Tes Keperawanan Dalam Pandangan Medis

1 February 2019, 19:08 WIB
5 0 301
Gambar untuk Tes Keperawanan Dalam Pandangan Medis
Assalamualaikum Atmaguys, selamat menghirup udara weekend ya haha. Sesuai janji kemarin bahwa saya akan berbagi mengenai sex education, hari ini saya akan berbagi topik mengenai keperawanan dalam pandangan medis. Kenapa saya bahas keperawanan dulu daripada penyimpangan seksual? Well, masyarakat kita ini ternyata banyak sekali yang masih salah kaprah mengenai keperawanan. Masih ada sebagian masyarakat mengaitkan keperawanan dengan keutuhan selaput dara (hymen). Nanti setelah ini baru kita akan masuk ke topik penyimpangan seksual ya hehe.

Pemeriksaan keperawanan ini dilakukan di banyak negara di dunia sebelum seorang perempuan menikah. Termasuk di Indonesia. Di Indonesia, tes keperawanan menjadi salah satu tes wajib saat rekrutmen polisi wanita. Tes kesehatan tersebut bertujuan untuk mempersiapakan para calon anggota untuk menjadi personil Polri yang handal nantinya. 

Istilah perawan secara umum dikaitkan erat dengan adanya selaput dara yang utuh pada perempuan yang bersangkutan. Selaput dara atau dalam dunia medis disebut hymen adalah membran atau selaput yang terletak di pembukaan vagina atau bagian tepi bawah vagina.

Selaput dara dapat tipis atau tebal. Ketika seseorang melakukan hubungan seks, masuknya penis ke dalam liang vagina dapat merobek selaput dara. Hal ini yang kemudian dalam masyarakat dikenal dengan hilangnya keperawanan. Akan tetapi, sebuah penelitian menyebutkan bahwa tidak semua perempuan dilahirkan dengan selaput dara. Pada kasus seperti ini tentunya definisi perawan tidak dapat ditentukan berdasarkan ada atau tidak selaput dara.

Selain itu, ada juga penelitian yang menemukan bahwa selaput dara seorang perempuan dapat robek akibat aktivitas yang tidak terkait dengan hubungan seks seperti olahraga berkuda atau kecelakaan yang mengakibatkan cedera di daerah pinggul. Melihat hal ini, definisi perawan berdasarkan intaknya selaput dara tentu menjadi dipertanyakan konteksnya sebab tidak selalu robeknya selaput dara tersebut disebabkan oleh adanya aktivitas seksual.

Bagaimana bentuk keperawanan terpantau dari aspek medis?

Secara struktur, selaput dara perempuan seringkali dianggap sebagai selaput yang utuh tidak berlubang yang terletak di mulut vagina perempuan. Padahal struktur selaput dara sebenarnya sangat variatif dan karena letaknya yang agak masuk ke dalam vagina, seringali tidak terlihat dari luar. Oleh sebab itu, untuk melihat adanya selaput dara, bibir vagina atau di dunia medis disebut sebagai vulva harus dibuka dan juga dapat dilakukan pemeriksaan dalam.  

Sayangnya, karena salah kaprah, banyak perempuan harus direndahkan lantaran masalah keperawanan. Meski WHO telah mengategorikan tes keperawanan sebagai perilaku kekerasan, beberapa negara seperti Afghanistan dan Iran jamak melakukan tes keperawanan pada anak-anak perempuan mereka.

Tes ini umumnya dilakukan oleh tenaga profesional dengan memeriksa selaput dara atau lipatan kulit tipis yang terletak ½ inci pada sebagian besar vagina perempuan.

“Jika ada dokter yang berani mengklaim selaput dara koyak sebagai tanda ketidakperawanan, maka ilmunya patut dipertanyakan karena itu merupakan pembunuhan karakter kepada pasien,” kata dr. Robbi dilansir dari Tirto.id

Dokter tak seharusnya setuju adanya pemeriksaan tersebut, seperti dilansir Reuters. Pasalnya ada tiga hal dalam etika profesi yang dilanggar, yakni melindungi kesejahteraan pasien, menghormati kedaulatan tumbuh perempuan, dan mendukung keadilan, demikian ditulis kelompok ahli etika dalam jurnal The Lancet.

“Tes keperawanan tidak melindungi dan mendukung kesehatan pasien perempuan. Karenanya tes keperawanan sangat tak kompatibel dengan tiga prinsip etika profesional obstetri dan ginekologi,” kata Laurence McCullough, peneliti kebijakan etika dan kesehatan di Baylor College of Medicine di Houston, AS, sekaligus co-author esai tersebut. 

Tes keperawanan bisa menyakitkan dan membuat perempuan merasa dipermalukan atau direndahkan, ujar McCullough menambahkan lewat email.

"Tak ada manfaat kebersihan klinis dan risiko pencegahan dari bahaya biopsikososial,” ujar McCullough.

Dalam tes tersebut, yang kerap disebut tes “dua jari”, dokter melakukan pemeriksaan dalam vagina untuk merasakan adanya selaput dara, membran tipis yang dipercaya beberapa budaya akan tetap utuh hingga perempuan melakukan hubungan seksual.

Laman Physician for Human Rights (PHS), organisasi yang melakukan advokasi kesehatan pada pekerja menyatakan tak ada korelasi antara selaput dara dengan keperawanan. Singkatnya, pemeriksaan selaput dara dengan tujuan mengetahui "keperawanan" tidak memiliki nilai klinis.

Dilansir laman Palo Alto Medical Foundation, keperawanan atau virginitas berasal dari kata Yunani dan Latin “Virgo,” yang berarti gadis. Kata itu sering digunakan dalam mitologi Yunani untuk mengklasifikasikan beberapa dewi seperti Artemis dan Hestia yang kebal terhadap rayuan Dionysus, sang dewa perayu Yunani. 

Artemis merupakan dewi perlindungan dalam persalinan, melindungi anak kecil, dan hewan liar. Sementara Hestia adalah dewi perlambang perapian dan keluarga. “Virgin” adalah label kekuatan dan kemandirian yang digunakan untuk menggambarkan dewi-dewi tersebut.

Di lain pihak, karena adanya harapan yang ditetapkan pada seorang perempuan untuk memiliki selaput dara saat menikah, saat ini tersedia sebuah prosedur operasi yang bertujuan mengembalikan kondisi selaput dara hingga kembali intak. Tindakan untuk merestorasi selaput dara ini di dunia medis disebut dengan nama hymenoplasty.

Hymenoplasty melibatkan tindakan menimbulkan adanya selaput di dalam liang vagina sehingga terlihat seperti selaput dara yang intak. Apabila dilakukan dengan benar, penampakan selaput buatan ini tidak ada bedanya dengan selaput dara. 

Keperawanan bukanlah masalah anatomi sederhana karena selaput dara sejatinya tidak terlibat dalam keperawanan sama sekali. Laman Medical Services Pacific mendefinisikan perawan sebagai individu yang belum pernah melakukan hubungan seksual. 

Referensi :

https://www.alodokter.com/komunitas/topic/apakah-masih-perawan-2

https://m.klikdokter.com/info-sehat/read/2698636/selaput-dara-dan-tes-keperawanan

https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160117134458-255-104818/langgar-etika-profesi-dokter-boleh-tolak-tes-keperawanan

http://www.pamf.org/teen/sex/virginity/defining.html

https://tirto.id/keperawanan-dalam-dunia-medis-cNcm

  Komentar untuk Tes Keperawanan Dalam Pandangan Medis

Masuk ke akun AtmaGo kamu untuk ikut memberi komentar!

Masuk  atau  Daftar
Jadilah yang pertama memberi komentar!