Cara Bicara Kepada Anak Tentang Kejahatan Terorisme

25468 medium cara bicara kepada anak tentang kejahatan terorisme
Tragedi bom bunuh diri yang terjadi kemarin, 13 Mei 2018, di 3 gereja Surabaya membuat kita marah dan berduka. Peristiwa ini sudah barang tentu menyita perhatian nasional bahkan juga tak luput dari perhatian anak. Terutama jika ia ikut menemani kita menonton televisi untuk mengetahui perkembangan terbaru. Barangkali ia akan mengajukan pertanyaan yang mengarah pada aksi terorisme, atau kita yang berinisiatif menjelaskan kepada anak tentang hakikat terorisme.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru-baru ini merilis panduan bagi orangtua cara bicara pada anak tentang kejahatan terorisme.

1. Cari tahu apa yang mereka pahami, bahas secara singkat apa yang terjadi, meliputi fakta-fakta yang sudah terkonfirmasi, ajak anak untuk menghindari isu spekulasi.

Pantau pemberitaan dari media yang jelas kredibilitas penyampaian informasi, ketimbang kabar dari media sosial yang sulit diklarifikasi. Hanya ceritakan pada anak mengenai fakta

2. Hindari paparan terhadap televisi dan media sosial, yang sering menampilkan gambar dan adegan mengerikan bagi kebanyakan anak, terutama anak di bawah usia 12 tahun.

Ketidakpahaman banyak pihak tentang aturan mengunggah foto dan video korban kekerasan di media sosial, sehingga sering ditemukan konten yang tidak layak tonton.

3. Identifikasi rasa takut anak yang mungkin berlebihan, pahami bahwa tiap anak memiliki karakter unik. Jelaskan bahwa kejahatan terorisme sangat jarang, namun kewaspadaan tetap diperlukan.

Salah satu langkahnya, ceritakan tentang terorisme dengan suara dan mimik muka yang tenang.

4. Bantu anak mengungkapkan perasaannya terhadap tragedi yang terjadi. Bila ada rasa marah, arahkan pada sasaran yang tepat, yaitu pelaku kejahatan. Hindari prasangka pada identitas golongan yang didasarkan pada prasangka.

5. Jalani kegiatan keluarga secara normal untuk memberikan rasa nyaman, serta tidak tunduk pada tujuan teroris mengganggu kehidupan kita, kebersamaan dan komunikasi rutin penting untuk mendukung anak.

6. Ajak anak berdiskusi dan mengapresiasi kerja para polisi, TNI, dan petugas kesehatan yang melindungi, melayani, dan membantu kita di masa tragedi. Diskusikanlah lebih banyak tentang sisi kesigapan dan keberanian mereka daripada sisi kejahatan pelaku teror.

Sumber: Kemdikbud.go.id

Komentar