BUNDA, YANDA... AKU ADALAH CERMINAN DIRIMU (bagian 2)

43904 medium img 20170323 085505
Di buku Tarbiyatul Aulad yang ditulis oleh Abdullah Nashih Ulwan dijelaskan bahwa keteladanan dalam pendidikan merupakan sarana paling efektif dan berpengaruh dalam mempersiapkan anak , baik dari segi akhlaq, pembentukan jiwa dan sosialnya. Sebab pendidikan adalah teladan paling ideal dimata anak. Teladan yang baik dimata anak akan ditiru anak, baik dari segi tingkah laku maupun akhlaq, disadari maupun tidak disadari. Bahkan gambaran perkataan, perbuatan, perasaan dan moralnya akan mengimbas secara langsung didalam diri dan perasaannya, diketahui maupun tidak diketahui.
Tidak diragukan lagi bahwa teladanan merupakan faktor yang amat besar pengaruhnya dalam membentuk perilaku anak menjadi baik atau buruk. Jika pendidik adalah orang baik, memelihara amanat, berakhlaq mulia, pemberani dan menghindari hal-hal yang tidak baik, anak tentu terdidik pada kebenaran, amanat, akhlaq, kemuliaan, keberanian dan menghindari hal-hal yang tidak baik pula. Jika pendidiknya adalah seorang pendusta, penghianat, kikir, penakut dan hina, maka anakpun akan tumbuh pada kedustaan, penghianatan, kebebasan, ketakutan, kekikiran dan kehinaan.
Sekalipun anak memiliki kesiapan besar untuk menjadi baik, sekalipun fitrahnya bersih dan lurus, tapi dia tidak akan tertuntun pada prinsip-prinsip pendidikan yang utama selagi pendidik tidak memiliki akhlaq dan nilai-nilai kemuliaan yang luhur.
Terlalu mudah bagi seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada anak, tetapi tidak demikian dengan anak. Mereka tidak begitu saja dengan mudah mempraktekkan apa yang sudah diajarkan, sementara mereka melihat dan mendengar orang-orang dewasa di lingkungannya memprkatekkan hal-hal yang tidak selaras dengan apa yang sudah diajarkan.
Seorang penyair arab membuat sindiran-sindiran dalam bait-bait syairnya tentang guru yang seharusnya menyelaraskan antara perilakunya sendiri dengan apa yang sudah diajarkannya.
“Wahai orang-orang yang mengajari sesama
mengapa dirimu tidak pula kau ajari ?
kau berikan obat kepada orang sakit dan menderita
sedangkan kau biarkan dirimu sakit dan menderita
mulailah dari dirimu yang lebih layak
jika sudah tuntas engkau bisa disebut bijak
disana ada orang yang menerima nasehatmu
mengikuti ilmumu hingga benar-benar bermanfaat”

Saya teringat dengan anak-anak saya di PAUD, pernah saya merasa kebingungan menghadapi salah satu siswa saya di kelompok A (usia 4-5 tahun), berbagai cara saya lakukan untuk mendisiplinkannya, tetapi belum juga berhasil. Sampai suatu saat saya tidak sadar, spontan berkata dengan nada tinggi kepadanya, ternyata dia langsung nurut. Saya jadi berfikir ada apa dengan anak ini, sampai saya dapat informasi, ternyata di rumahnya, anak ini selalu mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya, anak ini terbiasa didisiplinkan dengan cara kekerasan, sehingga metode guru disekolah untuk mendsiplinkan anak tidak melalui kekerasan, tidak begitu efektif bagi anak tersebut.
Ada lagi yang terjadi sebaliknya pada salah satu peserta didik saya, begitu mendengar gurunya berbicara dengan nada sedikit tinggi, dia lansung gemetar ketakutan, dan besoknya tidak mau masuk kelas lagi. Anak ini menggambarkan kondisi lingkungannya dirumah, dia terlahir dari keluarga harmonis, dia tidak pernah mendengar orang-orang dewasa dirumahnya berbicara dengan nada suara tinggi, orang tuanya mendisiplinkan anak-anaknya dengan kelembutan dan penuh kasih sayang. Begitulah anak-anak kita adalah gambaran perilaku dari orang-oarang dewasa di sekitarnya, baik itu orang tua maupun gurunya.

Akhir kata, semoga kita sebagai guru di lembaga pendidikan dan orang tua dirumah, mempu menjadi panutan bagi generasi bangsa ini.
Semoga Allah Ridhoi...
Sudah dilihat 41 kali

Komentar