ATMAGO MASUK SEKOLAH

42694 medium post 49756 df337120 104d 4d86 b74a 6bcfe2965829 2018 12 13t21 29 45.430 08 00 42696 medium post 49756 1e50bf44 6ff3 4695 8147 fbc31fbdbdc1 2018 12 13t21 29 48.462 08 00 42695 medium post 49756 5478b2f2 2dff 45f1 a65b 799dbd952aab 2018 12 13t21 29 47.044 08 00
Bermedia sosial bagi generasi melenial khususnya anak-anak remaja usia SMP merupakan bentuk kesibukan yang sulit dihindari. Hal tersebut seakan melekat kuat dalam karakter mereka yang sedang dalam proses pencarian jadi dirinya. Sekuat apapun orang tua atau guru melarang dan menjauhkan mereka dari kegiatan bermedsos, tidak akan bisa bertahan lama, bahkan akan selalu ada celah bagi mereka untuk berusaha mendapatkan apa yang mereka gandrungi. Tak terkecuali, mereka akan sanggup menyisihkan sebagian dari sangu mereka, bahkan siap menahan keinginan sahwat perut mereka demi ambisi untuk bisa bermedsos bareng dengan kawan-kawannya.
Kondisi itulah yang membuat banyak pemikir, peneliti, pendidik, tak terkecuali orang tua, berpikir keras mencari solusi terbaik menghadapi persoalan ini. Dimana anak-anak usia remaja seakan terhipnotis dengan hegemoni-hegemoni IT yang terus berkamuflase dengan kemajuannya hari ini.
Orang tua dan para pendidik tidak hanya menyimpan kegalauan dan ketakutan saat anak-anak/peserta didik mereka kecanduan dengan Gadget. Bukan hanya perkara petualangan mereka yang maha luas di dalam dunia maya, dengan berbagai pengalaman aneka rupa dan rasa tanpa filter di dalamnya. Namun, ketika kecanduan berjangkit meracuni otak mereka, saraf-saraf mereka tak lagi beraktivitas normal dalam merespon aktivitas dan komunikasi di dunia nyata sebagai tempat fisik mereka berpijak. Bahkan seolah sebagian dari jiwa mereka telah tergadai dan terjebak dalam jeruji fatamorgana dan halusinasi gila para pembuai dunia maya.
Jika kondisi ini tetap dibiarkan, tanpa solusi. Maka dipastikan, kelak generasi milenial bangsa ini akan menjadi budak penguasa dunia maya yang tidak hanya akan melemahkan fisik, tetapi mental mereka akan menjadi prematur dan apatis.
Tetapi kita harus yakin bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. begitupula dengan dampak dan efek negatif yang ditimbulkan dengan membuminya IT di tengah-tengah masyarakat kita. Salah satu solusi yang bisa ditawarkan yaitu dengan mengalihkan perhatian mereka terhadap apa yang mereka gandrungi. Sehingga mereka tidak akan merasa didikte dan tersesat dalam petualangan-petualangan mereka di dunia maya. Kemanapun dan sampai batas apapun mereka berpetualangan, mereka akan tetap bisa kembali ke titik awal, tanpa tersesat.
Para penjelajah dunia maya membutuhkan guide yang profesional agar tetap bisa berjalan pada garis rel yang sudah ada. Para guide itu tidak hanya berasal dari para guru dan orang tua. Namun, bisa berasal dari para pemerhati edukasi anak bangsa yang siap mencurahkan perhatian dan empatinya terhadap anak bangsa.
Lahirnya ATMAGO di tengah-tengah kegalauan para orang tua dan guru, paling tidak telah menyuguhkan satu trik pengalih perhatian, agar para generasi muda tidak hanya sibuk dengan dunianya masing-masing, tanpa rasan peduli, simpati, apalagi empati. Namun juga bisa menjadikan dunia maya menjadi jembatan kemudahan bagi masyarakat dalam menjalankan hidup di zaman era industri 4.0.
Membangun komunitas, menebar jejaring, dan menangkap peluang adalah kerja nyata Atmago dalam pemberdaaan generasi milenial.
Kelak, penulis yakin, ATMAGO akan menjadi wadah strategis, sekaligus corong bagi dunia dalam melihat situasi dan kondisi, yang akan membuka peluang berkembangnya dialektika ilmu pengetahuan dan informasi menuju kepedulian terhadap masyarakat dunia.
Inilah makna dari tulisan yang mengatakan menulis populer dan bermedia sosial sehat.
Masuknya Atmago ke Sekolah (SMPN 3 Kopang) telah membuktikan bahwa Atmago telah membangun proses edukasi yang sangat mendasar pada bagian penting dari pondasi sebuah bangsa yang kuat dan berdaya. go go Atmago! #SekolahkuNTB
Sudah dilihat 141 kali

Komentar