7 Tips Ampuh Menghadapi Anak Malas Belajar

59819 medium 20190428 133321
Banyak orang tua merasa khawatir saat melihat anaknya malas belajar. Sebagai solusinya, banyak orang tua memilih memasukkan anaknya ke tempat les atau bimbingan belajar. Padahal, belum tentu solusi tersebut sesuai dengan apa yang anak butuhkan.

Selalu ada penyebab di balik kebiasaan anak yang sering malas-malasan ketika diminta untuk belajar atau mengerjakan PR. Nah, mengenali penyebab anak malas belajar adalah langkah pertama yang harus dilakukan orang tua untuk mengatasinya.

Penyebab Anak Malas Belajar
Ada banyak faktor yang menyebabkan anak malas belajar, baik dari segi fisik, mental, maupun lingkungan belajar yang kurang mendukung. Di bawah ini adalah beberapa kemungkinan penyebab anak malas belajar beserta penjelasannya:

1. Kesulitan memahami materi
Anak cenderung menghindari materi pelajaran yang sulit ia pahami. Konsep materi yang kompleks dan soal-soal yang rumit sering kali menurunkan motivasi belajar anak. Pada akhirnya, mereka cenderung menjadi enggan dan malas-malasan ketika belajar.

Jika anak kesulitan memahami materi, orang tua perlu menelaah penyebabnya untuk mengetahui apakah ia kesulitan karena ada keterbatasan kognitif atau karena gangguan fisik tertentu, misalnya kesulitan melihat, mendengar, atau bicara.

2. Materi kurang menantang
Tidak hanya materi yang sulit, materi yang terlalu mudah pun bisa membuat anak jadi tidak semangat belajar. Bila materi kurang menantang, anak bisa berpikir, “Untuk apa belajar kalau aku sudah bisa?”

3. Kurang berminat terhadap topik yang dipelajari
Setiap anak memiliki minat pada bidang yang berbeda. Anak yang memiliki minat di bidang musik tentu akan lebih semangat mempelajari cara bermain piano daripada menghafalkan rumus-rumus matematika.

4. Tidak nyaman dengan lingkungan belajar
Guru yang killer, teman yang suka melakukan bullying, atau fasilitas belajar yang tidak memadai sering kali membuat anak kehilangan motivasi untuk belajar. Pada akhirnya, anak akan malas-malasan ketika diminta untuk belajar.

5. Kelelahan
Belajar merupakan proses berpikir kompleks yang membutuhkan banyak energi. Jadi, wajar jika anak yang memiliki terlalu banyak aktivitas menjadi malas belajar, karena sudah merasa lelah dan ingin istirahat.

6. Terlalu banyak gangguan
Gadget, media sosial, suasana bising, dan kegiatan sosial bersama teman merupakan gangguan yang paling sering menginterupsi proses belajar. Ingat, kebanyakan anak belum memiliki kontrol diri yang kuat. Jika gangguan-gangguan ini tidak dikendalikan oleh orang tua, anak tentu lebih memilih melakukan hal-hal yang menurutnya lebih menyenangkan daripada belajar.

Peran penting dari orang tua sangat dibutuhkan untuk mengatasi anak yang malas belajar. Selain berkomunikasi dengan baik, orang tua juga harus memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi kondisi ini.

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan para orang tua yang anaknya malas belajar, antara lain:

1. Bangun komunikasi dengan anak
Sebelum menyuruh anak untuk belajar atau mendaftarkan anak ke tempat les, orang tua harus membuka ruang komunikasi dengan anak lebih dahulu. Tujuan komunikasi ini adalah agar orang tua paham betul apa yang menyebabkan anak malas belajar.

Beri anak kesempatan untuk bercerita tentang apa yang ia rasakan terhadap proses belajar, apa kendala yang ia hadapi, serta apa yang ia inginkan untuk membantunya belajar.

2. Ajak anak untuk menentukan tujuan belajarnya
Sering kali anak menganggap belajar merupakan kewajiban semata, karena ia tidak mengerti makna dan manfaat dari materi yang ia pelajari. Oleh karena itu, orang tua perlu membantu anak untuk mengenali dulu tujuan belajarnya. Kalau bisa, kaitkan dengan cita-cita atau minat anak.

Sebagai contoh, jika anak ingin menjadi arsitek, ceritakanlah tentang keterkaitan antara tugas-tugas arsitek dengan pelajaran matematika, atau mungkin pelajaran sosial dan sejarah.

3. Kenali gaya belajar anak
Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Sebagian anak suka belajar dengan cara membaca, sebagian lainnya dengan mendengarkan, sementara lainnya lebih suka melalui praktek. Dengan mengenali gaya belajar anak, orang tua akan lebih mudah memodifikasi materi dan sistem belajar agar sesuai dengan kebutuhan anak.

4. Bimbing anak untuk menyusun sistem belajarnya sendiri
Ajak anak untuk memilih perlengkapan belajar, mengatur ruang belajar, serta menetapkan jadwal belajar. Keterlibatan anak dalam penyusunan sistem belajar akan membuat ia lebih semangat dan bertanggung jawab.

5. Buat suasana belajar menyenangkan
Proses belajar anak dapat berlangsung di mana pun, tidak hanya di ruang belajar saja. Orang tua dapat mengajak anak ke museum untuk belajar sejarah, ke kebun binatang untuk belajar tentang flora dan fauna, atau ke pusat-pusat edukasi ramah anak lainnya.

6. Hargai proses belajar, hindari terlalu fokus pada prestasi
Banyak orang tua yang tidak sadar bahwa ekspresi kekecewaan mereka ketika anak menunjukkan nilai ujian merupakan hal yang menyakitkan bagi anak. Anak akan menganggap dirinya tidak mampu dan tidak menghargai usahanya sendiri.

Orang tua perlu memberi penghargaan saat anak menunjukkan ketertarikan dan kemajuan dalam proses belajar, sekecil apa pun. Penghargaan terhadap proses belajar, bukan pada hasil, dapat membangun iklim belajar menyenangkan bagi anak.

7. Jadi role model
Dalam proses belajar, anak membutuhkan teladan dari orang tuanya. Saat memasuki waktu belajar, orang tua perlu membangun iklim belajar di dalam rumah. Orang tua dapat mendampingi anak belajar atau berada di dekatnya sambil membaca buku dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kantor.

Jika saat anak belajar, orang tua justru bermain gadget atau menonton televisi, anak akan menganggap belajar sebagai suatu kewajiban yang membuat ia dijauhkan dari kegiatan menyenangkan seperti yang dilakukan orang tuanya.

Pada dasarnya, setiap anak adalah pribadi yang unik. Orang tua perlu mengenali dan memahami dulu karakter anak agar dapat mendampingi proses belajarnya dengan optimal. Yang terpenting, orang tua perlu mendorong anak untuk belajar karena kebutuhan, bukan karena suatu keharusan.

Ditulis oleh:

Arfilla Ahad Dori, M.Psi, Psikolog
(Psikolog Pendidikan)

Sumber:Alodokter.com
#Atmago #WargaBantuWarga
Sudah dilihat 68 kali

Komentar