Bir plethok

38483 medium post 46240 83854772 8433 433f 8a05 d136801df3c9 2018 11 10t18 15 37.158 07 00
NAMANYA minuman bir plethok. Tubuh akan terasa hangat setelah meminumnya. Tapi tak perlu khawatir, minum bir itu tidak memabukkan karena tidak mengandung alkohol. Ya bir pletok ini adalah minuman berbahan rempah-rempah yang dulu dikenal sebagai minuman para raja.

Melalui minuman bir pletok itu sejumlah warga di RW 02 Gunungketur Pakualaman Yogyakarta menjadi berdaya. Tak hanya minuman dalam kemasan cair. Mereka juga menyulap minuman bir pletok menjadi serbuk instan siap seduh.

“Bir pletok ini dulu dikenal sebagai minuman raja-raja. Kami lalu coba membuatnya bersama warga dalam bentuk kemasan cair siap minum,” kata Ketua Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) Sekar Flamboyan Gunungketur, Hasna Tohir kepada Merapibelum lama ini.

Produksi minuman bir plethok warga Gunungketur yang dimulai sejak tahun 2017 selama ini telah dipasarkan di lingkup Yogyakarta, Mulai dari setiap kegiatan warga seperti bazaar Kampung Keluarga Berencana, Pasar Beringharjo hingga hotel. Tapi minuman bir pletok dalam bentuk cair kemasan botol itu hanya mampu bertahan setidaknya empat hari.

Atas saran dari Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi, ia dan anggota kelompoknya mencoba membuat minuman bir plethok kemasan instan. Dia menuturkan saat acara di XT Square, pihaknya mendapat anjuran dari wakil walikota, agar minuman bir plethok dibuat instan. Kelompok itu kemudian mencoba memproduksi bir plethok kemasan bubuk instan mulai beberapa bulan lalu. Setelah mendapatkan dukungan bantuan dari bank pemerintah, UUPKS mendapatkan pelatihan pembuatan minuman instan dan dukungan bantuan alat.

“Kalau mimuman cair bir plethok lebih mudah membuat, tapi ada batas maksimal setidaknya empaT hari. Jika kemasan bubuk instan produksinya lebih lama. Namun bisa bertahan hingga berbulan-bulan,” terangnya.

Dia menjelaskan ada 15 jenis rempah-rempah yang digunakan untuk membuat bir pletok di antaranya gula, kapulaga, cengkeh dan jahe merah. Jika dalam kemasan cair, maka pembuatannya hanya merebus air dengan semua bahan rempah dengan waktuh setengah jam. Namun untuk kemasan bir plethok bubuk instan menggunakan alat-alat skala besar dan prosesnya hingga 3 jam lebih.

“Sebenarnya sama saja proses pembuatannya. Hanya untuk minuman serbuk instan diendapkan dulu airnya dan dibuat hingga menjadi serbuk,” ujar Hasna.

Kini dalam sehari UUPKS RW 2 Gunungketur memproduksi berkisar 5 sampai 10 kg. Serbuk instan bir plethok berlabel Wedang Redjo dengan harga sekitar Rp 15.000/kemasan. Produk itu telah dipasarkan hingga Jakarta dan di salah satu hotel di Kota Yogyakarta. Dan untuk menunjang promosi lokal, Bir Plethok tersebut setiap Sabtu Kliwon juga turut hadir menyemarakkan dalam acara Sambang Sedulur desa lan Kutho bersamaan dengan acara Pergantian Bergodo Jaga Puro Pakualaman. Sedangkan bir plethok dalam bentuk minuman cair diproduksi sekitar 80 botol/hari dengan harga sekitar Rp 5.000/botol.

Pembuatan minuman bir plethok itu memberdayakan 10 anggota dari warga RW 02 Gunungketur. Dia menyatakan, separuh dari anggota kelompok tersebu dari keluarga pemegang Kartu Menuju Sejahtera (KMS) karena ketentuan pembantuan kelompok usaha bersama itu. Selain itu sebagian anggotanya dari pasangan usia subur lantaran di Gunungketur juga menjadi Kampung Keluarga Berencana (KB).

Dia menyebut hasil dari pembuatan bir plethok itu sebagian masuk kas kelompok dan untuk produksi kembali. Berkat kegiatan pembuatan minuman bir plethok itu, warga menjadi lebih produktif. Diharapkan melalui kegiatan kelompok usaha bersama itu juga bisa menambah pendapatan keluarga. Hal itu sesuai tujuan dari pembentukan UUPKS untuk meningkatkan pendapatan keluarga sejahtara.

“Dulu anggota kami hanya beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Sekarang bisa mengolah minuman bir plethok ini. Yang membuat kami bisa terus memproduksi sampai sekarang karena kami termotivaasi untuk maju bersama meningkatkan taraf hidup,” pungkas Hasna. (Tri)

Sudah dilihat 31 kali

Komentar