BETANDAK? INI JAWABANNYA

16 March 2020, 10:05 WIB
0 0 185
Gambar untuk BETANDAK? INI JAWABANNYA
Majalahsasak.com - Betandak adalah salah satu bentuk tradisi lisan berupa syair, seringnya berupa pantun dan umumnya dilagukan tatkala masyarakat Suku Sasak hendak turun menangkap ikan di laut, kawasan pantai kuta.

Konon ceritanya, masyarakat Suku Sasak Pujut. Membagi-bagi kawasan bibir Pantai Kuta untuk dijadikan sebagai wilayah tangkapannya. Misalnya Desa Sengkol yang kedapatan Pesisir  Gerupuk. Desa Rembitan yang kedapatan Wilayah Pantai Benjon, Tanjung Aan. Desa Ketara yang kedapatan pesisir Pantai Mawun dan desa-desa lainnya. Tradisi betandak umumnya dilakukan malam hari tatkala masyarakat bermalam di pantai yang telah disepakatai sebagai wilayah tangkapannya.

Sayangnya, tradisi betandak, kini sudah jarang dijalankan oleh masyarakat Suku Sasak Pujut  tatkala bermalam di pinggir pantai. Kini betandak hanya diselenggarakan satu kali dalam satu tahun, manakala ada even core “bau nyale” pada bulan februari yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Lombok Tengah.

Sedang bekayak, belakak dan belawas adalah istilah lain dari betandak yang dilakoni oleh muda-mudi Suku Sasak di wilayah Kecamatan Pujut pun wilayah Lombok Tengah lainnya manakala muda-mudi tengah dimabuk asmara. Beberapa item tradisi tersebut dikatan sama dengan betandak, karena bentuk betandak dan lainnya itu, dari segi bentuk nyaris tidak memiliki aturan baku semisal pantun atau tambo atau lainnya. Seumpma secara kebetulan terdapat asonansi bunyi yang sama dengan bentuk pantun karmina atau talibun. Atau memilki nilai-nilai falsafah hidup yang kuat seperti tembang. Maka tak jarang nilai-nilai tersebut diadopsi— atau —teradopsi tembang, serat, babad takepan dan lainya. Pada intinya bentuk-bentuk tradisi lisan tersebut merupakan medium para pemuda untuk mengungkapkan perasaannya yang tengah kasmaran.

Jika betandak dilagukan pada malam hari di bibir pantai. Maka belakak adalah nyanyian sindiran yang dilakukan di tengah sawah tatkala memanen padi. Umumnya berupa sindiran yang saling berbalas syair atau pantun, antar muda-mudi untuk menyinggung jalinan asmara mereka. Misalnya:

pikat beko lek pengempel

payu tampas maden doang

yak lek to ndek semel

payu babas balem doang

Nyanyian, pantun dedare (gadis dalam Bahasa Sasak) Marong, sebagai hiburan mereka tatkala beraktivitas di pinggir sungai pun  tidak kalah menarik untuk diungkapan dalam kesempatan ini:

belek-belek ujan daye

belabor koko babak

belek-belek jari dedare

marak ambun kembang sandat

empat pulu perigin lengkok

pinak jangkih balen tapong

empar bulu tame tindok

mulen tulen dedare marong

Dari bentuk-bentuk tradisi lisan Suku Sasak di atas dan belum ditambah tembang atau pantun-pantun nasihat lainnya seperti hikayat, babad tangkepan dan lainnya. Bolehlah kiranya saya menyimpulkan bahwa pada dasarnya Suku Sasak, sangat kaya dengan tradisi yang sarat dengan muatan unsur kesusastraan.

Salah sedikit dari salah banyak contoh yang bisa diambil pada kesempatan ini, misalnya, ketika seorang pemuda Suku Sasak ditinggal kekasinya menikah dengan laki-laki lain. Maka malamnya pemuda tersebut akan pergi ke sawah untuk menyanyikan syair, lawas sebagai bentuk ekspresi atau ungkapan perasaannya yang tengah dirundung kesedihan.

Konon ceritanya saking merdu dan lirihnya suara lawas seorang pemuda, salah-salah perempuan yang tersihir atau terbuai oleh lawas pemuda tersebut, bisa-bisa tanpa sadar menyerahkan jiwanya kepada sang pujangga yang tengah melantunkan syair lirihnya.

Pun halnya dengan tradisi ngendang. Malam hari menjelang prosesi begawe. Di bawah taring (atap dari sulaman daun nyiur) para muda-mudi Suku Sasak oleh pemilik acara disediakan alat pemarut kelapa dalam jumlah yang banyak dan tentunya dengan kelapa yang sudah siap diparut. Di sanalah mereka beradu buah lawas, buah syair, buah pantun dan bentuk “kegombalan” yang lainnya yang mereka lakoni sampai larut malam. Sampai kelapa habis diparut.

Tapi sekarang, segala bentuk-bentuk tradisi yang sarat muatan sastranya tersebut nyaris sudah tidak bisa dijumpai lagi di kalangan masyarakat Suku Sasak.

Kini di lokus-lokus itu, kita tidak akan pernah menemukan lagi  peristiwa memarut nyiur oleh muda-mudi tatkala ada upacara malam menjelang begawe (perayaan , pesta pernikahan). Karena kegiatan memarut nyiur bersama sudah terakomodir dengan mesin parut yang lebih praktis dan instan.

Memanen padi misalnya, kita tidak akan menemukan lagi syair muda-mudi yang tengah dimabuk asamara. Karena anak-anak petani sekarang enggan bertani, mereka lebih memilih berkerja menjadi karyawan di supermarket ketimbang bersuka cita dengan lumpur di sawah.

Pun halnya dengan betdandak. Nyanyian angin pantai dari masyarakat Suku Sasak, nyaris sudah tidak terdengar lagi. Karena intervensi suprastruktur yang berlebihan membuat basis tidak lagi bisa bernyanyi dan tidak lagi bisa mewarisi tradisi betandak. Anak-anak pantai Suku Sasak telah kehilangan pita suara. Generasi pantai Suku Sasak, terekslusi dari apa yang dulunya membuat mereka inklusif, dari apa yang dulunya menjadi identitas mereka sebagai generasi yang “sah” Suku Sasak Pujut.

Sebenarnya ada banyak bentuk kegiatan muda-mudi yang menunjukkkan kehalusan budi Suku Sasak. Kehalusan yang memiliki nilai yang sangat luhur jika tidak dikatakan adi luhung. Namun, nyaris semuanya tiada bersisa karena sudah disubtitusi dengan teknologi modern dan nilai-nilai kapitalis. Dan kini segalanya harus dikomparasi dengan nilai untung rugi menurut ukuran matrial terlebih dahulu. Jika kompromi sudah beres setidaknya menurut pertimbangan logistik. Barulah pekerjaan itu bisa direlisasikan.

Lalu Suryana, salah satu budayawan atau tokoh adat sasak di Desa Marong, menyayangkan terkikisnya tradisi lisan Suku Sasak yang luhur ini. Dan berlalu seperti angin lalu. Selanjutnya, ia berharap jika tidak bisa dipulihkan seperti semula kembali, sekiranya ada pihak yang tergerak hatinya merevitalisasinya kembali. Bilapun tidak dapat maksimal.
Sumber: majalahsasak.com

  Komentar untuk BETANDAK? INI JAWABANNYA

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terbaru


Terpopuler

  1. Jelang Idul Fitri Semua Pusat Perbelanjaan Ditutup

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  21 May 2020
  2. Situs Untuk Membuat Kartu Ucapan Idul Fitri

    𝙈𝙊𝙃𝘼𝙈𝙈𝘼𝘿 𝙅𝘼𝙀𝙉𝙐𝘿𝙄𝙉  di  Surabaya  |  21 May 2020
  3. #yukpedulitetangga

    Eriyana Putri Nuramdani  di  Citamiang, Sukabumi Kota  |  21 May 2020

Komentar Terbanyak

  1. 4
    Komentar

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H

    Lalu Iskandar  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  23 May 2020
  2. 3
    Komentar

    Hargailah Para Pejuang Melawan Covid-19

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  23 May 2020
  3. 3
    Komentar

    Jelang Idul Fitri Semua Pusat Perbelanjaan Ditutup

    Zulkarna  di  Batukliang, Lombok Tengah  |  21 May 2020
  4. 2
    Komentar

    CORONA TIDAK MENJADI PENGHALANG RUTINITAS

    WAHYU NAN HANDA  di  Praya, Lombok Tengah  |  20 May 2020