Profesi Boleh Sederhana, Tapi Semangat Luar Biasa

3 0 170
Gambar untuk Profesi Boleh Sederhana, Tapi Semangat Luar Biasa
Guru mengaji, profesi yang hanya di pandang rendah oleh sebagian orang. Namun tidak banyak orang mengira bahwa menjadi seorang guru mengaji adalah pekerjaan yang mulia, tidak hanya di dunia bahkan di akhirat. Itulah profesi yang sampai saat ini masih dijalani Suhairi Abbas. Pemuda yang akrab disapa Heri ini sudah 10 tahun menjadi guru mengaji di sebuah desa terpencil yang ada di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Pekerjaan kecil yang sehari-hari dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab yang besar tidak membuat Suhairi berkecil hati, walaupun dihargai seikhlas hati dan bahkan tak ada yang memberi.

Lelaki kelahiran Batu Bara ini setiap bulannya mendapatkan penghasilan berkisar Rp 300.000.- hingga Rp. 400.000,- Walau dengan gaji yang cukup kecil itu, Suhairi tetap menerimanya dengan penuh rasa syukur. Ia selalu menganggap bahwa “Apabila suatu pekerjaan selalu dijalani dengan ikhlas dan Lillahi Ta’alaa, maka akan menjadi berkah dan bernilai Ibadah disisi-Nya”. Dengan kehadiran Suhairi di Desa tersebut, membuat masyarakat semakin berlomba-lomba ingin memasukkan anak-anaknya menjadi penghafal Al Quran. Walaupun kondisi ekonomi masyarakat sekitar menengah kebawah, tapi semangat juang Suhairi untuk mendidik anak-anak didesa tersebut tak pernah surut dan pantang berputus asa sebelum lahirnya generasi-generasi Islami yang cerdas bersama Al Quran. kondisi ekonomi Suhairi sendiri juga sangat memprihatinkan, namun ia tetap berusaha dengan baik mengatur pengeluaran yang diperlukan, dengan mencari income tambahan selain mengajar mengaji.

Selain karena hatinya yang terpanggil untuk mengajar Al Quran, alasan lain mengapa Suhairi memilih bekerja sebagai guru mengaji adalah, karena sulitnya pekerjaan lain yang sesuai dengan keahlian dan latar belakang pendidikannya yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Sekali lagi Suhairi tetap bersyukur kepada Tuhan, di Kabutapen Batu Bara sendiri tanah kelahirannya juga masih banyak orang yang tidak memiliki pekerjaan, bahkan bergantung hidup dengan orang lain. Pemuda berdarah Batak-Melayu ini tetap merekahkan senyum sembari menjalani pekerjaanya sebagai guru ngaji.

Semua pekerjaan pasti ada hambatannya, hal itu juga sering dialami Suhairi. Menjalani profesi sebagai guru mengaji tidak membuat Suhairi terbebas dari berbagai hambatan dan masalah. Terkadang ada beberapa muridnya yang susah diatur dan tak mendengar apa yang diajarkan olehnya. Padahal itu semua adalah untuk kebaikan murid tersebut dan orang tuanya. Bahkan ada orang tua yang tak terima jika adanya dipukul menggunakan rotan ketika Suhairi menggunakan metode mengajarnya. Dengan senyum khasnya, Suhairi terus bersabar menghadapi segala hambatan yang ia yakini sebagai ujian dalam pekerjaan yang sedang dijalaninya itu.

Jika ada waktu luang, Suhairi menggunakannya dengan sebaik-baiknya untuk mengulang hafalannya. Ia tidak ingin ketinggalan dalam berburu amal untuk bekal di Akhirat kelak. Walau Ia miskin harta di Dunia, Ia tidak ingin miskin di Akhirat. Ia selalu ingin menjalani hari demi hari menjadi semakin lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Di usianya yang ke 25 ini, Suhairi semakin sadar bahwa umur semakin habis dimakan waktu. Kapan lagi banyak-banyak melakukan ibadah, kalau bukan sekarang ? karena mati seseorang hanya Allah yang menentukan.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar