Hoax Pilkada Bisa Menimpa Siapa Saja

5 2 417
Gambar untuk Hoax Pilkada Bisa Menimpa Siapa Saja
Foto : Ilustrasi / istimewa

Media massa adalah alat perantara menyebarkan informasi kepada masyarakat yang juga bersifat mengedukasi. Media berperan penting dalam membangun persepsi masyarakat. Dilansir dari Anual Report 2019, Dewan Pers mendata pada 2018 sedikitnya ada 43.300 media online yang tercatat sebagai media. Yang lolos syarat pendataannya hanya sekitar 211 media.

Di luar itu, semua yang tersebar di media sosial perlu verifikasi kembali kebenarannya. Padahal riset Global Digital Report dari Wearsocial pada 2018 mencatat 50 % penduduk Indonesia menggunakan internet dan aktif di media sosial.

Pimpinan Redaksi Harian Solopos, Hoax Pilkada Bisa Menimpa Siapa Saja Yustiningsih, saat mengisi workshop Jurnalis Warga (JW) Solo, via google meet pada Minggu (4/10/2020) mengatakan bahwa semua orang berpotensi menerima dan menyebarkan hoax. Hoax biasanya bisa berupa broadcast di media sosial, informasi yang di terbitkan di blog, atau website yang tidak jelas.

Termasuk di masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Solo 2020 ini. Rini menghimbau dalam menyerap informasi tidak serta merta ditelan mentah-mentah. Namun, diverifikasi ulang kebenarannya. “Jangan menerima suatu berita dan kejadian sepotong-sepotong, bisa jadi yang kamu lihat salah atau kejadian yang belum lengkap,” kata Rini di sela-sela acara.

Rini menjelaskan paparan hoax di Indonesia sangat tinggi. Kemenkominfo mencatat ada 800.000 situs penyebar hoax. Bentuknya bermacan-macam. Mulai dari untuk lucu-lucuan, sengaja membuat provokasi, partisipanship, mencari uang, propaganda, hingga bagian dari gerakan politik.

Rini kemudian menjelaskan tujuh cara mengenali berita bohong. Termasuk berita yang menyebar saat pesta demokrasi Pilkada Solo nanti. Pertama, mengecek alamat situsnya. Kedua, perhatikan visual. Perhatikan logo atau nama yang kerap meniru situs-situs mainstream. Ketiga, cek Iklan. Biasanya dalam situs banyak iklannya, iklan yang ditayangkan tidak jelas seperti judi online, poker, atau hal yang berbau sensualitas dengan fungsi mendulang pemasukan lewat pemasangan iklan.

Selanjutnya cek cara penulisan judul, alamat redaksi, dan susunan redaksi. Aturan dalam UU NO 40/1999 UU Pers, setiap media harus mencantumkan susunan redaksi, alamat, no telepon, dan email. Jika tidak, diragukan kredibilitasnya. Terakhir, cek situs yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers atau situs mainstream. Kalau tau sudah memastikan bahwa itu berita hoax, laporkan dan jangan disebarluaskan. (Desty Luthfi)


*Tulisan ini adalah karya kolaborasi Jurnalis Warga Solo bersama program PPMN-Respect

  2 Komentar

Tulis komentarmu...

Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar