BMKG: IOWave18, Kesiapsiagaan Menghadapi Tsunami di Kawasan Samudera Hindia

32095 medium bmkg iowave18  kesiapsiagaan menghadapi tsunami di kawasan samudera hindia
Sebagai penyedia peringatan informasi peringatan dini tsunami (Tsunami Service Provider) di Samudera Hindia, BMKG berkoordinasi dengan IOC/UNESCO melalui ICG/IOTWMS menggelar kegiatan Indian Ocean Wave Exercise (IOWave18), yang merupakan kegiatan latihan rutin dua tahunan sistem peringatan dini dan mitigasi tsunami untuk negara negara di sepanjang tepian Samudera Hindia.

BMKG dalam hal ini berperan dalam mendesiminasikan peringatan dini tsunami ke National Tsunami Warning Center (NTWC) di 24 negara Samudera Hindia, yang nantinya akan diteruskan kepada Badan-Badan Penanggulangan Bencana / Disaster Management Offices (DMO) yaitu BNPB dan BPBD di masing masing negara serta ke masyarakat terancam di wilayahnya. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Rahmat Triyono, ST, Dipl, Seis, M.Sc di depan para awak media

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa dalam tingkat nasional, BMKG juga berperan sebagai NTWC yang bertanggung jawab untuk seluruh wilayah Indonesia, BMKG akan menyebarkan peringatan dini tsunami kepada para pemangku kepentingan untuk diteruskan kepada masyarakat" tambahnya.

Kegiatan IOWave 2018 menjadi salah satu bentuk sumbangsih Indonesia dalam menyambut International Tsunami Awarenss Day uang jatuh pada tanggal 5 November setiap tahunnya. Selain itu kegiatan ini bertujuan untuk memvalidasi rantai informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami mulai dari diseminasi, pemahaman produk dan moda komunikasi, serta melatih kesiapsiagaan daerah, masyarakat dan media.

IOWave18 Indonesia digelar bersama BNPB dan BPBD dengan dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Maritim, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), BPPT, BIG, Kemlu, LIPI, Praktisi PRB, Metro Tv dan Trans 7. Dan juga melibatkan 12 lokasi di Indonesia yang turut berpartisipasi, yaitu Jakarta, Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Selatan, Sibolga, Nias, Pariaman, Padang, Pandeglang, Pangandaran, Daerah Istimewa Yogjakarta, Pacitan dan Bantul.

Pada saat simulasi berlangsung, BMKG melakukan 2 skenario, skenario pertama gempa bumi berkekuatan 9.0 di Makran Iran yang terjadi pada jam 13.00 WIB (4 September 2018) sedangkan skenario kedua gempa bumi berkukatan 9.3 di Sunda Trench yang terjadi pada jam 10.00 WIB (5 September 2018). Dalam simulasi kali ini juga ditindaklanjuti dengan Tabletop Exercise dan Tsunami Drill dalam mengantisipasi Tsunami dan pengujian prosedur tetap.

Diharapkan dengan terselenggaranya program gladi yang dilakukan rutin setiap 2 tahunan ini akan menjadi masukan berharga bagi proposal perbaikan Tsunami Masterplan Indonesia yaitu penyusunan agenda Indonesia dalam perbaikan sistem penanggulangan bencana tsunami di kawasan Samudera Hindia.

Memperbaiki Sistem Peringatan Dini Tsunami dan Meningkatkan Literasi Masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, beberapa pihak yang terlibat dalam simulasi IOWAVE18 yang terdiri dari Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng sebagai ketua grup Koordinasi untuk sistem peringatan Dini tsunami di Wilayah Samudera Hindia (ICG/UNESCO), Yuliandre Darwis Ketua KPI Pusat dan Perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Maritim Arief Rahman sangat mengapresiasi penyelenggaraan IOWave18 yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Menurut Andi Eka, kegiatan IOWave yang dilakukan setiap dua tahun sekali ini mengalami kemajuan di Indonesia, terbukti di tahun ini sudah diikuti oleh 13 daerah sedangkan 2 tahun lalu masih diikuti 3 daerah (Pacitan, Padang dan Pangandaran) Sedangkan di India diikuti oleh 328 desa dan 125.000 orang.

Sebagaimana diketahui bahwa India, Indonesia dan Australia merupakan negara yang dipercaya sebagai Regional Tsunami Provider di kawasan Samudera Hindia, yang bertugas memberikan informasi peringatan dini tsunami kepada 24 negara disamudera hindia.

Andi mengatakan "Tsunami merupakan bencana yang jarang terjadi tetapi setiap kali terjadi menimbulkan kerugian yang sangat besar. Solusi yang perlu dilakukan adalah memperbaiki sistem peringatan dini dan meningkatkan literasi masyarakat. Hal tersebut menjadi sebuah tantangan dan masalah tersendiri bagaimana masyarakat bisa sadar akan pentingnya sistem peringatan dini tsunami, sehingga dapat meminimalisir resiko yang terjadi".

Selaku perwakilan dari IOC/UNESCO, Ia juga sangat mengapresiasi karena penyelenggaraan IOWAVE kali ini di dukung oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Kementerian Koordinator Bidang Maritim sehingga kesadaran terhadap peringatan dini tsunami di Indonesia semakin baik. selain itu UNESCO juga sudah mulai memperkenalkan program Tsunami Ready Nation.

"Secara letak geografis Indonesia dikenal sebagai "Multicompleks Kebencanaan" diharapkan dengan latihan ini dapat membangun kesadaran hidup harmoni dengan potensi bencana sehingga setiap terjadi bencana masyarakat bisa lebih waspada dan siaga dan dapat melakukan evakuasi mandiri" pungkasnya.

Sumber: BMKG
Sudah dilihat 15 kali

Komentar