CERITA PILU BAGIAN UTARA PULAU LOMBOK

56097 medium post 62139 b845eab9 7453 4c0e 899e ad00b5a66b8c 2019 03 28t20 00 38.501 08 00
Pascagempa 7,0 dan 6,9 Skala Richter mengguncang Lombok Utara, masyarakat KLU kini berusaha bangkit dari keterpurukan psikologis yang masih taurama dan bertahan hidup di pengungsian-pengungsian. Gempa itu  menghancurkan rumah kami dan canda-tawa  anak-anak. Selain rumah, fasilatas umum pun menjadi korban amukan bencana itu. Semuanya roboh dan luluh lantah tidak ketercuali Desa Sigar Penjalin.

Bangunan yang dulu kokoh dan tegak kini sudah tidak berbentuk sama sekali. Di sepanjang jalan yang terlihat hanya bagunan yang sudah rata dengan tanah. Berjalan di desa ini tak ubahnya seperti berada di kota mati yang tidak berpenghuni, begitu sepi, hanya telihat beberapa warga yang mencoba mengkais runtuhan bangunannya berharap masih ada tersisa barang yang dapat digunakan serta makanan sebagai variasi makanan kami selain Mie Instan di pengungsian.

Tidak pernah terbayang sedikitpun peristiwa ini akan kami alami, teriakan kata “Tolong” masih saja menghantui tidur kami. Tangisan bayi hingga renta tidak pernah alfa dalam tenda-tenda pengungsian. Malam hari setelah salat Isa lantunan Tahlilan selalu terdengar di masjid darurat sebagai tanda adanya warga yang meninggal. Itu tradisi masyarakat kami sebagai bentuk doa agar si mayit mendapat ampunan dan diterima segala amal ibadahnya oleh Sang-Khalik.

Hampir 3 bulan kami di pengungsian, terlihat raut wajah yang rindu kenyamanan kasur dan lauk-pauk pada warga pengungsian, bagaimana tidak, selama 3 bulam pula kami tidur hanya beralasan tikar dan makan hanya seadanya. Dingin malam dan panasnya siang menambah catatan suka duka kami.

Dalam keterpurukan kami tetap berusaha beraktivitas sembari berharap rasa trauma bisa hilang sejenak bahkan selamanya dari ingatan kami. Men­­jelang siang sejumlah bocah yang mengenakan pakaian seada­nya bermain bersama di ha­laman posko utama, mungkin itu cara mereka agar tidak mengingat tragedi itu. Di  bawah tenda, kaum ibu  berkumpul bersama dan be­berapa di antaranya mene­mani dan mendendangkan balita  di  ayunan. Sedangkan beberapa perempuan paruh baya menyiapkan nasi dan mei instan di dapur umum posko  tempat kami bermalam selama ini. Sedangkan bapak-bapak dan para remaja gotong royong memperbaiki tenda-tenda yang sudah mulai terlihat lelah tertepa angin dan panas.

Sementara itu, di jalan mobil relawan silih berganti memberi bantuan pada kami, baik itu berupa logistik maupun berupa jasa. Bagi kami mereka adalah pahlawan tanpa pamrih. Mereka memang tidak berjuang dengan mengangkat senjata. Namun, mereka melakukan hal yang lebih luar biasa, berjuang menghidupkan hidup. Kami melihat mereka selalu  menguatkan diri satu sama lain, saling melindungi, dan memberikan mimpi pada anak-anak. Mereka adalah inspirasi dalam hidup kami yang tidak menutup mata dan telinga dengan panggilan kemanusiaan, sekali lagi mereka adalah para pahlawan pemberani dan tulus.
Sudah dilihat 49 kali

Komentar