Diskusi Daring Transfer Anggaran Berbasis Ekologi Bersama CSO Luwu Utara

3 0 351
Gambar untuk Diskusi Daring Transfer Anggaran Berbasis Ekologi Bersama CSO Luwu Utara
Tak hanya membahas hasil Basic Training Remdec dan Kapasitas Minimal CSO, dalam ‘’Learning Sharing Workshop, Berbagi Pembelajaran bagi Simpul Belajar Lamaranginang Kabupaten Luwu Utara’’ ini juga diperkenalkan Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE). Sesi berlangsung secara daring pada siang hingga sore hari yang dipandu Basri Andang Direktur Eksekutif Perkumpulan Wallacea. Narasumber pada sesi ini, yaitu DR. Syamsu Rijal yang saat ini mejabat Kepala Laboratorium Perencanaan dan Sistem Informasi Kehutanan Universitas Hasanuddin, dan Direktur Eksekutif Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam.

Dalam pengantarnya Basri Andang menceritakan secara singkat terkait penguatan kapasitas yang saat itu difasilitasi oleh REMDEC yang ditunjuk oleh USAID MADANI untuk melakukan penguatan kapasitas bagi mitra utama di 24 kabupaten/kota di Indonesia. Ia berharap hasil dari sharing ini membantu dalam penguatan anggota Simpul Belajar Lamaranginang yang berdiri pada tanggal 23 September 2020 oleh 9 lembaga OMS Luwu Utara dan akan mengawal issu tematik Transparansi Dana Desa.

DR Syamsu Rijal menyampaikan dalam diskusi terbut, karena ini sifatnya sharing, dan mungkin baru awal juga didengar oleh teman-teman yang lainnya, mungkin pada pertemuan awal ini kita perkenalkan saja dulu apa dan bagaimana TAKE ini.

‘’Barangkali yang perlu kita renungkan adalah Luwu Utara sendiri kalau dilihat dari topografinya, kebanyakan hutan, gunung dan sungai. Artinya isu ekologi sangat konteks untuk hal ini terutama pasca banjir,” tegas dosen Unhas yang akrab disapa Pak Jay.

Sementara itu, Direktur Eksekutif IBC Roy Salam menyampaikan, pada tingkat desa, Kemendes punya pembagian yang menarik. Dana desa setiap tahunnya semakin meningkat. Pemerintah pusat membaginya menjadi alokasi dasar, alokasi afirmasi, alokasi volume dan alokasi kinerja. Pemerintah sendiri telah meningkatkan alokasi kinerja, dari awalnya 2 persen menjadi 3 persen, tetapi pembagian anggaran masih konvensional atau tradisional.

Pertanyaan yang cukup menarik dari peserta, adalah bagaimana menyambungkan Transfer Anggaran Provinsi Berbasis Ekologi (TAPE) ini kepada kabupaten dalam skema Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE) dan peluangnya seperti apa? Adakah ruang bagi CSO di tingkat lokal untuk mengawalnya hingga sampai di kabupaten?

Kedua narasumber mengatakan sangat memungkinkan CSO lokal mengawal TAPE ke kabupaten dengan menetapkan beberapa indikator dalam TAPE juga menjadi indikator TAKE. Menurut DR Syamsu Rijal yang penting dilakukan adalah bagaimana mengawal komitmen implementasi program yang diturunkan. Sedangkan, Roy Salam menyarankan di akhir sesi supaya dialog perlu terus dilakukan terkait transfer anggaran ekologi ini. ‘’Kalau desa-desa juga bisa menangkap ini, saya kira menarik dan akan saling menguatkan. Teman-teman bisa mengecek apakah APBDes desa-desa yang punya masalah bencana atau ekologi tapi tidak mengalokasikan dana desanya,’’ ajak Roy kepada peserta anggota Simpul Belajar Lamaranginang memulai mengumpulkan APBDes dan membedahnya.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. Vaksinasi COVID-19 Gandaria City (17-30 Januari 2022)


Komentar Terbanyak

  1. 3
    Komentar
  2. 2
    Komentar
  3. 2
    Komentar
  4. 2
    Komentar