Memimpin di atas sesar aktif

4 1 426
Gambar untuk Memimpin di atas sesar aktif
Oleh : Azman Asgar

Bulan depan 28 September, genap dua tahun peringatan bencana sosial akibat pergeseran sesar palu koro yang merobek dataran lembah juga lautan Palu, Donggala, Sigi dan Parimo (Padagimo).

Tumpukan tanah liat yang mengering, puing-puing reruntuhan bangunan masih berserakan, huntara tak berpenghuni mulai dikepung rerumputan liar, semrawut, sesemrawut penanganan bencana yang tak kunjung selesai hingga kini.

4 sampai 6 September lonceng pesta demokrasi lima tahunan sudah dibunyikan, semua gagasan populis di jual murah, tak ada yang bisa membedakan semua gagasan itu terlaksana kecuali konsistensi dan rekam jejak, hanya itu satu-satunya penilaian yang lebih masuk akal.

Banyak pelajaran yang harus di petik dari bencana gempa, likuefaksi dan tsunami dua tahun kemarin, tidak hanya soal kemanusiaan dan ekonomi, tapi tentang peran politik di atas patahan aktif.

Selain mengurai benang kusut kemiskinan, 6 September nanti harus menjadi ajang berlomba merumuskan kebijakan di atas sesar (patahan) aktif yang siap membelah beberapa daratan di Sulawesi Tengah, sebab kita harus lebih jujur mengakui, bahwa daerah kita (bahkan Indonesia) masih krisis pemimpin yang punya "sense of crisis".

Peristiwa 28 September 2018 silam adalah cerminan diri kita, tanpa terkecuali, betapa fakirnya kita dengan ilmu pengetahuan, betapa terbelakangnya kita pada kemajuan peradaban, banyak sejarah kebencanaan tak tersusun rapi, terarsip begitu saja, hanya sebagian kecil yang mencoba mengumpulkan serpihannya, tidak hanya sebagai bukti, tapi menjadi peta kebijakan hari ini bagi kelangsungan hidup generasi mendatang.

Setelah sesar Palu koro bergerak, ada sesar Matano yang kini belum ikut bergeser. 22 Juli 2020 media Tempo. Co memuat informasi dari BMKG tentang aktivitas sesar Matano yang meningkat, pesan seperti ini adalah himbauan kewaspadaan kepada kita semua, untuk lebih siap dan lebih "bersahabat" dengan segala aktifitas gerak bumi.

Kompas edisi 31 Mei 2017 yang di sadur oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sudah memuat potensi bencana besar sesar Palu Koro (2018) oleh Mudrik Rahmawan Daryono, sayangnya kita masih gamang dan gugup dengan riset-riset ilmiah semacam itu, ya begitulah kebiasaan kita memperlakukan ilmu pengetahuan.

Bukan tidak mungkin, sesar Matano juga akan segera bergeser, olehnya sesar ini harus menjadi keseriusan pemimpin daerah ini kedepannya, ada ribuan, bahkan ratusan ribu nyawa warga yang menunggu kebijakan yang tepat di atas sesar aktif. Jika tetap percaya takhayul, anti sains, dan tak punya kepekaan, itu sama saja menjadikan nyawa masyarakat sebagai "anggunan" di atas patahan aktif.

Pilkada 9 Desember bukan sekedar menjadi jalan konstitusional merintis kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tengah, tapi menjadi "pesta" yang membidani pemimpin yang tidak anti sains, responsif, bertanggung jawab, jujur dan punya empati.

Suka ataupun tidak, setuju ataupun tidak, mau tidak mau, Politik selalu menjadi panglima atas segala persoalan, sebab di sana kebijakan itu di susun, disesuaikan dan dikerjakan secara sungguh-sungguh.

Memimpin Sulawesi tengah bukan sekedar memimpin 12 kabupaten dan 1 Kotanya, bukan pula sekedar mengelola SDA secara adil dan memakmurkan banyak orang, selain itu semua, ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni menerima resiko sebagai pemimpin di atas sesar aktif.

9 Desember adalah penentu, mau di bawa kemana kita, mau di konsep seperti apa kita semua yang lahir dan tumbuh besar di atas tanah yang berlumpur kering ini, kata satire kawanku Jefrianto "tanah pece kering".

Tulisan ini tidak hendak menakut-nakuti, tapi sekedar mengingatkan, sebab karakter kita paling suka bersolidaritas tapi cepat melupakan.

Palu, 27 Agustus 2020, 18.08 Wita

  1 Komentar

Tulis komentarmu...

Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar