Rumah dan Sikap Kita Terhadap Pandemi Covid 19

3 1 313
Gambar untuk Rumah dan Sikap Kita Terhadap Pandemi Covid 19
Ketika kita diminta berdiam di rumah. Saya teringat novel Rumah untuk Tuan Biswas karya VS Naipaul. Bagi yang pernah meniti waktu mengeja novel ini, akan meragukan defenisi rumah yang begitu sederhana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): bangunan untuk tempat tinggal.

Anjuran berdiam di rumah menjadi paradoks bagi sebagian lapisan sosial. Namun, tidak ada pilihan, pandemi Covid-19 melabrak siapa pun. Saya sendiri serasa sudah menjadi Mohun Biswas, atau kita semua dibuat pangling tentang bagaimana mengubah sikap terhadap rumah.

Jaminan perlindungan sosial kita harus diakui mengalami kegamangan. Di situasi normal saja horor sosial sudah cukup menakutkan dan kini pandemi melengkapi ketakutan itu. Takut akan kehilangan anggota keluarga akibat virus mematikan. Seolah virus itu mendahului Izrail, malaikat pencabut nyawa.

Rumah, dalam waktu singkat berubah dari kata benda (tempat tinggal) dan bermetamorfosis menjadi kata sifat dan kerja. #StayatHome, gerakan tagar di lini masa medsos kita menjadi trending topik.

Lalu, bisakah rumah secepat itu melengkapi syarat agar bisa disebut kata sifat dan kerja. Ini berkaitan erat dengan si penghuni rumah. Anak pertama saya yang berusia enam tahun dan masih taman kanak sejak sebulan lalu sudah diliburkan. Oleh gurunya, proses pembelajaran dilakukan lewat daring.

Pengertian almamater yang berarti ibu asuh menemukan kembali makna awalnya. Anak didik kembali ke pangkuan almamaternya. Tidak ada lagi ibu asuh sebagaimana terjalin ketika anak diserahkan ke sekolah.

Rumahku sekolahku, sebuah bentuk protes yang dulu digaungkan para pendidik anti sekolah formal. Kini mewujud sepenuhnya. Hal yang perlu dilakukan sisa memenuhi sebab-sebab agar rumah menjadi kata sifat (nyaman-tenteram) sebab parafrasa: rumahku sekolahku sudah memenuhi unsur kata kerja.

Berdiam di rumah bagi saya, harus dipandang lebih dari anjuran pemerintah memutus siklus peredaran Covid 19. Sebagai orangtua, saya mencoba menerapkan metode pendidikan, yang kira-kira, memadukan kombinasi struktur formal dengan metode yang bisa dijadikan penunjang.

Saya mengajaknya berbuat sesuatu dengan mengajaknya bermain dengan membuat ekobrik. Pembungkus plastik sekali pakai yang didapatkan dari jajan cemilan digunting kecil lalu dimasukkan di botol bekas air kemasan dan nampaknya mereka antusias.

“Bapak, ini untuk apa.”

“Untuk menjaga kebersihan, Nak.”

Ia lalu bangkit mengambil sampah sisa makanan dan hendak dimasukkan juga ke dalam botol.

“Itu tidak perlu, Nak.”

“Kenapa! Ini juga sampah. Tadi Bapak bilang jaga kebersihan.”

“*&$%#@!+_)*(&^%.... Hemm! Kalau sisa masakan dibuang saja di tong sampah. Nanti ada petugas kebersihan yang datang mengambilnya.”

“Hanya sampah plastik bekas pembungkus kerupuk yang bisa,”

“Kenapa!”

“Supaya rumah Tuhan tidak rusak, Nak.”

Pada akhirnya, dialog di atas sangat panjang. Namun, intinya, pertanyaan semacam itu bisa dialihkan ke hal yang bisa menjadi pemicu melakukan hal sederhana dalam bertindak mengurangi dampak ekologis dari produk sampah plastik sekali pakai dari rumah.

Oh iya, judul catatan ini sebenarnya bisa pula diubah menjadi: Pandemi Covid 19 dan Sikap Kita Terhadap Rumah. Tetapi, saya memilih judul yang di atas dengan menempatkan kata ‘rumah’ di depan sebagai penegasan kalau rumah itu abadi yang fana adalah pandemi.

_
#Wargalawancovid19
#MadaniCovid19

  1 Komentar

Tulis komentarmu...

Nawir
Tamu
Mantul tulisannya Firdaus, menginspirasi... Salam literasi dan sehat selalu...👌✍️👍
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. ECO.J, Juara 1 Anugerah Inovasi & Penelitian 2021


Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar
  2. 6
    Komentar

    ECO.J, Juara 1 Anugerah Inovasi & Penelitian 2021

  3. 4
    Komentar
  4. 2
    Komentar