BUNDA, YANDA... AKU ADALAH CERMINAN DIRIMU (bagian 1)

43898 medium img 20170210 170003
Keteladanan dalam pendidikan merupakan bagian dari sejumlah metode yang paling ampuh dan efektif dalam mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual, dan sosial. Sebab, seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam panda‎ngan anak, yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru, disadari atau tidak, bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, hal yang bersifat material, inderawi, maupun spiritual. Meskipun anak berpotensi besar untuk meraih sifat-sifat baik dan menerima dasar-dasar pendidikan yang mulia, ia akan jauh dari kenyataan positif dan terpuji jika dengan kedua matanya ia melihat langsung pendidikan yang tidak bermoral. Memang yang mudah bagi pendidik adalah mengajarkan berbagai teori pendidikan kepada anak, sedang yang sulit bagi anak adalah mempraktekkan teori tersebut jika orang yang mengajar dan mendidiknya tidak pernah melakukannya atau perbuatannya tidak sesuai dengan ucapannya.

Teladan yang baik merupakan landasan yang fundamental dalam membentuk anak , baik dalam segi agama maupun akhlaq. Anak tidak melihat kecuali orang-orang disekitarnya dan tidak meniru kecuali orang-orang disekitarnya pula. Jika dia melihat kebaikan, maka dia akan menirunya dan tumbuh pada kebaikan itu. Jika dia melihat keburukan, maka dia akan menirunya dan tumbuh pada keburukan itu. Jika sudah begitu, tentu sulit untuk merubahnya. Seorang penyair arab mengatakan ,
“Adab bermanfaat bagi anak selagi masa dini
dan tiada lagi berguna setelah dia dewasa
ranting kecil itu akan lurus jika engkau meluruskannya
tidak begitu adanya jika dia menjadi batang”.

Dalam hal ini saya setuju sekali dengan sebuah ungkapan yang pernah saya dengar dari orang tua, ungkapan yang di ucapakan sambil bergurau, tetapi pada dasarnya gurauannya itu adalah sebuah prinsip pembelajaran, “bayar dimuka lebih baik daripada bayar dibelakang”. Artinya setiap orang tua itu harus berinvestasi pada anaknya, ketika masih kecil, anak butuh waktu yang banyak, biaya besar, tenaga yang cukup, pikiran yang tidak kecil, perasaan yang lapang juga. Tetapi pengobanan orang tua itu akan dibayar dengan senyum dan kebahagiaan kelak setelah anaknya dewasa dan menjadi kebanggaan orang tuanya.
Akan tetapi akan berbeda ceritanya ketika orang tua tidak pernah mau berkorban untuk membesarkan anak-anaknya, anak-anaknya tumbuh begitu saja, tanpa perhatian yang cukup, tanpa pendidikan yang benar, tanpa teladan yang tepat. Memang tidak menutup kemungkinan anak tersebut akan sukses, tapi apakah kita sebagai orang tua pantas berbangga, mengatakan bahwa itu anak saya, sedangkan tidak pernah ada investasi apapun dari orang tuanya ketika dia masih kecil?. Lalu ketika dia gagal, kita mencari kambing hitam, menutupi kesalahan sendiri, dengan mengatakan bahwa anak kita gagal karena pengaruh lingkungan, karena kesalahan pendidikan, dan lain sebagainya. kita lupa bahwa lingkungan pertama yang akan dia jadikan literatur adalah kita orang tuanya, pendidikan pertama yang dia terima adalah dari kita orang tuanya. Oleh karena itu sebelum semua terlambat, bayar dimuka tetap lebih aman daripada bayar dibelakang, bercapek-capek ketika dia masih kecil jauh lebih baik daripada malu dan kecewa ketika dia sudah dewasa.
Semoga Allah Ridhoi...


Sudah dilihat 48 kali

Komentar