BUDAYA LITERASI RELIGIUS SEKOLAH UMUM HARUS SERIUS

38894 medium post 46527 0156fb2c 120c 4ee2 8415 109b8866e54d 2018 11 14t12 52 35.482 08 00 38896 medium post 46527 344643a4 67bf 4c76 9253 ec2d8df048f8 2018 11 14t12 52 36.244 08 00 38895 medium post 46527 ec47c38a 95ec 49f4 948d 3afbe56aea4e 2018 11 14t12 52 35.932 08 00 38897 medium post 46527 6f109760 908b 451e 9a9e 0a6386008703 2018 11 14t12 52 36.537 08 00
Paradigma program-program religi di sekolah-sekolah umum, sampai hari ini masih menjadi satu hal yang langka. Dan kalaupun ada di beberapa sekolah, akan sulit bertahan menjadi tradisi yang diistiqomahkan. Berbeda dengan madrasah atau pondok pesantren yang memang struktur kurikulumnya didominasi oleh hampir sebagian besar benuansa religius, meskipun tetap ada mata pelajaran umum yang sama dengan sekolah umum di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Disamping itu, pola kepemmpinan kepala sekolah juga sangat menentukan, apakah sekolah yang bersangkutan memiliki program-program unggulan yang berbasis religi atau tidak. Belum lagi adanya rotasi dan mutasi guru yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi, akibat dari kepentingan internal maupun eksternal sekolah. Kepentingan internal yang dimaksud yaitu distribusi tugas-tugas tambahan yang tidak sesuai kompetensi akibat dari kekurangan jam sebagai syarat validasi dapodik untuk kebutuhan sinkronisasi tunjangan profesi sang guru. Sedangkan yang dimaksud kepentingan eksternal yaitu adanya kebijakan mutasi yang diintervensi oleh kepentingan-kepentingan individu atau kelompok tertentu yang dapat mengganggu stabilitas program sekolah, karena pergantian wewenang dan kewenangan.
Hal tersebut di atas merupakan persoalan klasik yang sampai hari ini masih menjadi topik hangat diskusi yang tidak ada ujung pangkalnya. sebab semuanya bermuara pada regulasi-regulasi pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan sebagai pemegang kendali masalah.
Terlepas dari persoalan-persoalan di atas, sekolah sebagai laboraturium intelektual, harus memiliki branding yang dapat dijual kepada para stakeholder-stakeholder sebagai pelanggan pendidikan. Untuk itu, mutu harus menjadi sorotan utama yang harus diperhatikan, apabila sekolah ingin melahirkan output dan outcome yang berkualitas.
Salah satu upaya selain kegiatan ekstrakulikuler sekolah diaktifkan, kegiatan intrakulikuler juga harus terus dipompa maksimal sehingga terbangun tradisi intelektual peserta didik secara ilmiah. Sebagaimana yang saat ini dilakukan oleh salah satu sekolah umum di kecamatan Kopang (SMPN 3 Kopang), yang membangun tradisi literasi religius dalam bentuk mengaji pagi pada jam ke nol, sekaligus menjadi kelas inspirasi bagi para siswa untuk memulai hari-hari mereka dengan semangat Qur'ani, ditambah lagi dengan siraman motivasi-motivasi tentang kehidupan yang diberikan oleh para guru secara terjadwal sebagai tambahan pencerahan dalam pembangunan karakteristik dan mental serta daya juang para peserta didik dalam meningkatkan kualitas mereka. #LombokBangkit #LombokBersamaAtmaGO
Sudah dilihat 122 kali

Komentar