Sinkronkan Isu KIBBL Dengan Dokumen Perencanaan Daerah, Tim Kolaborasi Bedah RPJMD 2021 -2026

0 0 150
Gambar untuk Sinkronkan Isu KIBBL Dengan Dokumen Perencanaan Daerah, Tim Kolaborasi Bedah RPJMD 2021 -2026
Implementasi modeling desa siaga kegawatdaruratan ibu hamil dan bayi baru lahir Program Usaid Madani, selaras dengan arah kebijakan pembangunan kesehatan yang tertuang dalam RPJMD Boyolali tahun 2021 – 2026. Hal itu disampaikan oleh Bayu Sahid, Kabid Pemsosbud BP3D Kabupaten Boyolali dalam FGD dengan tajuk “Membaca Isu Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir dalam Dokumen Perencanaan Kabupaten Boyolali Tahun 2021 – 2026 dan Inisiasi Replikasi Desa Siaga KIBBL” yang digelar pada Selasa (30/11).

“Modeling desa siaga yang bertujuan membangkitkan kepedulian, menumbuhkan kesiapsiagaan warga pada kondisi kegawatdaruratan ibu hamil dan bayi baru lahir di lingkungan terdekatnya akan turut berkontribusi menurunkan angka kematian ibu dan kematian bayi (AKI/AKB) di Kabupaten Boyolali. Hal ini senada dengan target capaian yang tertuang dalam RPJMD” terangnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, salah satu program dan kegiatan tersebut adalah penyediaan layanan kesehatan untuk UKM dan UKP rujukan tingkat kabupaten. Indikator capaian kegiatan tersebut misalnya cakupan ibu bersalin di Fasyankes, cakupan bayi baru lahir yang mendapatkan pelayanan esensial sesuai standard dan cakupan pelayanan standard balita sehat sesuai standard.

“sebenarnya masih banyak lagi program dan kegiatan yang arahnya untuk upaya penurunan AKI/AKB, bahkan di OPD lain diluar Dinas Kesehatan yang mempunyai irisan dn implikasi langsung dengan peningkatan kesehatan ibu hamil dan bayi baru lahir” tambahnya.

Yudi Wijanarko, FC Usaid Madani Boyolali, dalam paparannya menjelaskan bahwa Program kolaborasi para pihak telah memulai implementasi di dua (2) desa modeling dengan membentuk Tim Siaga Ibu Hamil. Dua desa itu adalah Desa Sampetan dan Desa Seboto, Kecamatan Gladagsari.

Menurut Yudi, sinkronisasi program kolaborasi Desa Siaga KIBBL dengan dokumen rencana pembangunan daerah sangat penting. Sebab, program ini perlu direplikasi ke desa-desa lain di Boyolali.
“Sinkronisasi ini juga akan memudahkan para pihak terkait melakukan replikasi program. Program ini baru dijalankan di dua (2) desa pemodelan. Tentu saja, program ini harus direplikasi dan dimplementasikan di desa-desa lain di seluruh Kabupaten Boyolali” katanya.

Sementara, Arina Iswandani, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan mengatakan, setidaknya ada lima point upaya yang dilakukan. Pertama, meningkatkan jumlah kunjungan ANC dari 4 kali menjadi 6 kali dan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan. Kedua, penguatan antenatal, persalinan dan postnatal sesuai standar, penempatan dokter spesialis, ketersediaan UTD/Bank darah RS di kabupaten. Ketiga, Pemberdayaan masyarakat dengan literasi buku KIA, pelaksanaan Posyandu, kelas ibu hamil, program perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dan desa siaga aktif. Keempat, penguatan tata kelola baik tata kelola program, tata kelola klinis dan tata kelola manajemen. Dan kelima, peningkatan peran keluarga dan lintas sektor dalam memantau kesehatan ibu dan bayi baru lahir.

“peningkatan peran keluarga, masyarakat dan lintas pihak ini penting sebab kematian ibu dan bayi baru lahir disebabkan oleh faktor-faktor yang cukup komplek baik klinis maupun non klinis yang membutuhkan intervensi keterlibatan multi pihak” terangnya.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. MALEAN SAMPI

  2. Dewata Kite Festival (Festival Layang-layang Pulau Dewata)


Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar
  2. 2
    Komentar

    Pisang Goreng Mbah Mis

  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar

    RTAR VII PMII Fak.Tarbiyah Lahirkan Nakhoda Baru