Air Waduk Malahayu Brebes Disetop, 12.378 Ha Lahan Akan Kekeringan

35104 medium b16fa67f 5f47 4290 9c69 3f7ee9d0d7e1 169

Brebes - Dampak musim kemarau yang berkepanjangan, telah menyebabkan volume air waduk Malahayu di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah menyusut dan hanya menyisakan 800 ribu liter. Aliran air dari waduk ke sawah petani sudah dihentikan mengakibatkan petani gagal panen.

Waduk terbesar di Kabupaten Brebes ini memiliki daya tampung 32 juta liter. Ada lima sungai yang menjadi pemasok air di waduk ini, masing-masing Sungai Cigora, Cihalimun, Cicacaban, Sindanghayu, dan Ciomas.

Kemarau panjang yang mendera wilayah Brebes telah menyebabkan debit air lima sungai itu berkurang. Cadangan air di waduk Malahayu ini pun ikut menyusut drastis.


Kepala Dinas Pengairan Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (DPSDAPR) Kabupaten Brebes, Agus Ashari mengatakan, volume air waduk 800 ribu meter kubik air saat ini sudah di bawah ambang batas minimal atau distorage yakni 2 juta meter kubik. Atas pertimbangan volume tersebut, aliran air dari waduk ke saluran irigasi dihentikan.

"Harus dihentikan alirannya. Karena memang volumenya kurang dari 2 juta liter. Ini bisa berbahaya kalau tetap dialirkan karena volume akan terus berkurang. Keputusan ini justru untuk mengamankan fisik bendungan. Jika terus berkurang, akan berisiko terjadi retakan retakan bangunan bendungan," kata Agus Ashari usai meninjau kondisi waduk Malahayu, Senin (8/10/2018).

Ada 12.378 hektar lahan pertanian yang terdampak dari dihentikannya aliran waduk. Area pertanian tersebut berada di Kecamatan Banjarharjo, Ketanggungan, Kersana, Tanjung dan Losari. Area ini akan mengalami kekeringan karena tidak mendapatkan pasokan air.

"Dampak dari dihentikannya aliran air waduk, areal pertanian seluas 12.378 ha di lima kecamatan akan kering," tuturnya.

"Dari waduk Malahayu, air biasanya didistribusikan melalui tiga bendung, yaitu Nambo, Cisadap dan Cibendung. Dari bendung ini kemudian dialirkan ke saluran dan sawah petani," urai Agus Ashari.

Sejak air waduk tidak dialirkan, area sawah petani banyak yang terkena dampaknya. Di Kecamatan Kersana misalnya, lahan bawang merah dan cabai terancam gagal panen.



Tokoh petani, Sudirman Said menilai kondisi ini perlu penanganan serius. Selain tengah menghadapi persoalan harga komoditas yang jatuh, juga adanya kekeringan.

"Perlu adanya penanganan serius. Bagian hulu perlu dihijaukan, dan sungai sungai dinormalisasi. Sehingga saat musim kemarau masih memiliki cadangan air," terang Sudirman Said.

Sudirman menyebut, petani saat ini sedang menderita kerugian yang besar. Jika dihitung dari bibit, tenaga kerja dan biaya lain, rata-rata kerugian yang dialami mencapai Rp45 juta tiap seperempat hektar.


Pernyataan senada dilontarkan oleh Tanto, warga Kersana. Menurut dia, tanaman bawang merah miliknya hampir tidak bisa dipanen karena kering.

"Tadinya subur, sejak setengah bulan lalu air waduk berhenti mengalir. Tanaman jadi kering dan tidak bisa panen," ucap Tanto.
Sumber:
Detik.com
Sudah dilihat 53 kali

Komentar