesedihan dari warga saat pihak Kecamatan Palu Barat meminta mereka segera meninggalkan bilik hunian sementara di Jl Asam III, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (22/7/2019).

Oleh pihak kecamatan, mereka diberi waktu dua hari untuk mengosongkan bilik hunian sementara tersebut.

Berdasarkan pantauan TribunPalu.com, ada warga yang tak kuasa menahan tangis saat dinyatakan tidak layak menerima huntara yang dibangun oleh Kompas itu.

Salah satunya adalah Asri Insurianingsih, warga Kelurahan Petobo, Palu Selatan.

Asri, ialah satu dari 19 KK yang akan dikeluarkan oleh pemerintah dari bilik hunian sementara ini.

Ia tinggal di bilik huntara nomor 04 atas izin dari Pemerintah Kelurah Kabonena melalui surat pengantar Lurah Petobo.

Bahkan, ia sudah tinggal di huntara tersebut sejak Hari Raya Idulfitri 2019 lalu.

"Karena sudah dapat arahan, makanya saya bawa surat pengantar dari Lurah Petobo ke Lurah Kabonena," katanya.

Ia sendiri mengaku tidak dapat huntara di Kelurahan Petobo.

"Saya kan kemarin mengungsi di Masjid Agung, setelah saya bicara sama Lurah Kabonena, diminta surat keterangan dari Kelurahan Petobo," jelasnya.

Semua prosedur telah ia lakukan untuk mendapat hunian layak. Namun sayangnya ia akan dikeluarkan dari huntara tersebut.

Ia sendiri bingung mau tinggal di mana lagi jika benar harus angkat kaki dari huntara yang sudah ditinggalinya selama hampir dua bulan itu.

"Terus mau tinggal di mana kita, rumah saya sudah jadi gunung di Petobo," keluhnya.

Hal yang sama dialami Lisa, seorang janda warga Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur.

Ia juga masuk di huntara berdasarkan rekomendasi dari Lurah Kabonena.

"Lurah Kabonena minta surat pengantar dari Besusu Barat, katanya persyaratannya hanya itu," akunya.

Lisa bersama dua orang anaknya sudah tinggal di bilik nomor 135 selama tiga bulan.

Ia pun mempertanyakan keadilan karena merasa dikeluarkan secara paksa.

Ia bingung, selain tak punya uang untuk membangun kembali, lokasi rumah sebelumnya sudah dinyatakan zona merah.

Bahkan, untuk Kelurahan Besusu Barat tidak ada kabar untuk penerima huntara bagi korban rumah rusak berat.

"Itu rumah keluarga, punya orang tua tapi sudah meninggal," terangnya.

"Kami mau tinggal di mana lagi kasihan, tidak mungkin di tenda lagi, di Masjid Agung sudah dikosongkan," tambah Lisa.

Sumber : tribun news palu
Sudah dilihat 26 kali

Komentar