YBS, Program Kotaku, FBM dan Pemkot Dukung Pengelolaan Sampah Organik Via Tong-Kat-Budidaya Maggot

1 0 321
Gambar untuk YBS, Program Kotaku, FBM dan Pemkot Dukung Pengelolaan Sampah Organik Via Tong-Kat-Budidaya Maggot
PALOPO – Yayasan Bumi Sawerigading (YBS) Palopo gelar diskusi kolaboratif tentang pengelolaan sampah rumah tangga menggunakan metode Tong-Kat dan budidaya larva Black Soldier Fly (BSF), Rabu (4/8/2021) siang.

Kegiatan yang dilaksanakan di Baruga We Cudai YBS tersebut, merupakan kerjasama Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Forum Belajar Mapaccing (FBM) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo.

Ketua YBS Palopo dalam pemaparannya mengungkapkan dimana kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesepahaman bersama terkait tata cara pengelolaan sampah ditingkat rumah tangga.

“Ini merupakan salah satu langkah inovasi guna menekan angka timbulan sampah basah/rumah tangga (Organik) yang kian banyak, dibanding jenis sampah kering (Anorganik) lainnya,” kata Abdul Malik Saleh.

Melalui metode Tong-Kat dianggap menjadi solusi alternatif untuk mengurangi timbulan sampah organik, sekaligus bahan baku budidaya maggot yang merupakan larva yang dihasilkan oleh lalat BSF.

“Hasil diskusi ini nantinya akan lebih memperluas jangkauan sosialisasi termasuk tim fasilitator daari Program Kotaku. Salah satunya kelurahan Dangerakko yan menjadi sasaaran program percontohan,” ungkap Malik.

Sementara itu, dikatakan Askot FIC Korkot 3 Program Kotaku Palopo, Nur Anwar bahwa pihaknya siap dan mendukung penuh inovasi Tong-Kat juga dapat digunakan dimasing-masing wilayah dampingan tim fasilitator Program Kotaku.

“Ini juga menjadi titik fokus kita, bagaimana mengurangi dan mencegah timbulnya permukiman kumuh baru dalam rangka terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Ditambahkan, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kota Palopo, Arham mengusulkan dimana metode tong-Kat, agar fokus menyasar diwilayah para pelaku warung makan, restoran atau pengusaha kuliner lainnya.

“Tentu ini akan sangat membantu mereka, selain dari sisi pengurangan timbulan sampah, juga dari sisi penghasilan sampingan dari hasil budidaya maggot,” ujar Arham.

“Tak hanya itu, melalui langkah strategis ini juga, sekaligus dapat membantu pemerintah dalam hal penanganan sampah di Kota Palopo,” tambahnya.

Lebih jauh, jelaskan Direktur La Pena Institute bahwa langkah awal mencegah timbulan sampah, dengan memberikan edukasi keseluruh lapisan masyarakat ditingkat RT/RW dalam pemilahan sampah organik dan anorganik.

“Sebagai contoh, dimana sampah organik disimpan dalam wadah atau tong bergitupun sebaliknya. Langkah ini untuk menciptakan lingkungan bersih dan sehat,” papar Rustan Santaria.

“Sekaligus juga bertujuan mencapai kesejahteraan lingkungan ketuhanan, sosial budaya dan lingkungan sekitar,” tutupnya.

Sekadar diketahui, siklus hidup BSF terdiri dari larva, larva dewasa, prepupa, pupa dan menjadi lalat dewasa yang berlansung selama 41 hari. Maggot adalah penghasil protein hewani yang tinggi dan memiliki kandungan protein sekitar 41 sampai 42 persen. Hal ini dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak/ikan.

Diskusi kolaboratif ini dilakukan secara Offline yang dihadiri Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Palopo, Muh. Taufik Qurrahman, Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Palopo, Firman Patawari dan Ketua DPC Pospera Palopo dan Tim Fasilitator Program Kotaku.

Sementara via Online menggunakan Microsoft Teams, diikuti FC USAID MADANI Palopo, Rahman Dako, Tenaga Ahli YBS, Abdul Rahman Nur, Badan Pengawas YBS, Muhammad Sahaka dan Staf YBS lainnya.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Bukit Seguntang Adalah Ulu Melayu

  2. Games Sore bersama Mahasiswa Bhayangkara

  3. Hari pertama pelaksanaan ANBK di SDIT BINA INSAN CITA


Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar
  2. 5
    Komentar
  3. 4
    Komentar
  4. 4
    Komentar

    Kehumasan ? Bukan Sekedar Antar Surat