Bencana Alam

54805 medium screenshot 2019 02 08 22 18 14
Palu, 28 September 2018. Itu hari Jum'at. Hari tersebut adalah sebuah hari yang mungkin bisa terbilang hari yang paling bersejarah bagi kota Palu, Sigi, dan Donggala. Pada hari itu tidak pernah terlintas sedikit pun di benakku bahwa akupun juga akan merasakan khawatir, takut ataupun rasa lainnya yang mungkin saudara-saudaraku di luar sana pernah merasakan hal tersebut lebih dulu. Saat itu aku menjalani hari-hariku seperti biasanya yaitu sekolah, bermain bersama teman, makan dan masih banyak lagi. Dari pagi saat aku ingin bergegas ke sekolah, senyumanku pun tidak pernah luput dari wajahku sampai aku pulang dari sekolah. Sampai di rumah pun, tidak ada yang aneh bagiku. Saat itu aku sedang berbincang-dengan temanku yang kebetulan saat itu dia sedang berkunjung ke rumahku. Saat kami sedang bertukar cerita, sekitar setengah enam lewat dua puluh menit, tiba-tiba kami diguncang oleh guncangan yang begitu kuat dengan disusulnya tsunami. Dengan bergegas, kami pun langsung keluar rumah dan berlari ke arah dataran tinggi. Aku, ibu, kakakku, dan adikku lari bersama-sama. Namun, sayang air laut itu begitu cepat seakan-akan air laut itu ingin melahap semua makhluk-makhluk di bumi. Melihat keadaan atau suasana yang semakin mencekam ditambah lagi langit yang mulai gelap, membuat rasa khawatirku menjadi berlebihan karena saat itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mama dan adikku tenggelam. Rasa dingin mulai menusuk tubuhku. Sekarang, aku disini sendirian tanpa siapa-siapa.
#Palu_Bangkit #AtmaGo_Goes_To_School #SMK_Negeri_5_Palu
Sudah dilihat 48 kali

Komentar