Apa Kabar Literasi?

69224 medium post 73204 bc4b7884 c315 47f6 b74d b045ff9063a4 2019 08 08t11 34 50.561 08 00
Negaraku memiliki Jutaan penulis hebat. Setiap bulannya hampir tercipta tulisan-tulisan yang sangat luar biasa. Membahas berbagai masalah-masalah kontemporer, memberi motivasi untuk menjadi Manusia-Manusia super (Ala Nietczhe), sampai solusi-solusi segala problem dalam kehidupan bermasyarakat. Meraka adalah manusia luar biasa, para pencinta dunia tinta, mereka tidak henti-hentinya menghabiskan waktu disepertiga malam untuk mebanting jari jemari mereka di atas papan tombol Qwerty. Ini adalah hobi suci, karena mereka kita bisa mengetahui dunia, bukankah buku adalah teman duduk terbaik setiap saat? Dimanapun kita membawanya, dia tidak akan pernah mengeluh.
Tidak kah kalian kagum kepada mereka?, saat nama-nama mereka terpampang dalam buku bacaan kita, Tidak kah kalian menginginkan hal itu? dimana nama anda selalu disebut-sebut di forum-forum diskusi kaum intelktual. Orang bijak mengatakan, membacalah jika ingin mengenal dunia dan menulislah jika ingin dikenal dunia. oleh karen itu, saya sangat kamu kepada para pencipta buku. bukan karena karyanya, tapi karena proses, usaha dan waktu yang sudah mereka korbankan untuk bisa menyuguhkan dihadapan kita. Betapa lelah mereka, berapa kali tombol delete, spasi dan puluhan tombol lainya ditekan untuk bisa menghasilkan satu karya luar biasa.
Aura berlawanan justru dirasakan di negara ini. Saat penulisnya menjamur justru pembacanya sangat memprihatinkan. bayangkan saja pada tahun 2016 "Most Littered Nation In The World" melakukan riset di 60 Negara didunia, hasilnya Indonesia berada di urutn ke 60. Presentasenya juga mencengangkan hanya 0,001% atau di artikan jika ada 1000 orang hanya ada 1 pembacanya, padahal ditiap-tiap daerah se-Indonesia sudah ada perpustakaan daerahnya. apa yang salah dengan kita?
Anies Baswedan pernah mengeluarkan kalimat yang sangat menampar wajah kita. Dia mengatakan "Indonesia memiliki masyarakat yang rajin membaca, namun daya membacanya yang kurang". Kita selalu membaca disosmed, hampir semua status yang lewat diberanda kita, tidak luput dari kita, selalu membacanya. Namun ketika sudah terlalu panjang kita akan melewati atau Skip. Inilah yang dimaksud dengan daya rendah. Status panjang di skip, bagaimna dengan buku yang berhalaman lebih banyak? Silahkan jawab sendiri!
Di Amerika, hampir setiap rumah memiliki perpustakaan pribadi. Saat kecil, Anak-anak mereka sudah dibiasakan bermain dengan buku, sehingga saat dewasa nanti mereka sudah terbiasa dengan lingkungan literasi. Bagaimana dengan kita? saat umur berapa kita bersentuhan dengan buku?. Saat ini banyak orang tua yang sudah memberikan Android kepada anak-anaknya, bahkan sampai mau tidurpun anaknya diberikan Android sebagai pengantar tidur. Ini tentu dua budaya yang sangat berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Lantas kita selalu mengeluh dengan negara kita yang tertinggal. Jangan mengeluh, tanyakan seberapa hebat literasi kita. Mau jadi negara maju? Bukan bangunan yang diperbanyak, namun Sumber daya manusia yang harus dibentuk. Ya! dengan cara memperbaiki literasi negara kita. #Atmago #Wargabantuwarga
Sudah dilihat 38 kali

Komentar