Cerpen "Hijrah Cinta"

1 September 2019, 11:45 WIB
4 0 168
Cerpen
Hijrah Cinta
Oleh : Nurliana

Sore menyapa Zahra yang sedang duduk di tepi pantai Sabang, Menikmati merdunya suara desiran pantai dan kicauan burung. Menikmati hembusan angin rindu serta rasa dingin yang menyentuh kalbu.
Hari kian semakin sore,senja semakin Jelas. Warna jingga menyapa indah di cakrawala. Namun Zahra masih bergeming, Manik cokelatnya menatap ombak dan pasir bergantian.
"Aku harus melakukannya, pasti bisa"
Zahra melihat jam tangannya, tak terasa sudah dua jam lamanya Ia berada disana. Duduk sendiri menikmati keindahan sunset.
Senja akhirnya tiba. Tanda hari akan berubah gelap. Hari itu langit penuh dengan warna jingga. Sunset yang begitu memukau mata. Membuat Zahra betah berlama-lama.
"Senja memang selalu mempesona, dapat menghilangkan nelangsa. Walaupun akhirnya menjadi temaram di langit sana" ucapnya lirih
"Wahai Allah,,, begitu besar nya kuasa-Mu. Senja ini hanya sebagian kecil kenikmatan yang kau beri pada hamba-hamba-Mu" Decaknya kagum
Sekian menit Zahra menikmati manifestasi keindahan Tuhan. Hingga akhirnya matahari terbenam bersamaan dengan datangnya temaram.
"Senja memang indah, namun keindahannya selalu saja sementara" Zahra tersenyum tumpul , berdiri kemudian melangkah meninggalkan pantai Sabang.
Adzan magrib sudah dikumandangkan.
Motor Zahra melaju menuju masjid terdekat.
Masid Ar-Rahman, masjid itu tak jauh dari pantai
Zahra segera mengambil air wudhu kemudian sholat magrib disana.
Setelah sholat, Ia bergegas pulang kerumah. Ia melangkah menuju parkiran motor , namun langkahnya terhenti ketika ada yang memanggil namanya
"Kak Zahra" teriak seorang anak kecil tepat di belakangnya
Zahra berbalik, kemudian tersenyum melihat anak kecil itu "Ehh dek Fauzan" Zahra menghampiri dan mengusap lembut kepala anak itu
"Kak Zahra sholat magrib disini juga?"
"Ia dek. Tadi kakak dari pantai" Zahra tersenyum ramah
"Eh, kamu sama siapa kesini? "
"Sama Bang Farhan .kak"
Zahra diam. Mundur selangkah, mengeritkan dahinya. Matanya berkedip lebih cepat. Detak jantungnya terasa tak normal. Nama itu bagai petir dalam hatinya.
"Kakak pamit pulang dulu yah. Fauzan tunggu saja bang Farhan nya." Zahra mengusap dan mencium lembut kening Fauzan
Zahra berbalik, berlari menuju parkiran
"Kak Zahra tunggu" Fauzab berlari mengejar
Namun terlambat. Zahra sudah menghidupkan mesin motornya, kemudian melaju meninggalkan area masjid.
Air matanya jatuh berderai, Ia membiarkan angin menghapusnya. Menguap diudara. Ia menambah kecepatan motornya berharap segera sampai dirumah.
Pipp pipp
Seseorang keluar dari rumah itu dan membukakan pagar.
"Eeh non Zahra sudah datang" sapa bibi Ranum
“Assalamualaikum, bi” Sapanya kemudian Zahra dengan sigap menyimpan motor di garasi lantas berlari ke kamar.
"Hahhh" Zahra merebahkan tubuhnya
"Mendengar namanya saja, hatiku masih begini" Zahra mengusap dada mengingat kejadian tadi.
***
Suara shalawat subuh membangunkan gadis yang sedang tertidur lelap itu, matanya terbuka kemudian meraih hp
" sudah pukul 04.00 am" .
Zahra berdiri, melangkah menuju kamar mandi. Mandi kemudian sholat. Setelah itu ia membaca buku . Sekian menit ia berfokus diri ,suara burung pun terdengar tanda fajar telah menyingsing. Zahra membuka horden jendela, dan tersenyum bahagia.
Ketika Zahra bersiap diri , hp berbunyi beberapa kali. Ia meraih hp nya dan melihat ada 5 Pesan masuk
From Farhan
"Assalamualaikum, kamu sudah siap ?"
"Nanti ke kampusnya sama-sama yah"
"Jangan lupa sarapan"
"Zahra, sayang"
"Kenapa tidak di balas"
"Hahhh" Zahra bernafas panjang.
"Benar-benar ujian hati" Zahra mengusap dadanya berulangkali.
Dia kembali bersiap diri, memasukkan hpnya ke dalam tas beserta buku dan segala keperluannya. Dia kemudian bercermin.
Zahra melihat pantulan seorang gadis yang cantik, tubuh tinggi berisi, kulit putih, alis tebal, dengan pipi chabi. Dia terlihat lebih anggun dengan jilbab syar'i juga rok yang selalu senada.
Dia teringat penampilannya satu tahun yang lalu, dengan rambut terurai, kadang lurus kadang menggantung. Dengan celana jeans atau rok mini.
Zahra menutup wajahnya
"Duhh, malunya aku. Dulu aku membiarkan orang-orang melihat lekuk tubuh juga kulitku" Raut wajahnya berubah sedih
"Tapi alhamdulillah, hidayah ini menghampiriku. Aku tidak akan menyiakannya"
Zahra telah bertekat untuk hijrah, saat ini dia adalah gadis yang baik, lebih taat beribadah. Namun Zahra sadar bahwa hijrahnya ini akan mendapatkan ujian dari Allah. Ujian yang akan menghapus dosa-dosanya dahulu sekaligus menguji keistiqomaanya.
Sejak dia memutuskan berhijrah dan memperbaiki diri. Ujian datang silih beganti, hingga pada ujian hati.
Zahra menghembuskan nafas panjang, mengingat ujian hati ini begitu peliknya untuk dilewati. Mengapa tidak, dia begitu menyukai Farhan. Tapi ia sadar, rasa suka sebelum adanya akad yang sah pasti akan menimbulkan bencana. Ia paham betul maksud dari Q.S Al-Isra Ayat 32, "Jangan lah kamu mendekati Zina" dan hubungan dia dengan Farhan adalah jalan untuk mendekati zina.
Zahra menjauhi cermin, melihat jam tangannya , tiba-tiba Hpnya berdering ..
Dia mencari hp didalam tasnya. Iris matanya melebar melihat nama di log panggilan masuk
Farhan.
Jawab atau tidak, jawab tidak, itulah yang dipikirkan Zahra dan hasilnya
"hallo, assalamualaikum" Zahra akhirnya memberanikan diri menjawab panggilannya karena dia juga sebenarnya rindu mendengar suara pemuda itu
"Waalaikumsalam Rah, kamu dimana? ini aku ada di depan rumah kamu"
Zahra tersentak kaget, hampir saja hp jatuh dari genggamannya. Dia segera berlari ke luar dan mengintip dari jendela. Benar saja Farhan sudah ada di depan.
"Maaf Han, aku sudah di kampus" Zahra berbohong
"Yaah, kok begitu. Kan tadi aku ngajak pergi bersama"
"Maaf, tadi cepat-cepat soalnya ada tugas"
"Ya sudah kalau begitu, kamu sudah sarapan?"
"Maaf Har, sudah dulu yah. Assalamualaikum" Zahra menutup telvon tanpa menjawab pertanyaan Farhan
Zahra masih mengintip dari jendela. Dia melihat dengan jelas raut wajah Farhan yang tadinya tersenyum berubah murung. Fahran pergi menjauh sedang Zahra masih memperhatikan
"Huuuftt" Zahra bernafas legah, berbalik badan dan bersandar di dinding, kepalanya terangkat menatap langit-langit rumahnya, menahan butiran rindu yang berusaha keluar dari mata indahnya.

***
Setelah jam mata kuliah selesai, Zahra Ke masjid. Didalam masjid, dia mendengarkan ta'lim. Tema hari itu adalah halalkan atau tinggalkan.
“ Zah halalin atau tinggalin" Fitri mencolek bahu Zahra
"Apa sih"
"Bilang tuh, sama Farhan, halalkan atau tinggalkan" Fitri kembali menggoda
Zahra enggan menimpali Fitri, dia fokus menyimak
"Ketika kita Hijrah karna Allah, maka segalanya akan terasa indah. Tapi dalam hijrah pasti ada ujiannya. Ketika kalian meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberi ganti yang lebih baik terlebih lagi kalau persoalan hati, Jika kalian suka sama seseorang, kalian harus Mengambil keputusan, halalkan atau tinggalkan"
Begitulah kalimat demi kalimat yang terlontar dari Ustadzah Nurul membuat hati gadis-gadis yang mendengarkan kian terbawa perasaan.
"ada yang ingin di tanyakan" Ustadzah Nurul memberikan kesempatan
"saya Ustadzah" Fitri Mengangkat tangan
"silahkan "
"kalau misalkan nih. Kita punya pacar terus kita ingin hijrah, kita mau putusin dia hanya saja ada rasa dilema, dan takut kalau nanti dia jadi sama yang lain padahal kan kita sayang sama dia, gitu ." Fitri melirik Zahra
Zahra menoleh pada Fitri, pertanyaan ini pasti menyinggungnya.
"Sengaja" Fitri berbisik pada Zahra, mengerti akan tatapan Zahra tadi
"itu semua adalah tipu daya syaitan. Ketika kalian putuskan. Maka kalian harus menyakinkan pada hati 2 perkara. Yang pertama ketika hijrah itu karena Allah dan Rasul, maka Allah akan beri ganti yang lebih baik . Ini do'a dari Ummu salamah "Allahumma Ajurni Fii musibati Wakhlufli Khairan Minha" artinya Ya Allah beri saya pahala dalam musibah ini dan beri saya ganti yang lebih baik, makanya tak perlu risau kalau misalkan dia jadi sama yang lain, berarti dia itu bukan yang terbaik karena masih mau pacaran, kuatkan hati dan berdo'a. Nanti kalian pasti bilang untung dulu saya putusin. Kedua, Kalian bisa mengajak orang itu untuk berhijrah bersama kalian,. Kalau dia juga hijrah, kalian bisa saling memantaskan diri ya kalau mampu kalian menikah saja" jawab Ustadzah
"Kalau pacarannya tidak ngapa-ngapain, gimana Ustadzah?" tanya Akhwat yang lain
"Kalau tidak ngapa-ngapain, terus ngapain pacaran?"
Sontak semua akhwat di Masjid itu tertawa
Ta'lim telah selesai. Semuanya Kembali ke tempat tujuan masing-masing.
Fitri dan Zahra ingin pulang dan menuju ke parkiran. Sebelum pergi ia mengirimkan pesan ke Farhan
To Farhan :
Besok sore kita ketemu dia pantai Sabang. Ada yang mau aku bicarakan
***
Sore itu di pantai Sabang, sudah tampak sosok pemuda tengah duduk di atas batu, memainkan ombak yang datang terpecah di bebatuan.
Dia melihat Farhan yang ternyata sudah ada disana.
"Bismillah, aku harus bisa. Aku harus kuat" Zahra menyakinkan diri
Farhan merasakan kehangatan saat cuaca sedang dingin, dia tersenyum . Dia mengerti kehangatan ini adalah pertanda kehadiran gadis yang dia cintai. ia menoleh, mendapati Zahra sedang berjalan ke arahnya.
Farhan tersenyum.
Zahra semakin dekat. Langkah kakinya terhenti dalam jarak 2 meter dari Farhan. Dia kemudian duduk di tepi pantai. Farhan datang menghampiri.
"Hey, " dia ikut duduk
"Sudah lama?" Zahra bertanya tanpa melihatnya
"Tidak juga . Baru Sekitar 10 menit lah" Farhan tersenyum walaupun Zahra tak melihatnya namun ia senang berada di sampingnya
"Oh iya. Kamu mau bicarakan apa Rah?"
"maaf yah, langsung to the poin saja. Aku mau kita putus " Zahra menutup mata. Akhirnya ia berhasil mengatakan itu meski gejolak hati tengah berperang
"apa? tapi kenapa?"
Zahra hanya diam
"Kamu serius ?"
"Ia aku serius."
Farhan mengusap wajahnya, tak percaya.
"Kenapa Rah?, salah aku apa?"
"Kamu tidak punya salah, hubungan kita yang salah" Zahra menggertak menoleh pada Farhan, membuat Iris mata mereka bertemu, sekian detik berlalu tanpa suara, Zahra kemudian memalingkan wajahnya
"Aku, aku malu pada diriku, pada Allah” suara Zahra melemah.
Farhan tertunduk lesu, ia paham benar maksud Zahra. Sejak lama ia memang merasa ada yang ganjil dengan hubungan ini. Terasa aneh gadis yang selalu mengingatkannya sholat, gadis dengan hijab besar, malah berpacaran. Namun ia tak ingin melepaskan karena begitu mencintainya.
"Aku ingin hijrah, hijrah yang sebenarnya. Aku sudah hijrah penampilan. Tapi ternyata hati ku belum hijrah dari yang haram"
"Kita ini salah" Zahra menaikkan suaranya
"Rah, perasaan tidak bisa di salahkan"
"Ia, perasaan memang tidak salah, tapi orientasinya yang salah" Zahra menggenggam erat pasir lalu membuangnya
"Jika kita suka sama seseorang, kita tidak boleh meraihnya dengan cara yang salah pasti nanti akan bermasalah" Zahra menoleh singkat
Farhan menghembuskan nafas panjang
"Aku tidak ingin berpacaran lagi. Tidak dengan kamu juga siapapun”
Farhan hanya diam, melihat dalam wajah Zahra dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir mungilnya.
"aku berharap kamu bisa mengerti, dan membantuku dalam hal ini. Tolong"
"baiklah Rah. Aku mengerti. Aku paham, aku akan mengabulkan keinginanmu itu" Farhan tersenyum
"Kamu serius?" Keyla menoleh dengan senyuman
Iris mata mereka saling menumbuk, Zahra dapat melihat bayangannya didalam mata Farhan. Tidak sadar sekian detik terlewat saling menatap dalam-dalam. Zahra tersadar, segera ia memalingkan wajahnya.
"Astagfirullah" Batinnya
"Terimakasih sudah bisa mengerti. Alangkah lebih baiknya kalau kamu ikut berhijrah" pintanya
Zahra legah. Akhirnya ia mampu membicarakan hal ini, hal yang sejak lama ia pendam.
Suasana hening, yang terdengar hanya suara desiran pantai.
"Oh ya Key, tadi ada ta'lim kan? tema nya apa?" Farhan berusaha mencairkan suasana
"Halalkan atau tinggalkan”
"Heemm" Farhan berdehem
"Aku harus pergi, tidak baik berduaan seperti ini, ini terakhir kalinya kita khalwat"
Farhan tidak banyak bicara, ia lebih sering diam karena menahan sesak di dada.
"Oh ya. Aku punya sesuatu buat kamu"
Zahra mengeluarkan benda berbentuk persegi panjang yang di balut kertas bermotif kotak dari dalam tasnya kemudian di berikan kepada Farhan
Farhan menerimanya dengan senyuman
“Aku pamit assalamualaikum" Zahra berdiri dan meninggalkan Farhan yang masih melihatnya hingga akhirnya bayangan gadis itu tak terlihat lagi.
"Apa ini? Aku buka deh"
Farhan tak Sabar, segera ia membuka. Merobek kertas itu dengan hati-hati agar tak rusak .Meskipun kertas itu hanya pembungkus namun cukup berarti karena disitu ada bekas tangan Zahra.
"Jomblo mulia atau nikah muda" Farhan membaca tulisan di benda itu kemudian memeluk erat.

***
Hari demi hari mereka lewati, tidak ada lagi pesan-pesan pengingat, tidak ada lagi notif khusus. Sejak hari itu Farhan tidak pernah menghubungi Zahra, begitu pun sebaliknya. Di kampus mereka juga tidak pernah bertemu. Hal ini sangat membantu Zahra membiasakan hari-hari tanpa pemuda itu. Meskipun awalnya sangatlah sulit, bahkan dia harus menitip hp pada ibunya agar dia tak tergoda untuk menelvon atau pun stalking sosmednya.
Hari ini genap 3 tahun sejak pertemuan terakhirnya dengan Farhan. Mereka sudah mencapai semester akhir. Zahra sebenarnya masih menyukainya, namun Allah membantu dia menaklukkan rasa suka itu.
"Ciee tinggal tunggu yudisium nie " Fitri menggoda Zahra yang sedang duduk di perpustakaan
"Alhamdulillah Fit"
"Zah, gimana kalau nanti pas wisuda aku dilamar pangeran impianku? Kan keren tuh aaaa" Fitri kegirangan sendiri
"memangnya ada ?" Zahra memicingkan matanya
"Ada dong, liat saja nanti"
"kalau wisuda nanti kamu dilamar, aku sudah bakalan foto bareng suami aku, hahaha" Zahra tertawa menimpali candaan sahabatnya
"tidak mau kalah kamu, hehe memangnya kamu sudah ada yang lamar?"
"belum ada, hehe” Zahra tertawa lagi
Di hari yudisium, nama mahasiswa di panggil satu persatu, hingga akhirnya Zahra dapat melihat kembali Farhan untuk yang pertama kalinya
"Muhammad Farhan Firdaus" lulus dengan predikat cumlaude
Farhan berdiri, mahasiswa lain memberikan tepuk tangan .
Zahra memegang dadanya, ternyata debaran itu masih ada. Di tersenyum Farhan terlihat berkharisma menggunakan jas hitam. Farhan berbalik dan melihat Zahra .Zahra segera menunduk.
Setelah acara yudisium selesai, semua mahasiswa berfoto.
Farhan menghampiri Zahra.
Zahra kaget tak menyangka Farhan akan menyapanya
"Hai Rah, "
"Hai, selamat yah cumlaude ni" Zahra tampak salah tingkah
"Terimakasih, kamu kan juga cumlaude" Farhan tersenyum.
"Oh ya, rumah kamu masih disana kan? Di jalan mawar?"
"Ia, rumah ku masih disana. kenapa ?" Zahra mengeritkan dahinya
"Alhamdulillah, tak apa, hanya tanya" Farhan Pergi meninggalkan Zahra yang masih kebingungan

***
Hari itu Zahra pergi bersama Fitri mencari busana untuk dipakai di hari wisuda. Setelah sekian lama berkeliling mencari ia akhirnya mendapatkan baju yang dia sukai
Mereka keluar dari pusat perbelanjaan. Zahra mengantar Fitri. Kemudian kembali kerumah. Ketika sampai , ia melihat ada mobil parkir di depan rumahnya.
"Ayah ada tamu?" batinnya
"Wah, berapa tamu ayah," Zahra melihat sepatu dan sandal yang cukup banyak di depan pintu.
"Assalamualaikum" Zahra membuka pintu. Melangkah masuk. Namun ketika pandangannya tertuju ke ruang tamu , matanya membulat
"Farhan??"
Tamu yang datang adalah Farhan, ibu, ayah juga adiknya, Fauzan.
"Waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan
"Zahra sudah pulang. Ayo sini dulu nak" Ibunya mengajak duduk
Zabra menatap Farhan ,bingung. Sedang Farhan hanya tersenyum.
"Bu, ada apa ini?"
“Biar Pak Rahman saja yang jawab yah” ucap Ibunya
"Begini nak Zahra, kedatang bapak kemari bersama keluarga, hendak ingin melamar kamu untuk Farhan"
"Apa?” Zahra begitu kaget mendengarnya, sampai tak dapat berkata-kata. Ada rasa bahagia , haru. Di tak menyangka hal ini akan terjadi
"Kalau nak Zahra berkenan , ingin mengenal Farhan lebih dalam, kita bisa lakukan Ta'aruf"
"Tidak perlu ta'aruf Ayah, kan kak Zahra sama Kak Farhan sudah saling kenal sejak lama, langsung menikah saja" Fauzan ikut berbicara, membuat suasana Semakin hangat terasa.
Zahra hanya tersenyum
"Ya Allah, begitu indahnya Jalan ceritamu. Aku memang masih menyayanginya. Aku meninggalkan dia karena Mu, dan engkau mengirimkannya untukku , Aku tahu dia telah menjadi pemuda yang lebih baik, aku selalu mendengarkan Lantunan Adzan Subuhnya di Masjid Ar-Rahman, aku tau itu dia." Batinnya
Zahra menatap Farhan, dan tersenyum
"Jika memang aku adalah tulang rusuknya, insyaa Allah Aku terima" Zahra tersipu malu
"Alhamdulillah" Semuanya berucap syukur
***
Hari H itu telah tiba. Sebelum hari wisuda.
Acara akad nikah dihadiri banyak sanak saudara, teman kampus juga komunitas hijrah. Di sambung acara walimah yang begitu megah. Semuanya bahagia.
Farhan dan Zahra duduk di tepi Kolam, mengasingkan diri dari keramaian. Baru sekarang mereka punya waktu berduaan
"Rah, aku sangat mencintaimu" Farhan memulai percakapan
"Hem" Zahra hanya tersenyum
"Kamu benar, Allah punya cerita indah untuk makhluknya. Terimakasih waktu itu kamu berani mengambil keputusan." Farhan menggenggam tangan Zahra. Tangan yang sejak lama ia rindukan
"Terimakasih juga, kamu masih mau datang kerumah. Aku pikir kamu tidak ada keinginan untuk datang melamarku"
"kamu tau tidak, setelah tamat membaca buku darimu, aku bertekat ketika aku sudah siap menikah, maka pintu pertama yang aku ketuk adalah pintu rumahmu" Farhan mencium kening Istrinya.
Zahra telah menjadi istrinya , kisah cinta yang begitu mempesona. Keduanya telah menjadi pribadi yang lebih baik, hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka kembali untuk mengikat tali cinta suci yang Allah Berkahi.

Tolitoli, 1 September 2019

  Komentar untuk Cerpen "Hijrah Cinta"

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Urgensi INPRES No. 6 Tahun 2020, Diketahui Warga…!!

    Nawir Sikki  di  Manggala, Makassar  |  6 Aug 2020
  2. Ibu - Ibu Dusun Gridi ds pacuh Ajak Masyarakat Hidup Sehat Dengan Gowes Setiap Minggu Pagi

    Media Online  di  Balongpanggang, Gresik  |  9 Aug 2020
  3. Resiko Penularan Covid-19, Apabila Tidak Pakai Masker...!!

    Nawir Sikki  di  Manggala, Makassar  |  7 Aug 2020

Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar

    Urgensi INPRES No. 6 Tahun 2020, Diketahui Warga…!!

    Nawir Sikki  di  Manggala, Makassar  |  6 Aug 2020
  2. 3
    Komentar

    Pengelolaan Lahan Pangan Oleh Pattiro Gresik

    Nensi Indri  di  Kedamean, Gresik  |  5 Aug 2020
  3. 3
    Komentar

    Peringati Hari Jadi ke-9, PRKI Adakan Santunan Anak Yatim

    Berita PRKI  di  Singaparna, Tasikmalaya Kabupaten  |  11 Aug 2020
  4. 2
    Komentar