BMKG memaparkan rentetan kejadian sebelum terjadi Tsunami di Banten

43697 medium img 20181223 wa0035
Leeat konfrensi pers di gedung BMKG, Jakartq, minggu (23/12/2018),Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati paparkan kejadian sebelum terjadinya Tsunami di pantai kawasan Selat Sunda.
Berawal pada tangal 21 Desember, BMKG deteksi erupsi anak gunung Krakatau kemudian lewat Dwikorita memaparkan di tanggal yang sama sekitar pukul 13.51 WIB, BMKG mengumumkan erupsi gunung anak Krakatau dengan status level Waspada.
"Kemarin pukul 13.51 WIB pada tanggal 21 Desember Badan Geologi telah mengumumkan erupsi gunung anak Krakatau dan levelnya pada level Waspada," kata Dwikorita.
Kemudian di tanggal 22 Desember, BMKG umumkan peringatan dini potensi gelombang tinggi
Pada Sabtu (22/12/2018), kata Dwikorita, BMKG mengeluarkan peringatan dini sekitar pukul 07.00 WIB akan potensi gelombang tinggi di sekitar perairan Selat Sunda.
"Diperkirakan (gelombang tinggi terjadi) kemarin tanggal 21 hingga nanti 25 Desember 2012. Ini peristiiwa beda tapi terjadi pada lokasi yang sama. Yang pertama erupsi Gunung Krakatau dan potensi gelombang tinggi," katanya.
Sekitar pukul 09.00-11.00 WIB, tim BMKG ada yang sedang berada di perairan Selat Sunda melakukan uji coba instrumen.
Iya katakan saat pengujian, cuaca sedang buruk.
"Di situ memang terverifikasi bahwa terjadi hujan lebat dengan gelombang dan angin kencang, karena itu tim kami segera kembali ke darat," ujarnya.
Berlanjut kembali 22 Desember pukul 21.03 WIBi gunung anak Krakatau erupsi lagi.
Alat yang terpasang di perairan selat sunda yakni tide gauge (alat pendeteksi tsunami) mendeteksi kenaikan permukaan air.
"Dan kami analisis, kami memerlukan waktu analisis apakah kenaikan air itu air pasang akibat fenomena atmosfer yang tadi ada gelombang tinggi? Jadi memang ada fase seperti itu. Namun ternyata setelah kami analisis lanjut gelombang itu merupakan gelombang tsunami," kata dia.
Lewat alat tide gauge didapat kenaikan gelombang 0,9 meter di pantai Jambu, Desa Bulakan, Cinangka, Serang, pukul 21:27 WIB
Berlanjut di di pelabuhan ciwande setinggi 0,36 meter pukul 21:33 WIB.
"Kemudian tidegauge Banten di pelabuhan Ciwandan, tercatat pukul 21.33 WIB ketinggian 0.35 meter," kata Dwikorita.
Berdasarkan cirinya, tsunami di selat sunda memiliki kemiripan dengan yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah lalu, yakni periode pendek-lendek.
"Periodenya (periode gelombang) pendek-pendek," katanya.
Iya menghimbau agar masyarakat yang tinggal di perairan selat sunda agar tidak termakan informasi hoaks dan menjauh dari pantai tersebut.
"Masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Juga diiimbau untuk tetap menjauh dari pantai perairan Selat Sunda, hingga ada perkembangan informasi dari BMKG dan Badan Geologi," ujarnya.
Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2018/12/23/09273881/kronologi-tsunami-di-banten-versi-bmkg #pray4selatsunda #pray4anyer
Sudah dilihat 64 kali

Komentar