Jual Beli Online Menurut Islam

4 1 202
Gambar untuk Jual Beli Online Menurut Islam
Berita Agenda Wacana Informasi
Fakultas Syariah
PRESTASI M

Oleh: Novi

Di manapun dunia ini, setiap orang pasti membutuhkan bantuan orang lain baik dalam rangka menyelesaikan kewajibannya maupun menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari. Manusia tidak dapat hidup sendiri, termasuk dalam urusan jual beli, sebuah rutinitas sederhana sehari-hari. Pernah dengar berita seorang penjual membeli barang jualannya sendiri? Kalau tidak hoaks, pasti itu permainan kotor ekonomi.

Sebagai Muslim yang memedomani Alquran dan Hadis-Sunnah Nabi, ternyata urusan jual beli telah diatur Islam untuk kemaslahatan komunitas Muslim. Syarat dan rukun jual beli atau bisnis yang benar menurut aturan Islam disayangkan masih terbatas di kalangan cendekia saja.

Sebelum terlalu jauh, kita semua perlu tahu pengertian jual beli. Secara harfiah, jual beli yang dalam bahasa Arab sepadan kata al-bay’ berarti menjual, menukar, atau mengganti sesuatu dengan sesuatu lain. Dalam istilah ekonomi, jual beli adalah tukar menukar sesuatu yang diinginkan dengan yang sepadan melalui cara tertentu yang bermanfaat (Afandi, 2009: 53).

Jual beli, secara sosial, berhukum sah. Namun, adakalanya naluri keculasan membuat manusia rakus dan merusak hubungan dengan orang lain melalui kecurangan dalam jual beli. Ragamnya banyak, dari mulai mengurangi timbangan, menukar jenis, menjual yang cacat, dan bahkan jualan barang palsu. Di masanya, permainan kecurangan mungkin ‘dianggap’ sebagian orang sebagai kelumrahan hingga pada akhirnya Alquran menegur dan menegaskan bahwa jual beli tidak sama dengan riba (lihat QS 2:275). Yang pertama halal, yang kedua diharamkan Allah.

Allah mengharamkan umat Muslim memakan harta sesama dengan jalan batil seperti mencuri, merampok, merampas, korupsi, dan dengan jalan yang tidak dibenarkan oleh Allah. Jalan perniagaan atau jual beli wajib didasari rasa suka sama suka dan saling menguntungkan (Shobirin, 2015: 243).

Rukun (rukn, bahasa Arab) secara harfiah berarti prinsip awal atau elemen dasar (yang harus dipenuhi). Rukun secara istilah adalah sesuatu yang wajib adanya, mendasar, dan bisa batal keseluruhan satu atau rangkaian kegiatan karena tidak dilaksanakannya suatu rukun. Adapun syarat (syarth, bahasa Arab) adalah prakondisi dan ketentuan. Syarat secara istilah adalah sesuatu yang dengan ketiadaannya mengakibatkan tidak adanya suatu hukum.

Rukun jual beli dalam Islam, lebih tepatnya ‘rumusan’ jumhur ulama, antara lain: (1) adanya penjual dan pembeli, (2) ada akad atau shigat resmi berupa iijaab wa qabuul, (2) ada barang yang akan dibeli, dan (4) ada nilai tukar pengganti barang (Shobirin, 2015:245). Sementara syarat jual beli antara lain: (1) barang yang diperjualbelikan harus suci, (2) kedua pihak yang berakad harus baligh, berakal, dan lebih dari satu orang, (3) barang yang diperjualbelikan harus bermanfaat, berwujud, dan hak milik, serta (4) adanya barang yang diserahkan pada waktu akad.

  1 Komentar

Tulis komentarmu...

Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar