Bijak Berkata, Cegah Stigma Corona

7 April 2020, 14:57 WIB
2 0 128
“Jangan ke rumah Pak A dulu deh. Anaknya kan kerja di RS yang nanganin virus corona, ntar kita ketularan gimana?”

“Ibunya B meninggal mendadak lho, katanya sih pneumonia. Mending nggak usah layat ya, takutnya positif corona tapi nggak ketahuan..”

“Ibunya B meninggal mendadak lho, katanya sih pneumonia. Mending nggak usah layat ya, takutnya positif corona tapi nggak ketahuan..”

Komentar di atas bisa jadi sudah berseliweran di dunia nyata, seiring dengan semakin banyaknya jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) dan pasien yang positif terinfeksi virus corona atau COVID-19. Masyarakat semakin paranoid, apalagi pemerintah menyarankan untuk social distancing (menghindari interaksi sosial) untuk sementara. Padahal, komentar seperti contoh di atas sudah termasuk memberikan stigma sosial.

Apa Itu Stigma Sosial?
Stigma sosial dalam konteks kesehatan berarti memberikan hubungan antara etnis seseorang atau status kesehatan seseorang dengan penyakit tertentu. Pada awal merebaknya kasus di Wuhan, etnis Cina di sejumlah negara mengalami diskriminasi seperti dijauhi, tidak dapat mengakses layanan fasilitas tertentu, atau diberi label negatif. Di Indonesia, pasien yang pertama dinyatakan positif terinfeksi juga diberitakan dan diberi komentar tanpa mengindahkan perasaan oleh warganet hingga sempat mengalami depresi. Bisa dibayangkan, jika ini terjadi pada orang terdekat Anda, atau bahkan Anda sendiri, tentu rasanya sangat tidak menyenangkan.

Apa Dampaknya?
Stigma sosial dari masyarakat pada mereka yang dianggap berhubungan dengan virus corona dapat berakibat negatif pada pencegahan menyebarnya COVID-19, yaitu:
1. Membuat mereka menyembunyikan keluhan, gejala, maupun status kesehatannya untuk menghindari diskriminasi.
2. Menjadi takut untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
3. Merasa patah semangat untuk tetap mengikuti anjuran hidup sehat.

Orang yang terinfeksi COVID-19 namun tidak mengisolasi diri –terlepas dari sadar atau tidaknya orang tersebut- akan membuat penyebaran virus ini makin tak terkendali. Stigma dan ketakutan pun mudah menular dan menghambat masyarakat mendapat respons yang tepat. Karena itu, hindari membuat pernyataan atau memberikan stigma pada orang tertentu.

Jika ternyata orang di lingkungan keluarga, tempat tinggal, maupun pekerjaan Anda dinyatakan terinfeksi virus corona atau berstatus PDP, bagaimana sebaiknya bersikap?

Mempertimbangkan dengan matang apa yang akan disampaikan pada mereka, menggunakan pilihan bahasa yang tepat, serta menumbuhkan empati menjadi kuncinya. Berikut adalah sejumlah panduan berkomunikasi yang tepat untuk menghindari terbentuknya stigma sosial yang disarankan oleh Johns Hopkins Center for Communication Programs:
1. Hindari mengaitkan daerah tertentu dengan virus corona.
2. Hindari menggunakan istilah “korban corona”, “dicurigai terkena corona”, “suspect corona”.

Selengkapnya : https://bit.ly/2XfsATq
Sumber Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=bJZYzCHXDFw

  Komentar untuk Bijak Berkata, Cegah Stigma Corona

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. New Normal Starter Pack

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Cibeurum, Sukabumi Kota  |  30 May 2020
  2. Warga RW 22, Mergangsan Kidul Sulap Selokan Jadi Lahan Budidaya Ikan

    Abdul Razaq  di  Mergangsan, Yogyakarta  |  2 Jun 2020
  3. Viral Video Anak Merokok, Yayasan Lentera Anak : Pelanggaran Peraturan Dan Hak Anak

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Jagakarsa, Jakarta Selatan  |  28 May 2020
  4. Penyakit Cengkal

    Satriandesta Mahadyasastra  di  Kalipuro, Banyuwangi  |  30 May 2020

Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar

    Aceh Sukses Putus Rantai Penyebaran COVID

    Muhammad Rizal Suryadin  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  28 May 2020
  2. 3
    Komentar

    TIDAK PERLU AJARI KAMI NEW NORMAL, SUDAH BIASA BOSCU

    Dhani Rama  di  Palu Kota  |  1 Jun 2020
  3. 3
    Komentar

    KAMPUNG UJUNG BERBENAH SAMBUT NEW NORMAL

    Ayu Darwiyanti  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  31 May 2020
  4. 2
    Komentar