ALARM YANG HARUS MEMBANGUNKAN KITA:

28279 medium img 20180716 221825
ALARM YANG HARUS MEMBANGUNKAN KITA: STUDI MENUNJUKKAN 40% MASJID PEMERINTAH TERINDIKASI MENYEBARKAN MUATAN AGAMA RADIKAL

Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) dan Rumah Kebangsaan baru saja merilis laporan Studi Terhadap 100 Masjid Kementerian, Lembaga dan BUMN. Penelitian ini bertujuan mendokumentasikan konten ceramah yang menjurus kepada radikalisme.

Sungguh mengejutkan, dari 100 masjid yang diteliti, ditemukan 41 masjid yang terindikasi radikal. Dari 41 masjid itu, sekitar 17 masjid menyajikan muatan radikal TINGGI, 17 SEDANG dan 7 RENDAH.

Adapun variabel yang dijadikan indikator antara lain, dukungan pada khilafah, kebencian pada minoritas, sikap negatif pada minoritas, sikap negatif terhadap agama lain, sikap negatif terhadap pemimpin perempuan, dan ujaran kebencian.

Penelitian menunjukkan bahwa yang paling dominan dalam konten ceramah radikal adalah: ujaran kebencian (60%). Yang juga relative tinggi adalah sikap negative terhadap agama lain (17%) dan sikap negative terhadap minoritas (6%)

Kehadiran ceramah bermuatan radikal ini tersebar di masjid kementerian, lembaga dan BUMN. Namun masjid BUMN yang menyebarkan ceramah bermuatan radikal malah mendominasi dengan persentase 57% banding 43% yang moderat.

Data ini perlu menjadi perhatian kita bersama, karena berarti ketakutan masyarakat terhadap ancaman ekstremisme bukan pepesan kosong. Pemerintah harus secara lebih seksama memperhatikan materi ceramah yang disajikan di masjid-masjid yang dibiayai rakyat tersebut.

Saya pribadi pernah terlibat dalam penelitian ceramah keagamaan di Kota Solo lebih dari satu dekade lalu. Saat itu, penelitian kami mempelajari muatan multikulturalisme dalam ceraham keagamaan di mesjid-mesjid, termasuk memeriksa kemungkinan berseminya pandangan-pandangan keagamaan yang menegasikan multikulturalisme.

Pada satu sisi, kita harus harus sangat hati-hati dalam mendefinisikan apa itu "radikal" atau “intoleran”. Perlu ada rumusan yang jelas dengan indikator yang terukur. Jangan sampai ketelodoran dalam merumuskan ini melahirkan masalah baru. Memunculkan stigma yang justru bisa kontra produktif.

Pada sisi lain, temuan penelitian ini perlu menjadi alarm bersama (wake up call) dengan segala catatan kritisnya. Ada masalah besar yang harus menjadi concern publik mengingat mesjid mempunyai peran strategis dalam pembinaan keumatan. Mesjid hendaknya menjadi dinamo perubahan yang berorientasi pada nilai-nilai kemajuan, welas asih, solidaritas, dan kemanusiaan. Ini sejalan dengan semangat Islam Rahmatan Lil ‘alamin.

Bro dan Sis, Indonesia kita dengan kekayaan ragam budaya dan kepercayaan ini harus terus kita jaga bersama. Intoleransi dan ekstremisme tidak boleh kita berikan kesempatan tumbuh. Saya melihat adanya peningkatan peran rumah ibadah dalam menentukan arah dan orientasi sosial-politik masyarakat. Seyogyanya kita punya tangggungjawab agar perkembangan ini mengarah pada hal-hal yang membangun dan merekatkan integrasi bangsa. Pada konteks ini, intoleransi dan ekstremisme merupakan musuh bangsa yang harus dihadapi dan dihalau. Wassalam.
Fajar Riza Ul Haq
Sudah dilihat 42 kali

Komentar