Dentuman Meriam Penanda Buka dan Imsak

61852 medium l c
Kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak, memiliki ciri khas tersendirti dalam memberikan tanda waktu berbuka puasa dan berakhirnya waktu sahur Dentuman meriam, tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun ini berlangsung dari Maesjid Agunbg Al,araf Rangkasbitung.

Dulu sekitar tahun 1823, dentuman meriam penanda berbuka puasa dan sahur mengandalkan meriam peninggalan belanda yang dinamai si Jagur. Kini meriam tersebut sudah dipindahkan ke museum Jakarta, karena sebagai benda cagar budaya.
Ocong, seorang Muadzin Mesjid Agung Al,Araf Rangkasbitung menuturkan, bahwa keberadaan dentuman meriam saat saat berbuka puasa di Ramadhan sepertinya tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan warga Kota Rangkasbitung.

“Dentuman meriam penanda saat berbuka puasa dan sahur, sudah menjadi tradisi di kota Rangkasbitung dan sekitarnya. Karena itu, sejak si Jagur ditarik ke museum Jakarta, para pengurus masjid Al,Araf berinisiatif membuat dua buah meriam dari besi,” katanya, Senin (20/5) di Mesjid Al,Araf Rangkasbitung.

Menurutnya, Dentuman suara meriam adalah hal yang paling ditunggu oleh masyarakat Rangkasbitung. Beberapa menit sebelum berbuka puasa, warga berkumpul di Masjid Agung Al-Aaraf untuk menunggu buka puasa, sambil menyaksikan momen meriam diledakan.

Tradisi yang tidak biasa ini sudah berjalan sejak lama dan menjadi ciri khas Rangkasbitung, dan disebut satu-satunya yang ada di Banten. Berdasarkan cerita dari pengurus masjid sebelumnya, tradisi ini sudah dilakukan sejak Masjid Agung Al-Aaraf Rangkasbitung berdiri atau sekitar tahun 1928.

Selain penanda buka puasa, meriam juga dibunyikan saat imsak.suara dentuman meriam bisa terdengar hingga lima kilo meter, karena kondisinya sangat sunyi dari suara kendaraan.

"Kalau saat imsak bisa sampai lima kilometer, karena tidak banyak suara yang menggangu," kata dia.

Salah seorang pengunjung alun-alun Rangkasbitung, Ningrat dan Kecamatan Cibadak mengaku sengaja datang lke area Mesjid Agung Al,araf sekedar mengenang masa kecilnya yang mana 42 tahu silam selalu menjadikan dentuman sebagai penanda puasa diri dan keluarganya.

“Dulu kan kalau kalau kita mau buka puasa, selalu menjadikan dentuman meriam si Jagur sebagai penanda puasa. Ya mesti kioni si jagur sudah diganti dengan meriam biasa, tapi tentunya tidak mengurangi maknanya,” ujar Ningrat.

Sudah dilihat 24 kali

Komentar