Dari Nama Jalan ke Jalan Cerita

3 0 268
Gambar untuk Dari Nama Jalan ke Jalan Cerita
Gedung tua yang sudah lama sepi itu berangsur ramai di satu malam di tahun 2019. Warga yang datang terpantik memori komunal di masa lalu. Di satu fase dekade 90-an, gedung itu memiliki banyak fungsi. Selain sebagai gedung pertemuan, juga pernah dijadikan ruang olahraga bermain badminton. Dan, tentu saja, warga memiliki ingatan kalau gedung tua itu dulunya menjadi tempat memutar film (bioskop).

Malam itu, penonton yang datang berasal dari lapisan generasi berbeda. Satu generasi sudah mengakrabi gedung tua itu sejak lama. Generasi yang lain baru saja memulai penciptaan peristiwa menancapkan satu momen. “Kami tidak mengira bakal seramai itu. Kami hanya menyiapkan sekitar empat ratusan kursi,” kenang Pio yang diungkap kembali dalam Ngorek (Ngobrol di Sekret), program Dialog Tematik Lembaga Demokrasi Celebes (LDC) yang digelar pada Minggu (11/04). “Dialog ini merupakan seri kedua setelah sebelumnya digelar edisi perdana pada 20 Maret lalu” ujar Marlina, Manajer Program LDC.

Komunitas Jalan Cerita (KJC) yang terbentuk pada 2019. Menurut Pio, nama komunitas terinspirasi dari penamaan jalan di kompleks perumahan Tonasa I. “Nama jalan seperti Dahlia, Mawar dan yang lainnya seperti menyimpan cerita tersendiri ditambah cerita lokal yang masih diingat masyarakat,” tuturnya.

Pada mulanya Pio hanya membuat iklan tempat wisata yang coba dikembangkan PT Semen Tonasa di bekas lokasi pabrik dengan mengajak sejumlah anak-anak di kompleks perumahan. “Saya melihat remaja di kompleks perumahan memiliki banyak potensi tetapi tidak ada ruang berkreasi,” ujar Pio.

Dalam perjalanannya kemudian dari proses produksi lahir keakraban yang menjadi modal untuk memulai lagi tahapan produksi. Maka lahirlah film pendek Pattado Ulu yang pemutarannya di gedung tua pada 27 Agustus 2019 itu menjadi magnit yang menarik warga datang menonton.

Warga di Tonasa I menyebutnya sedang mengembalikan sejarah gedung yang dulu memang pernah dijadikan bioskop. Film pendek inilah yang meyakinkan KJC untuk kembali memproduksi karya. Di tahun 2020 digelar kembali nobar di gedung tersebut dengan memutar film Cenning Rara yang kembali mendatangkan banyak penonton.

Selama kurang lebih satu jam, Hamriah yang memandu jalannya dialog mengorek lebih jauh kiprah KJC yang masih belia tetapi mampu menujukkan eksistensinya sebagai ruang bagi pekerja kreatif di Pangkep, utamanya dalam memproduksi film pendek dan musik. Ayu Wulandari, salah satu pemeran dalam film produksi KJC tidak menyangka bakal menjadi bagian cerita di KJC. Saat ini baginya, KJC merupakan ruang untuk saling belajar.

Sebagai pendiri, Pio tak ingin menjadi pusat, karena itulah telah dibangun regenerasi dengan disepekatinya ketua komunitas yang baru dan pembentukan struktur komunitas supaya tata kelola manajemen lebih jelas dan terarah. Menurut Pio, di awal pembentukannya ia kelimpungan karena banyak hal harus diurus. Mulai dari perizinan pemakaian lokasi, membuat skenario, serta pemilihan pemain dan kru.

  Komentar

Tulis komentarmu...

Jadilah yang pertama memberi komentar!
Fitur baru Rekomendasi video

Other Posts

Terkait

Terbaru


Terpopuler

  1. ECO.J, Juara 1 Anugerah Inovasi & Penelitian 2021


Komentar Terbanyak

  1. 7
    Komentar
  2. 6
    Komentar

    ECO.J, Juara 1 Anugerah Inovasi & Penelitian 2021

  3. 4
    Komentar
  4. 2
    Komentar