Bedah buku GARENG GORENG GARING KONTEMPRER INDONESIA

32354 medium img 20180908 wa0007
Apa dampak otonomi daerah terhadap praksis seni rupa kontemporer indonesia di daerah? bagaimana konsep-konsep estetika yang mempunyai mainstream tertentu diterima masing-masing kota dengan material kebudayaan yang berbeda-beda? apa relasi seni dan konteks dan juga benarkah pusat dan pinggiran itu hanya mitos sementara kita tahu tidak semua kota mempunyai kesempatan yang sama untuk memproduksi wacana? jika problem itu ada bagaimana hal-hal ini tetap relevan dengan keberadaan kita?

Pertanyaan ini akan dielaborasi dalam seri bedah buku GARENG GORENG GARING KONTEMPORER INDONESIA (14 tahun Hysteria, seni dan kota) di Gabus, Pati, Jateng kerjasama Lapak Sablon dan Kolektif Hysteria.
Sudah dilihat 49 kali

Komentar