CELENGAN BAMBU

38451 medium post 46214 cd7d205a 349e 4882 b466 b39a5ff08520 2018 11 10t11 11 36.703 07 00 39397 medium post 46214 6df493a2 a3c9 4ad0 8a3a 72044a6d499a 2018 11 17t16 09 20.865 07 00
CELENGAN BAMBU

Ameng, (salah satu pengurus Forkom UMKM kecamatan Pakualaman) demikian biasa laki-laki paruh baya ini disapa, mencoba mengulik lagi kenangan masa lalunya saat tiang penyangga rumahnya dulu biasa digunakan kedua orang tuanya untuk menyimpan uang.

“Tiang bambu itu lalu dicongkel [dilubangi] sedikit dan orang tua saya memasukkan beberapa uang untuk disimpan di tiang tersebut,” ujar Ameng kepada Mahasiswa STIM YKPN , baru-baru ini

Bagi masyarakat desa, tiang bambu menjadi tempat yang aman untuk menyimpan uangnya. Kini, melalui inspirasi tersebut, Ameng membuat celengan bambu yang sudah merambah pasar mancanegara.


Kendati merupakan produk sederhana, namun celengan yang dilabeli dengan nama AAA Collection ini justru diminati berbagai kalangan. Tampilan unik dan klasik, membuat konsumen menengah atas tertarik, bukan untuk difungsikan sebagai tempat menabung.

“Awalnya mereka kebanyakan tertarik karena unik dan untuk dijadikan suvenir. Berbeda dengan konsumen anak sekolah yang lebih memanfaatkan sebagai celengan,” ungkap Ameng.

Celengan bambu dengan ukuran wayang, batik hingga hiasan unik lainnya bukan bisnis pertama yang dijalankan Ameng. Sebelumnya, Ameng juga memulai beberapa bisnis lainnya. Namun, keunikan bambu menarik dia untuk lebih mengembangkan bisnis ini.

Dalam satu bulan, Ameng mengaku dapat memproduksi sekitar 1.000 buah celengan dengan berbagai ukuran. Bermodalkan sisa usaha sebelumnya yakni sebesar Rp7,5 juta Ameng memulai bisnisnya sejak enam tahun lalu.

Kini, usaha ini tak lagi dikerjakannya sendiri, tetapi bersama beberapa karyawan yang khusus memotong bambu, mengukir dan finishing.

Celengan bambu produksi Ameng tak hanya dipasarkannya sendiri, baik melalui pameran yang diselenggarakan pemerintah maupun dijual secara mandiri. Sejumlah pedagang juga memesan celengan bambu miliknya, untuk dijual kembali.

“Satu batang bambu biasanya bisa jadi 15 jenis celengan. Saya menjualnya sebagai suvenir mulai dari Rp5.000 sampai Rp30.000,” imbuh Ameng.
Sudah dilihat 115 kali

Komentar