Godaan koorporasi tambang lebih kencang, Penulis Heandly Mangkali

1 0 504
Gambar untuk Godaan koorporasi tambang lebih kencang, Penulis Heandly Mangkali
21 November 2019

Komunitas Penulis Kreatif Sulawesi Tengah berbagi cerita, kali ini soal kegiatan koorporasi tambang di kabupaten morowali utara.

Mungkin masih terbayang bila kita mau mundur ke belakang, saat perusahaan PT. IMIP masuk di morowali utara. Ada hal yang sangat susah untuk dilupakan, bagaimana nama desa ganda-ganda dikecamatan petasia, begitu top. Hal ini karna waktu itu, saat awal IMIP sebagai perusahaan tambang, mengganti rugi lahan warga. Saat itu masyarakat ganda ganda memborong motor didealer dealer Morowali utara. Bahkan beberapa deaer motor, mengakui sempat kehabisan stok karna pembelian yg melonjak drastis masyarakat desa, yang baru menerima ganti rugi puluhan, bahkan ratusan juta rupiah.

Tak ada keluh saat itu, tak ada yg menolak, semua menjadi sukacita dan bahagia bagi mereka yg menerima ganti rugi. Seperti itu juga warga masyarakat lingkar tambang didanau tiu dan sekitarnya, yang memperoleh ganti rugi. Tak ada teriakan atau pemalangan jalan, yang ada warga ramai menghitung brpa nilai materi yg akan didapat mereka yg bakal memperoleh ganti rugi.

Kini saat ini, danau tiu tercemar dan dampak IMIP juga mulai dirasakan, mulai akses jalan yg rusak dll.
Maka teriakan mulai bermunculan, beberapa pemuda desa bahkan mendorong pertemuan dengan pihak tambang. Waktu itu saya berpikir, mereka dimana dulu saat tambang masuk..??
Apakah perjuangan mereka ini tulus, atau cuma modus untuk mencari peluang juga diperusahaan.
Maka berbagai upaya untuk membuat perusahaan tutup pun dilakukan.

Danau tiu betul tercemar, tapi sikap menolak bahkan menutup tambang dan mengusirnya tidak muncul dari keseluruhan warga. Bahkan ketidakpuasan beberapa orang, selanjutnya menimbulkan perselisihan diantara warga. Dan mendorong yg lain ikut mendesak pihak tambang merealisasikan janjinya berdasarkan kesepakatan ditingkat desa. Benarkah upaya mendesak ini, adalah wujud kepedulian terhadap danau tiu, adalah jalan keluar atau solusi atas pencemaran. Danau tiu harus diselamatkan dengan lebih menekankan solusi yg dilakukan secara bertahap, agar pencemaran tidak semakin berdampak. Atau nilai 363 juta rupiah dan mengejar posisi menjadi karyawan diperusahaan nikel tersebut. Pertanyaan ini mulai terjawab perlahan lahan, dengan sikap yang ditunjukan beberapa pemuda lokal desa, yang mati matian berteriak tolak tambang, usir tambang. Memilih secepatnya memasukan lamaran pekerjaan agar diterima diperusahaan bonafit tersebut. Bahkan sebelumnya, ada aktivis yang minta kepada pemda morut, rekomendasi dijadikan humas diperusahaan tambang. Alangkah miris, picis bagi saya mendengarnya ketika semangat juang itu terpapar oleh rayuan koorporasi. Sehingga kecurigaan awal yang beredar tentang hanya modus saja, mulai terbukti karna tidak konsistennya pejuang didesa. Pemuda desa lebih bermimpi menjadi karyawan perusahaan, dari pada menjaga alamnya sendiri dari kepunahan. Humas perusahaan menerima berkas berkas lamaran, tentu dengan kesimpulan bahwa modus ini selalu digunakan untuk mencapai keinginan. Walaupun ada beberapa orang, yang memang tulus mengharapkan ada solusi dari pencemaran danau tiu. Saya paling miris, ketika orang yang diandalkan justru menjadi "pelacur" dikoorporasi tambang.

Apapun yang akan terjadi, harusnya penekanan pada penyelamatan danau tiu. Pada upaya menjaga danau itu dari pencemaran, bukan lebih dominan pada janji 363 juta dari perusahaan. Jika hal ini tidak dirubah pola berpikirnya,, maka danau tiu akan mengalami masalah dikemudian hari. Karna tidak akan ada yg bisa mengontrol batasan dampak tambang. Dan mulut yang bersuara sudah disumbat oleh posisi dan amplop.

Catatan penulis : Tambang lebih menggoda

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terbaru


Terpopuler


Komentar Terbanyak

  1. 5
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar