8 Fakta dibalik tsunami Banten dan lampung

43762 medium img 20181223 wa0019
Sabtu, (22/12) malam tsunami menerjang Banten dan Lampung, diketemukan 8 Fakta yang terjadi pasca tsunami menerjang.

1. Tsunami terjadi begitu saja
Mumuh (22) thn warga warga kampung cepu, Banten jelaskan jika sebelum tsunami menerjang pantai Jambu (pantai didekat karang bolong) anyer, Banten tidak ada angin ataupun hujan, semua terjadi begitu saja.
"Nggak ada kejadian apa-apa, tsunami langsung dateng gitu aja, semua pada kesapu air, warung-warung di pinggir jala pada ancur" ucapnya

2. Diakibatkan Erupsi Gunung Anak Krakatau
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu (23/12) jelaskan jika sebelum tsunami, erupsi terjadi kembali di Anak krakatau, beberapa menit kemudian tindegauge (alat pengamat sementara) menangkap kenaikan muka air pantai.
“Tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB menit, Badan Geologi mengumumkan terjadi erupsi lagi Gunung Anak Krakatau. Kemudian pukul 21.27 WIB tidegauge (pengamatan sementara) Badan Informasi Geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukkan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai. Jadi ada kenaikan air, dan kami analisis kami merekam waktu untuk menganalisis, apakah kenaikan air itu air pasang akibat fenomena atmosfer, ada gelombang tinggi kemudian bulan purnama, jadi saat ini itu memang pada fase seperti itu. Namun setelah kami analisis lanjut gelombang itu merupakan gelombang tsunami, jadi tipe polanya sangat mirip gelombang tsunami yang terjadi di Palu,” ucapnya.
Beliau menambahkan aktifitas erupsi menyrbabkan longsor bawah laut.
Diketahui sebelumnya jika Aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan sejak 18 Juni 2018, selama peningkatan tersebut erupsi terus terjadi, ran puncaknpa pada 22 Desember, erupsi itu diduga menyebabkan tsunami yang menerjang Banten dan Lampung.

3. Ada gelombang pasang bulan purnama
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di kantor BPBD Yogyakarta, DIY, Minggu (23/12), katakan waktu tsunami terjadi, adalah waktu yang berbarengan pula dengan gelombang pasang karena bulan memasuki pase purnama, ditambah dengan erupsi Gunung anak krakatau.
“Jadi, kalau statement resmi yang disampaikan BMKG, faktor penyebab tsunami adalah longsoran bawah laut yang disebabkan aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang kebetulan terjadi bersamaan dengan gelombang pasang,” ujarnya

4. Lokasi Terdampak Tsunami
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di kantor BPBD Yogyakarta, DIY, Minggu (23/12) katakan, Kabupaten Pandeglang Banten jadi wilayah yang paling parah terkena tsunami, diantara 2 Kabupaten yang kena tsunami, yakni Kabupaten Serang dan Kabupaten Lampung.
“Daerah yang paling parah mengalami kerugian dan kerusakan paling parah adalah di Pandeglang,” ucap Sutopo.
Iya menambahkan jumlah korban di pandeglang lebih banyak.
"Dari 745 (total korban luka - luka), di Pandeglang tercatat ada 624 orang luka-luka. Empat orang hilang ," ujar Sutopo.
ada lima titik di Pandeglang yang terdampak yaitu Tanjung Lesung, Teluk Lada, Sumur, Panimbang, dan Carita. Untuk Serang dan Lampung Selatan, titik terdampak tsunami adalah Anyer, Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo, dan Katibung.

5. 222 Orang Meninggal Dunia
Pembaharuan data yang dilakukan BNPB per pukul 16.00 WIB, didapat 222 orang meninggal dunia. Selain itu, 843 orang luka-luka, dan 30 orang hilang. Korban jiwa terbanyak berada di Pandeglang.
“Kabupaten Pandeglang tercatat 164 orang meninggal dunia, 624 orang luka-luka, 2 orang hilang,” jelas Sutopo dalam keterangan tertulisnya.
Ada 11 korban meninggal dunia, 22 orang luka-luka dan 26 orang hilang, sementara untuk kerusakan bangunan masih dalam pendataan di Kabupaten.
Dan di Kabupaten Lampung Selatan tercatat 48 orang meninggal dunia, 213 orang luka-luka dan 110 rumah rusak. Di Kabupaten Tanggamus terdapat 1 orang meninggal dunia.

6. Dampak Kerusakan Tsunami
Dari data yang didapat per pukul 16:00 wib, BNPB mencatat dan jelaskan, sebanyak 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, dan 350 kapal dan perahu rusak.
“Kerusakan material meliputi 556 unit rumah rusak, 9 unit hotel rusak berat, 60 warung kuliner rusak, 350 kapal dan perahu rusak. Tidak ada korban warga negara asing. Semua warga Indonesia. Korban dan kerusakan ini meliputi di 4 kabupaten terdampak yaitu di Kabupaten Pandeglang, Serang, Lampung Selatan dan Tanggamus,” ujar Sutopo dalam keterangan tertulisnya.

7. Dua Personel Band Seventeen dan Aa Jimmy Meninggal
Akibat dari tsunami, ada 2 personil Band Seventeen dan Aa Jimmy jadi korban meninggal dunia, ketiganya diketahui saat terjadi tsunami, sedang mengisi acara di tanjung lesung, 2 personil seventeen adalah Herman Sikumbang (gitar) dan M Awal Purbani (bass).
“Telah ditemukan jenazah gitaris band Seventeen, Herman Sikumbang,” kata Yulia Dian selaku manajemen Seventeen, Minggu (23/12/2018).
Sementara jenazah Aa jimmy dilihat langsung oleh Ifan 'seventen'.
“Aa Jimmy meninggal dunia, kebetulan saya lihat sendiri jenazahnya di pantai,” ujar Ifan ‘Seventeen’ dalam sesi wawancara dengan TvOne, Minggu (23/12).

8. Potensi Tsunami Susulan
Aktivitas fulkanik yang terjadi di Gunung Anak Krakatau membuat BNPB ambil keputusan jika ada kemungkinan potensi tsunami susulan akan terjadi, untuk itu warga diminta agar menjauhi pantai.
“Tadi saya sampaikan, itu rekomendasi dari PVMBG, rekomendasi dari BMKG, agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di pantai, menjauhi pantai untuk sementara waktu ini. Karena potensi susulan tsunami masih kemungkinan terjadi karena apa, erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung sehingga berpotensi adanya tsunami susulan,” ujar Sutopo dalam jumpa pers di Kantor BPBD Yogyakarya, DIY, Minggu (23/12/2018).

Sumber : warga dan detik.com #pray4anyer #pray4selatsunda
Sudah dilihat 292 kali

Komentar