Aksi Wanita Tani Mandiri Hadapi Pandemi

4 0 522
Gambar untuk Aksi Wanita Tani Mandiri Hadapi Pandemi
Pandemi Covid-19 adalah sebuah musibah. Namun, Kelompok Wanita Tani (KWT) Matahari di Dukuh Kebonagung, Desa Jarum, Bayat, Klaten, menyadari dalam musibah pun tetap ada peluang. Mereka memutuskan untuk memanfaatkan peluang itu dengan sumber daya yang ada. Hasilnya, jamu bubuk instan penambah imun mereka berhasil menempus Jakarta, Surabaya, Kalimantan, bahkan Hong Kong.

Semuanya berawal dari tiga tahun lalu atau saat KWT Matahari terbentuk. Sri Mulyani yang merupakan ketua KWT masih ingat kegagalan demi kegagalan yang dia dan rekan-rekannya hadapi saat awal pembentukan. “Kami menanam sayuran, tapi gagal. Kami menanam lagi tetap gagal, begitu seterusnya,” kata dia, Senin (3/7).

Titik terang mulai kelihatan setahun sesudahnya, tepatnya ketika sejumlah mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo memberikan pendampingan membuat serbuk jahe. Berbekal pelatihan itu, para anggota KWT mencoba membuat serbuk jahe sendiri. Sayangnya, hasil olahan belum memuaskan pembeli.

“Banyak komplain,” kata Mulyani. Pembeli tidak puas karena serbuk jahe terasa pahit. Namun, begitu ditambahi gula, komplain muncul lagi. “Pembeli bilang terlalu manis,” sambung Mulyani. Dengan berbagai perbaikan plus studi banding di Wonogiri, serbuk jamu instan bikinan KWT mulai diterima masyarakat.

Pemasaran dari mulut ke mulut dan media sosial (medsos), menurut Mulyani, sangat efektif. Olahan empon-empon, seperti temulawak, kunyit putih, jahe emprit, jahe merah, dan sejenisnya, berhasil mereka olah dalam bentuk sembilan produk bubuk instan. Ada yang produknya olahan lengkap dan ada yang tidak. “Harganya bervariasi, dari Rp10.000 sampai yang olahan lengkap itu Rp65.000. Semua berbentuk serbuk yang kami kemas dalam sachet dan botol. Yang sachet itu olahan sederhana, satu plastik isi lima sachet. Kalau yang botol isinya 500 gram sampai 1.000 gram,” jelas dia.

Saat awal pandemi corona, Maret lalu, KWT Matahari sempat kewalahan melayani order jamu bubuk instan. Saat itu, ke-20 anggotanya memproduksi produk antibodi setiap hari dengan mengolah total 35 kilogram jahe per bulan. Pembeli datang dari berbagai macam daerah, seperti Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Sulawesi, hingga Hong Kong. Keuntungan penjualan lantas dibagi rata kepada para anggota sementara sisanya disimpan di kas untuk tambahan modal.

Meski saat ini pesanan tak seramai dulu, rata-rata 15 kilogram per bulan, namun para anggota bertahan. Dibandingkan pada awal berdiri, Mulyani menilai kondisi KWT Matahari saat ini jauh lebih baik. Awalnya mereka semua bekerja secara sukarela sebagai kelompok wanita yang berusaha bersama dengan mimpi memperbaiki ekonomi keluarga. Sebaliknya saat ini, dengan memanfaatkan uang kas dan iuran Rp10.000 per bulan (Rp5.000 digunakan untuk belanja konsumsi dan Rp5.000 untuk kas), para anggota di bagian produksi mendapat uang lelah Rp40.000-Rp50.000 per hari.

Untuk 2-3 kali produksi/pekan, KWT Mandiri menerapkan sistem bekerja secara bergilir. Satu kali produksi dikerjakan lima orang. Dengan demikian ke-20 anggota dapat bekerja sesuai giliran masing-masing.

Mulyani mengatakan uang lelah bagi mereka yang bekerja sangat bermanfaat. Anggota KWT Matahari adalah para ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Suami mereka pun hampir sama kondisinya. Mayoritas pekerjaan mereka adalah buruh. Ada yang buruh tani, buruh bangunan, penjual es, serta penjaga angkringan.

Karena pesanan tak sebanyak dulu, para anggota KWT Matahari memutar otak lagi. Awal Juli lalu tepatnya, mereka bersepakat mencari tambahan pendapatan agar asap dapur tetap mengepul. “Kami akhirnya memutuskan bertanam dengan menggunakan polybag. Macam-macam yang kami tanam, seperti cabai, tomat, sawi, dan lainnya. Intinya bagaimana supaya kami tidak keluar uang belanja karena kebutuhan sudah ada di rumah. Dengan kesepakatan itu, kami belanja 200 polybag. Masing-masing anggota mendapat 10 polybag dan bibit tanaman,” jelas dia.

Memasuki Agustus, ada banyak harapan yang disimpan di benak Mulyani dan rekan-rekannya. Dengan menggencarkan promosi lewat medsos, mereka berharap jumlah pesanan bisa bertambah sehingga produk jamu bubuk instan mereka bisa masuk minimarket. Saat ini mereka tak bisa melakukannya karena terbentur modal. “Pembayaran di minimarket itu kan pembayaran di belakang. Kami tak punya modal untuk itu. Sampai sekarang sistem kerja kami ada orderdulu baru produksi. Ke depan kami ingin berkembang,” kata dia.

Harapan lain para anggota KWT Matahari adalah alat produksi. Sampai sekarang alat yang mereka gunakan masih tradisional, seperti parutan kelapa, kain untuk memeras, dan kompor gas kecil. Keterbatasan itu sangat memengaruhi jam bekerja sehingga anggota yang kebagian giliran produksi harus memulai aktivitas pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Pada jam itu, bubuk sudah dikemas dalam plastik, kardus, maupun botol.

“Kemasan dan merek juga kami sendiri yang bikin, nge-print sendiri. Intinya semua kami usahakan sendiri. Setelah selesai, ampas produksi juga masih bisa dimanfaatkan anggota dan masyarakat sekitar yang butuh. Ampas empon-empon itu biasanya digunakan untuk pakan ternak,” jelas Mulyani lagi.

Merintis usaha bukanlah hal yang mudah. Mulyani dan rekan-rekannya yang sudah mengalami jatuh bangun tahu betul tentang itu. “Sampai di titik ini tentu kami sangat bersyukur. Apalagi pada tahun kemarin kami sempat menjadi Juara I di Festival Jamu dan Kuliner Tingkat Provinsi Jateng. Betul-betul prestasi yang membuat kami semua merasa sangat bangga. Semoga Kelompok Wanita Tani Mandiri ini makin lama makin berkembang dan bermanfaat bagi masyarakat, seperti namanya,” kata dia. #MadaniCovid19 Ayu Prawitasari

  Komentar untuk Aksi Wanita Tani Mandiri Hadapi Pandemi

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. "Daring Sosialisasi Peta Bencana.id disaat Pandemi"

    Saffanah Mubarok  di  Banyuwangi, Banyuwangi  |  20 Nov 2020
  2. Situasi dan Kondisi Bukan Hambatan Petani

    Izzatul Fajriyah  di  Brondong, Lamongan  |  22 Nov 2020
  3. Beritakan Lingkungan Sekitar, Pemuda Lamongan Adakan Kelas Jurnalisme Warga

    Zuria Qurrotul Aini  di  Brondong, Lamongan  |  22 Nov 2020
  4. GURU TK ABA MENCOREK BERTEKAD MEMBENTUK KARAKTER ANAK DIPENDIDIKAN USIA DINI

    Roy cahya pratama putra  di  Brondong, Lamongan  |  22 Nov 2020

Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar

    The Secret of happiness

    Umi Hadiqotul Jannah  di  Jombang, Jember  |  21 Nov 2020
  2. 2
    Komentar

    Situasi dan Kondisi Bukan Hambatan Petani

    Izzatul Fajriyah  di  Brondong, Lamongan  |  22 Nov 2020
  3. 2
    Komentar

    GURU TK ABA MENCOREK BERTEKAD MEMBENTUK KARAKTER ANAK DIPENDIDIKAN USIA DINI

    Roy cahya pratama putra  di  Brondong, Lamongan  |  22 Nov 2020
  4. 2
    Komentar

    GESEKAN YANG POSITIF

    TOKHIDUL MIKBAR  di  Jatibarang, Brebes  |  21 Nov 2020