Berpuasalah Seperti Ulat, Jangan Seperti Ular!

26032 medium picsart 06 14 01.48.52 210x143
Puasa adalah proses penempaan diri muslim untuk menjadi yang lebih baik, baik secara personal maupun sosial. Puasa bisa dikatakan adalah proses metamorfosa dari hamba yang penuh hina, berangsur dapat memperindah keualitas takwa dan keimanannya. Setelah puasa, dapat meningkatkan kualitas takwa, keimanan, dan ibadahnya, baik personal terhadap tuhan maupun personal terhadap sesamanya, atau terhadap lingkungannya, maka bisa dikatakan ia telah mengalami stagnasi spiritualitas.
Untuk itu perlu kita mengambil hikmah dari puasa ular dan ulat. Kedua hewan ini juga mengalami fase puasa, bahkan total. Namun, apa perbedaannya, dan mana yang baik untuk diambil sebagai teladan, mana yang diambil sebagai perbadingan negatif.
A. Puasa Ular
Demi menjaga kelangsungan hidupnya, ular harus melewati salah satu fase, yaitu harus mengganti kulitnya secara berkala. Kulit reptil termasuk ular ini seperti kulit hewan vertebrata lainnya, terdiri dari 2 lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Epidermis mengandung keratin yang tipis di area tertentu dan tebal di area lain dan membentuk sisik.
Secara ilmiah, untuk mendapatkan kulit baru, ular tidak serta merta bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus berpuasa tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya tunai, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru. Pada saat ular akan ganti kulit, biasanya ditandai dengan perubahan warna mata yang menjadi buram atau tampak putih keabu-abuan. Pada saat proses ganti kulit berlangsung, cairan tubuh ular akan berkurang bersamaan dengan lepasnya kulit. Oleh karena itu, ular akan berendam di air untuk membasahi tubuhnya.
Tingkah laku ular akan menjadi lebih agresif dan nafsu makan menurun. Ular akan menggosokkan badannya pada permukaan yang kasar (batu atau kayu) untuk membantu melepaskan kulit. Kulit yang lama disekitar bibir terkelupas hingga bagian kepala, selanjutnya ke seluruh bagian kepala, selanjutnya ke seluruh bagian tubuh. Setelah proses Ecdysis selesai, kulit ular yang baru akan terlihat lebih mengkilat, tapi tak merubah bentunya.
Begitu susahnya ular menjalani fase ini. Namun, dari proses ganti kulit ular dengan puasa dalam waktu tertentu ini, kita bisa mengambil hikmahnya. Kita bisa menyimpulkan bahwa puasa dan ganti kulit yang dilakukan ular menunjukkan bahwa,
wajah ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama,
nama ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama yakni ular,
makanan ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama,
cara bergerak sebelum dan sesudah puasa tetap sama,
tabiat dan sifatnya sebelum dan sesudah puasa tetap
B. Puasa Ulat
Ulat termasuk hewan paling rakus. Karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan. Selain rakus, ada banyak efek buruk yang bisa didapatkan jika menyentuhnya, seperti gatal-gatal dan perasaan jijik. Tak hanya itu, mereka dianggap hama dan perusak tanaman. Tapi begitu sudah bosan makan dan terus dianggap menjijikkan, ia lakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Karenanya ia mengasingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kokon atau biasa disebut kepompong, sehingga tak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya.
Secara ilmiah biologis, proses itu disebut metamorfosis, yaitu suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. Perubahan fisik itu terjadi akibat pertumbuhan sel dan differensiasi sel yang secara radikal berbeda.
Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon seekor makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu. Siapa tak suka memandang hewan ini? Bahkan anak-anak ketika di taman bunga, biasanya suka berebut menangkap hewan ini. Kita bisa mengambil hikmah dari penempaan total ulat untuk menjadi hewan yang indah, kupu-kupu. Berikut hikmanya:
wajah ulat sesudah puasa berubah dari yang menjijikkan menjadi indah mempesona.
nama ulat sesudah puasa berubah menjadi kupu-kupu,
makanan ulat sesudah puasa berubah menghisap madu,
cara ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah terbang di awang-awang,
tabiat dan sifatnya berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga.
Dari dua proses puasa dari dua hewan di atas, memberikan banyak hikmah yang bisa kita ambil dan dapat kita bandingkan. Kita bisa bandingkan sendiri, letak puasa kita ada di posisi mana? Yang mana di antara kedua itu, yang serupa dan mirip dengan puasa kita? Apakah Menjadi yang lebih baik, sama dengan yang lalu, atau bahkan lebih buruk?

Tebuireng.online

Komentar