Belajar dari Bencana dan membangun kembali Kota Palu.

Header illustration
29 september 2018, Aku berbaring di tikar yang beralaskan terpal tanpa adanya tenda, di salah satu pengungsian sambil menatap mentari yang mulai menghilang Beberapa saat kemudian mentari mulai menutup mata sampai aku tak bisa lagi melihatnya yang aku bisa liat di atas langit hanya bintang dan bulan yang menerangi malamku.
Lalu beberapa saat kemudian langit di tutupi awan menandakan bahwa hujan akan turun ke bumi, aku dan keluarga ku mulai membereskan tempat tidur lalu kami pindah ke rumah keluarga kami yang tidak jauh dari tempat tersebut lalu kami membereskan rumah agar kami bisa tidur dengan nyaman.
Setelah itu saya berbaring di luar rumah dengan tikar yang beralaskan terpal di sebuah tenda kecil yang kami buat tadi sambil berpikir dan bertanya dalam hati mengapa semuanya ini bisa terjadi? dan tanpa menyalahkan Tuhan, aku bertanya di dalam doaku kepada Tuhan mengapa saya dan kami semua mengalami dan merasakan kehilangan segalahnya termasuk orang yang kami sayang.
Meskipun semuanya telah terjadi kita tidak boleh menyalahkan sesama kita atau Tuhan dalam benak ku aku tidak lupa juga untuk mengucap syukur kepada Tuhan karna aku adalah salah satu di antara mereka yang selamat dari lumpur di desa jono'oge apapun yang terjadi jangan lupa mengucap syukur.
Karna semuanya ini sudah terjadi, anggap saja ini hanya ujian terhadap kita semua dan ini semua belum terlambat kita masih bisa membangun kota yang indah, aman, damai, dan sejahtera tak peduli kata caci dan maki terhadap orang - orang namun percayalah kita bisa membangun kembali kota yang kita cintai ini.
Jangan resah dan putus asa Ayolah kita mulai dengan hal kecil saja seperti membuang sampah pada tempatnya menanam pohon dll. PALU KUAT!! PALU BANGKIT!! #RamadanBangkit #AtmoGoSulteng
Sudah dilihat 54 kali

Komentar