Memuliakan Guru

5 0 100
Gambar untuk Memuliakan Guru
Penulis : Muhammad Suhairi Abbas
( Ketua Umum Forum Da’i dan Ustaz Muda (FODIUM) Batu Bara, Pimpinan Pondok Pesatren Tahfizh Al Mumtaz Batu Bara )

Guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di masjid, musholla, rumah dan sebagainya. Pendidik merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan. Di pundaknya terletak tanggungjawab yang besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan yang telah diciptakan.
Dalam kacamata Islam, guru memiliki tempat istimewa. Baik guru mengaji, guru sekolah, guru kursus, siapapun guru itu, seorang muslim hendaknya memuliakan mereka. Karena ada pahala bagi mereka yang memuliakan para guru. Guru adalah orang yang terpenting sepanjang hidup kita di dunia. Ia menjadi pelita dalam kegelapan. Semua orang berkesempatan menjadi guru. Mulai dari orang tua, ulama, bahkan orang lain yang tidak dikenal namun menunjukkan satu kebaikan, dapat dikatakan sebagai guru. Nabi Muhammad sendiri pun mengaku seorang guru. Seperti diungkapkan dalam sabdanya, “Sungguh aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam kitab Lubab Al Hadits karangan Imam Jalaluddin Al Suyuthi diterangkan bahwa memuliakan guru diganjar surga oleh Allah SWT. Ganjaran ini diberikan pada seorang muslim sebagai bentuk ketakwaannya. Memuliakan guru adalah kewajiban setiap murid atau penuntut ilmu. Memuliakan guru tak kenal batas ruang dan waktu. Baik di sekolah formal maupun non formal, guru pengajian dalam majelis ilmu, di jalan, di rumah, di taman, atau di mana saja. Memuliakan guru juga tidak hanya mengacu pada posisi saat ia masih aktif menjadi guru. Namun, meski guru sudah berhenti atau pindah tugas dari tempat kita belajar, beliau tetap harus dimuliakan. Memuliakan guru sejak kita berguru padanya sampai ajal menjemput kita. Memuliakan guru bukan formalitas belaka, harus tumbuh dari dalam sanubari. Jangan sampai lahir kelihatan hormat, tetapi batinnya melaknat. Penghormatan dan memuliakan guru itu harus berangkat dari hati yang bersih agar berbuah kasih dari Allah SWT.

Suatu ketika Imam Syafi'i pernah tiba-tiba mencium tangan dan memeluk hangat seorang laki-laki tua yang kebetulan bertemu muka dengannya. Tindakan ini jelas mengundang tanya para sahabat dan murid-murid Imam Syafi'i. "Wahai Imam, mengapa engkau mau mencium tangan dan memeluk lelaki tua yang tak dikenal itu? Bukankah masih banyak ulama yang lebih pantas diperlakukan seperti itu dari pada dia?" tanya salah seorang sahabatnya. Dengan lugas, Imam Syafi'i menjawab: "Ia adalah salah seorang guruku. Ia kumuliakan karena pernah suatu hari aku bertanya kepadanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah dewasa. Ia pun menjawab, untuk mengetahuinya dengan melihat apakah anjing itu mengangkat sebelah kakinya ketika hendak kencing. Jika iya, ketahuilah bahwa anjing itu telah berusia dewasa."
Begitu luar biasanya Imam Syafi'i memperlakukan dan memuliakan gurunya. Meski pembelajaran yang ia dapatkan terkesan remeh, tidak membuat mufti besar itu melupakan apalagi meremehkan jasa dari orang tersebut. Ia tetap memperlakukannya dengan mulia, sama seperti ia memperlakukan guru-gurunya yang lain. Tak kalah luar biasanya lagi, adalah Khalifah Ali Bin Abi Thalib dalam hal memuliakan guru. Beliau pernah berkata: "Aku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba."

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 3
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar